Rabu, 09 Maret 2016

MALAM YANG DIAM-DIAM TANPA BINTANG


Veryn mulai menceritakan kisahnya dengan gadis yang dia rekomendasikan untuk menjadi subjekku itu. Jari-jarinya yang lentik tiada hentinya mengetuk-ngetuk berdetak, sehingga menimbulkan suara di meja makan kami.

“Dia seorang gadis muda berusia sekitar 21 tahun.”

“Seumuran kita donk?” tanyaku.

“Hmm betul dia anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang di dekat komplek rumahku. Aku pernah melihat dan berbicara dengannya beberapa saat yang lalu, ketika tanpa sengaja bertemu waktu lari pagi di sekitar komplek dekat rumah. Jarak dari rumahku dan dia cuma di sela oleh 4 rumah dan berada pada deretan yang sama.”

“Lalu?” lanjut tanyaku.

“Pada saat itu kami sedang istirahat sejenak di taman bunga, dia duluan yang memulai percakapan, orangnya sopan loo Dee, lemah lembut cuman memang agak aneh.” Kata Veryn dengan tatapan agak keheranan dan bingung waktu berkata itu.

“Aneh di mananya Veer?”

“Iya aneh, masa di tengah-tengah percakapan tentang masalah kampus dia bilang gini.”

 “Indahnya pagi, nahh hidupku ku serahkan diriku seutuhnya padamu, kesadaranku setengah tenggelam di permainan hatimu.”

Aku heran mengapa di tengah-tengah percakapan tiba-tiba penglihatannya terpaku ke arah sebatang pohon besar, lalu berkata seperti itu, aku yang keheranan pun bertanya.

“Kamu kenapa?”

Dia pun menjawab.

“Ahh engga’ apa-apa ko.”

“Engga’ apa-apa tapi ko’ tiba-tiba omonganmu jadi aneh?”

“Dijelaskan juga percuma, kamu ga’ akan mengerti apa yang ku jelasin, karena kamu ga’ bisa ngeliat apa yang ku liat dan ngerasain apa yang ku rasa.”

Aku yang ngerasa sudah ga’ nyaman dengan obrolannya akhirnya putusin untuk pulang duluan dengan alasan mau ngerjain tugas Kode Etik Psikologi, tapi pada waktu  berdiri ada hal yang lebih aneh yang dia bilang.

“Apa tuuhh Ver??” tanyaku.

“Dia bilang begini.”

“Kamu mau pulang duluan?? Tapi hati-hati ada yang nempel di kaki mu.”

“Ahh apaan??” aku lihat di kakiku ga’ ada apa-apa. “Mana, ga’ ada apa-apa”?

Dengan tatapan dan raut wajah kesal aku pun buru-buru jalan pulang ke rumah ninggalin dia yang tersenyum ngeliat ke arahku.

“Tapi, entah kenapa pas aku pulang dari taman bunga dan ngobrol dengan gadis itu. Kaki kananku pegel dan berat banget, rasanya kaya’ terikat dengan beban berat. Awalnya ku kira cuma pegel-pegel biasa karena waktu lari pagi tadi engga’ pemanasan. Setelah mandi, sarapan, santai-santai di ruang keluarga, tidur dan santai-santai lagi di halaman rumah. Sampai malamnya kakiku masih aja pegel, dan rasa pegelnya itu konsisten, ga’ berkurang dan ga’ juga nambah, aku merasa mulai ga’ nyaman dengan ini . Sampai di malam harinya di pukul 20:00 waktu lagi mijit-mijit kaki di ruang tamu yang posisinya langsung berhadapan dengan halaman rumah, tiba-tiba ada suara mesin mobil dan bunyi klakson di depan pintu gerbang rumah, aku mengintip melalui jendela dan ternyata itu mobil Kakek yang baru datang dari Bandung. Walau dengan kaki yang masih ngerasa pegel dan berat aku menghampiri beliau membuka pintu rumah menuju mobil Kakek yang saat itu sudah masuk ke jalan setapak tempat mobil karena sebelumnya pintu gerbangnya sudah di buka oleh supir Ayahku yang saat itu sedang melihat kondisi mobil yang mau digunakan untuk kerja besok. Kakekku pun turun dari mobil, aku mencium tangannya dan mengucap salam.

 “Selamat datang Kakek lama ga’ ketemu Kakek, bagaimana kabarnya, Kakek sehat, Kakek ga’ bareng sama Akang Rendy?”

“Waahh baru datang sudah disuguhi banyak pertanyaan kaya’ begitu he..he..iyaa Kakek sehat dan Kakek tidak mengajak Rendy, Kakek ke sini cuma sekalian mampir dan menginap semalam aja karena habis reunian dengan teman-teman Kakek waktu di bangku kuliah dulu, jadi Rendy ga’ perlu ikut.”

Hal aneh lagi-lagi aku alamin, Kakekku menatapku dengan mata yang keheranan apalagi waktu menatap kaki kananku. Saat pintu gerbang ditutup oleh supir Ayahku, aku melihat di belakang Kakek ada Risa yang sedang berdiri di seberang jalan depan rumahku mengenakan baju tidur putih dengan rambut yang di ikat rapih ke belakang dan senyuman khasnya yang mencurigakan. Aku jadi bertanya-tanya untuk apa dia ada di seberang jalan depan rumahku malam-malam begini mengenakan pakaian tidur lagi. Apa dia mau nginap di rumahku? Ahh tapi ga’ mungkin rumahnya aja lebih besar dan mewah dari rumahku, lagian juga dalam rangka apa dia mau nginap di rumahku. Kami bertiga dengan supir Kakekku berjalan menuju pintu rumah yang masih dalam keadaan terbuka karena aku belum menutupnya waktu menghampiri Kakek tadi sambil memikirkan untuk apa anak aneh itu ada di situ. Saat aku kembali menengok ke belakang untuk melihat posisinya dari sela-sela gagang pintu gerbang, ternyata dia sudah ga’ ada, itu membuatku semakin bertanya-tanya. Tapi, sudahlah buat apa terlalu dipikirin ga’ penting menurutku. Setelah mengucap salam dan di sambut dengan baik oleh Ayah, aku langsung mengantarkan supir Kakekku menuju kamar tamu untuk menaruh barang-barang bawaan atau tepatnya oleh-oleh Kakek buat Nenek yang pada saat itu tidak mendampinginya pergi reuni karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Lalu, setelah itu aku langsung ke ruang keluarga untuk menonton acara televisi di malam itu. Dari ruang keluarga aku mendengar perbincangan Kakek dengan Ayah. Kakekku langsung mengajukan beberapa pertanyaan ke Ayah.Kakekku bertanya, “tadi si Veryn abis main ke mana”?

“Hari, pagi maksud Ayah”? Ayahku balik bertanya.

Kakekku pun berkata lagi, “iyya, sepertinya baru tadi pagi, kau tahu ke mana dia tadi pagi”?

“Kalau tadi pagi dia abis lari pagi Yah di sekitar komplek sini, maksud Ayah sepertinya baru tadi pagi itu apa Yah?”

“Apa di sekitar sini ada pohon besar?”

“Hmm, iyaa ada Yah di sekitar taman bunga komplek ini, pohon beringin besar yang sudah berumur sekitar puluhan tahun. Pohon beringin yang menurut cerita orang-orang sini digunakan untuk menggantung para warga pribumi oleh tentara Belanda, saya juga ga’ tau alasan kenapa pohon itu tidak ditebang ”. Ayahku menjelaskan.

“Ooh, pantas.” Sahut Kakekku.

“Pantas, maksud Ayah apa, dari tadi saya ga’ ngerti pembicaraan Ayah?”  

“Nanti juga kau akan tahu, cepat panggil Veryn kemari”.

“Baik Ayah, Veryn...Veryn...kemari sebentar sayang Kakek kamu ingin bicara dan melihat keadaanmu.”

Dengan kaki yang masih pegal dan berat aku menghampiri Ayah dan Kakek di ruang tamu.

“Ada apa Yah?” Tanya ku.

“Oh ini Kakek ingin melihat keadaanmu, tapi kaki kamu kenapa sayang, ko’ jalannya seperti itu, sakit yaa?”

“Veryn juga ga’ tw nih Yah, sehabis pulang lari pagi tadi tau-tau kaki jadi berat begini.”

“Kamu keseleo kali??” Ayahku menambahkan.

“Bukan”, tegas Kakeku, “Veryn bukan keseleo ataupun salah urat, Himawan”, kata Kakek.

“Lalu kenapa Yah?”.

“Rudy Himawan Kurniansyah...ck, ck, untung saja Ayah datang untuk melihat keadaan kalian. Kamu yang cuma melihat dengan mata fisik mana bisa tau apa yang sedang terjadi dengan kaki kanan Veryn. Dari dulu kan sudah Ayah bilang jangan terlalu menggunakan logika yang masuk akal dalam hidup ini, karena kita bukan hanya makhluk yang tinggal di Bumi ini, kita tinggal dengan makhluk-makhluk lainnya. Termasuk makhluk gaib.”

Ayah ku pun semakin bingung dengan pernyataan yang dilontarkan Kakek.

“Maksud Ayah ada apa dengan kaki kanannya Veryn??”

Kakekku pun menjawab, “coba kamu perhatikan dengan mata bathin kamu, ada anak kecil berlumuran darah dengan kepala tanpa rambut dan mata yang menonjol keluar sedang menempel di kaki kanan Veryn.”

Aku dan Ayah pun terkejut mendengar kata-kata itu dari Kakek. Dengan nada suara yang agak panik, Ayah ku bertanya. “Mengapa bisa seperti itu Yah?”

“Yaa seperti yang kau bilang tadi, mungkin saat Veryn sedang lari pagi dan singgah di taman bunga yang ada di komplek ini ada makhluk dari alam lain yang menyukai Veryn dan ingin mengikutinya.”

“Aaaahh ngaahh, Ayah gimana nihh, Veryn takut.” Teriakku dengan panik dan ketakutan setelah mendengar penjelasan dari Kakek.

“Sudah jangan panik dan nangis begitu, Kakek pasti bisa bantu kamu, kamu turuti saja apa yang dibilang Kakek ke kamu, dan jangan sampai Ibu kamu tau dulu tentang hal ini, karena jika dia tau, dia bisa panik dan tidak tenang memikirkan kamu.”

“Iyya.” Jawabku.

 Akhirnya Kakekku pun memintaku untuk mengambil air wudhu dan Shalat dua rakaat, setelah itu Kakek memintaku untuk mengikutinya membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an di kamar Shalat. Kakekku menyiapkan segelas air untuk dibacakan beberapa do’a dan membasuhkannya ke kaki kananku, mulai dari lutut sampai ujung kaki. Setelah dibasuhkan tiba-tiba mataku langsung ngantuk banget, Kakekku pun meminta Ayahku untuk mengantarkanku ke kamarku untuk beristirahat. Kemudian...Entah mengapa rasanya baru sejenak terlelap, aku langsung terbangun lagi karena rasanya haus banget dan hawanya panas di malam itu, padahal di luar hujan cukup deras. Aku menuju kamar makan untuk mencari minum, tapi rasanya baru sebentar tertidur ko’ keadaan rumah jadi sepi. Aku berpikir mungkin yang lainnya sudah pada tidur, tapi ko’ kenapa semua lampu dan televisi engga’ dimatikan seolah-olah masih ada aktivitas yang dilakukan di dalam rumah. Tapi yaa sudahlah aku ga’ mau ambil pusing, karena rasa haus yang mencekik tenggorokan, aku kemudian mengambil gelas putih jernih yang ada di meja makan dan menuangkan air dari wadahnya. Saat aku minum samar-samar mataku tertuju pada ujung dalam gelas yang sedang ku gunakan untuk minum itu, tiba-tiba di ujung dalam gelas yang aku gunakan untuk minum itu, aku melihat ada wajah dengan satu mata yang sedang melihat ke arah ku dari dalam gelas tersebut.

Aku terkejut dan langsung menjatuhkan gelas itu ke lantai, mataku menatap ke arah gelas yang baru ku jatuhkan tadi. Aku masih melihat wajah yang menyeramkan itu dipecahan gelas tadi, dan pada saat aku alihkan pandangan ke tempat lain. Aku melihat hiasan yang ada di dinding rumahku yang tadinya ada, tiba-tiba menghilang, sehingga dinding rumahku yang berwarna putih itu bersih tanpa hiasan apapun. Hal yang mengejutkan terjadi lagi, karena perlahan-lahan dinding rumahku yang terletak di depan mataku itu muncul tulisan besar dengan warna merah darah yang seperti merembes dari dinding rumahku. Bertuliskan, “berikan aku tempat yang lain.” Petirpun menyambar dengan hebat di malam itu, yang sedang diguyur hujan deras namun hawa yang cukup panas mendampinginya. Aku langsung menghela nafas yang sangat dalam melihat tulisan itu, dan terbangun. Syukurlah ternyata semua yang aku lihat tadi cuma mimpi. Tubuhku dibanjiri keringat dingin saat itu. Aku melihat sekeliling kamarku yang cukup besar dengan jendela yang langsung menghadap ke luar rumah, meja, rak buku dan kaca rias serta lemari baju yang cukup besar di samping meja riasku, dengan tatapan mata yang tajam, ternyata syukurlah itu tadi cuma mimpi. Tapi, saat aku memperhatikan kaca di meja rias, aku melihat bayanganku di kaca rias itu aneh. Aku pun berdiri dan menghampiri meja riasku, aku melihat pantulan bayanganku di kaca rias itu engga’ menghadap ke arahku tapi malah membelakangiku. Aku mulai agak takut dan panik, dan pada saat aku menengok ke sebelah kiriku, tepatnya di atas lemari pakaianku ada sosok anak kecil dengan posisi tertidur dengan kepala tanpa rambut dan berlumuran darah menatapku dan berkata kepadaku “aku hanya mencari ketenangan di dekatmu, tapi mengapa engkau tidak menenangkan ku.” Aku pun teriak saat mendengar itu, tapi ternyata sekali lagi itu cuma mimpi. Aku mulai melihat sekelilingku lagi dengan ketakutan dan panik, lalu tiba-tiba ada suara pintu di ketuk, aku sedikit kaget mendengar bunyi ketukan pintu itu. Dari luar pintu terdengar suara Ayah dan Kakek menanyakan keadaanku di dalam. “Veryn..Veryn, kamu ga’ apa-apa sayang.” Tanya Ayahku.

 Mendengar suara Ayah, perasaanku sedikit lebih tenang. Aku pun turun dari tempat tidur dan berlari menyambar gagang pintu lalu membukanya. Di depan pintu sudah ada Ayah dan Kakek yang sedang berdiri dengan wajah cemas menunggu apa yang terjadi denganku. Kakekku mendekat, menyentuh kepalaku dan bertanya.

“Kamu ga’ apa-apa?” Tanya Kakek.

“Iyya apa yang terjadi Veryn”? Tanya Ayah.

Aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Kakek dan Ayah.

“Veryn mimpi buruk, mimpi tentang anak kecil yang menempel di kaki kanan Veryn.”

Kakek dan Ayahku saling menatap sejenak, lalu Kakekku  mempunyai usul kalau untuk malam ini dan beberapa malam berikutnya untuk sementara aku tidur dengan di temenin Ibuku dulu. Tidak berapa lama setelah Kakek dan Ayahku berdiskusi tentang itu, Ibuku pun datang dengan Adikku. Ibuku dengan nada panik bertanya “Ada apa sayang”??

Ayahku meghampiri dan merangkul bahu Ibuku serta berjalan menjauh untuk menemukan tempat yang tepat untuk berbicara. Mereka menuju bangku yang ada di ruang tamu untuk menceritakan apa yang sedang terjadi denganku, sedangkan Adikku di jaga oleh Kakek. Ada sekitar 10 menit Ayahku bercerita tentang keadaanku pada Ibuku. Aku melihat wajah Ibuku yang terkejut dan sedih mendengar apa yang diceritain Ayahku tentang apa yang terjadi pada diriku. Setelah itu mereka berdua berdiri dan berjalan bersama menujuku.

“Veryn untuk malam ini kamu tidur dengan Ibumu yaa?” kata Ayahku.

“Ii..iyya Ayah”. Jawabku.

“Cherr jaga Veryn yaa, buat dia tenang seperti kamu menenangkanku.” Ibuku pun tersenyum dan berkata.

“Iyya aku akan menjaganya, kamu tolong jaga Erick yaa takut dia juga cemas nanti, kasihan dia kalau tidurnya kurang nyenyak malam ini. Dia kan harus sekolah besok pagi.”

 Ayahku pun menjawab. “Iyya tenang Cherry buah manisku, aku bakal buat Erick tidur dengan nyenyak malam ini, he..he..he.”

Sambil tersenyum Ayahku mencium kening Ibu, dan Kakekku sedikit protes melihat haru biru itu.

“Oi..oi..oi..kalian tidak menganggap Ayah ada di sini yaa, Himawan...Cherry?”

Ayah dan Ibu sedikit kaget dan tertawa kecil mendengar protes dari Kakekku itu, dan akhirnya mereka bertiga dan Adikku yang termenung tidak tau apa-apa ikut tertawa, aku juga sedikit tersenyum melihat candaan mereka di depan aku yang sedang diliputi rasa takut dan kalut ini. Pagi harinya sebelum Kakekku bertolak kembali ke Bandung Kakek bercerita kepadaku dan Ayah, bahwa hal yang aku alami tadi malam ituitu cuma efek dari pindahnya makhluk tersebut ke tempat lain, jadi untuk ke depannya aku ga’ akan merasa pegal dan dihantui lagi. Memang benar sii pas bangun pagi itu kaki ku sudah ga’ pegal dan berat lagi, tapi untuk tidur di malam harinya aku harus ditemani Ibuku lagi, karena masih trauma dengan mimpi buruk itu. Malah aku sampai ga’ masuk beberapa hari dan ga’ ikut praktikum waktu itu. Ada sekitar tiga hari aku tidur dengan Ibuku Dee, karena rasa takut tersebut, di hari ke empat aku sudah mulai agak tenang dan berani tidur sendiri lagi di kamarku. Namun di hari ke lima disaatku ingin tertidur nyenyak di kamarku karena sehabis mengukur hari di kampus, aku dikejutkan lagi dengan suara jeritan yang menakutkan dan mengiris hati.

Hari itu Kamis malam pukul 23.00; Di malam yang berkabut dan dingin, tiba-tiba pecah oleh suara teriakan yang sangat keras disertai tangisan yang menyayat hati, semua orang yang ada di rumahku pada terbangun dan berkumpul di ruang makan. Saling menatap dan bertanya-tanya apa yang terjadi di dekat rumah kami, Ayahku berjalan menuju pintu dan keluar untuk mencari tau apa yang terjadi. Ternyata di luar pun sudah ada banyak orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi di malam itu serta dari mana suara jeritan menyedihkan itu berasal. Pada saat para warga berkumpul dan berdiskusi dengan Ayahku sebagai salah satu aparat penting dan berwenang di daerah itu, tiba-tiba ada suara terikan lagi. Ternyata itu suara Bang Adit tukang nasi goreng yang berjualan di sekeliling komplek rumahku. Dia berteriak ketakutan sampai terjatuh di aspal dingin dan basah malam itu sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah salah satu jendela rumah warga komplek. Warga sekitar situ langsung menuju dan mendekati Bang Adit dan bertanya.

“Ada apa Bang?” Tanya salah satu warga bernama Reza.

Dengan nada ketakutan dan terkejut sambil menunjukkan jari telunjuk tangannya ke arah salah satu jendela Bang Adit berkata.

“I..i..itu.”

Para warga termasuk Ayahku melihat ke arah jendela rumah itu, yang ternyata rumah itu adalah rumah Risa Fathia Apriyanti. Melalui jendela lantai 2 yang tertutup oleh tirai putih para warga melihat ada sosok siluet gadis berambut panjang yang berdiri terpaku menatap apa yang diihat di depannya. Lalu kemudian dia pingsan dan terjatuh. Namun ada hal aneh setelah para warga melihat sosok siluet itu jatuh pingsan, sesaat kemudian para warga melihat sosok siluet gadis berambut panjang itu sudah ada di jendela lantai 3 terlihat sedang mencari sesuatu dan kemudian menghilang. Para warga yang merasa heran dan saling menatap melihat hal ganjil itu, tapi di tengah rasa heran para warga itu. Pak Harry salah seorang warga yang mempunyai sifat tidak kenal basa-basi dan banyak berpikir itu langsung menendang dan mendobrak pintu pagar rumah mewah tersebut.

Duagg..duagg,

“Sampai kapan kalian mau berdiam dan berdiri seperti itu saja, orang di dalam rumah ini butuh pertolongan.” Katanya.

Ayahku pun langsung meminta warga membantu Pak Harry untuk mendobrak pagar mewah dengan tinggi sekitar 2 meter disertai ukiran daun maple itu, beberapa orang lagi berusaha untuk mencari bantuan dan memberi tahu aparat pemerintah di daerah itu. Aku dengar cerita dari Ayahku, setelah berusaha mendobrak pintu gerbang rumah itu, para warga berhasil masuk dan menuju ke pintu utama rumah itu. Pintu utama rumah itu masih tertutup rapat jadi kami terpaksa mendobraknya bersama-sama lagi, setelah di dobrak para warga masuk ke dalam rumah itu. Ayahku merasa bingung karena kenapa pintu dan jendela-jendela masih tertutup dengan rapat seperti biasa seakan-akan tidak terjadi apa-apa, yang rusak hanya bagian engsel dan kunci grendel bekas di dobrak tadi. Sebelum menuju kamar atas di lantai 2 dan 3 tempat asal suara dan bayangan siluet aneh itu para warga terlebih dahulu melewati ruang tamu yang tertata rapih ala Eropa Barat. Perabotan-perabotan mewah berwarna emas dan perak, sofa besar mewah berwarna merah hati, lukisan pemandangan alam pegunungan dan danau dengan bingkai ukiran naga di sekelilingya. Setelah melewati ruang tamu yang penuh dengan barang-barang mewah, para warga mulai memasuki ruang makan dengan meja makan dan kursinya yang masih tertata rapih. Hal itulah yang membuat para warga bingung mengapa keadaan ruang tamu dan ruang makan masih tertata rapih seperti tidak terjadi apa-apa di dalam rumah itu. Mereka pun menuju ke kamar yang ada di lantai 2, saat mereka berada di lantai 2 barulah banyak hal mengerikan yang mereka lihat. Dinding-dinding serta lantai yang berlumuran darah dan ada sesosok mayat pria berusia sekitar 45 tahun, pria itu ternyata adalah Tuan pemilik rumah tersebut bernama Sony Bernardus.

Di tubuhnya penuh dengan luka tusuk benda tajam, dan sebagian tangan kanannya putus seperti kena tebas benda tajam saat ia ingin menepis tebasan benda tersebut, matanya melotot ketakutan dan mulutnya terbuka. Salah satu warga yang bernama Prasojo muntah lalu menjauh dan keluar karena tidak tahan melihat hal itu. Kata Ayahku warga yang bernama Gunawan adalah orang yang pertama kali melihat mayat pemilik rumah itu, tapi ada yang aneh. Kata Ayah ko’ orang ini rasanya cepat sekali, bukannya tadi masih ada di bawah. Di sekitar ruangan dapur dan kamar mandi. Tapi, Ayahku ga’ terlalu fokus pada hal itu, karena rasanya masih ada yang harus diliat lagi di rumah itu. Lalu bersama para warga mulai mencari tahu apa yang terjadi di rumah ini. Para warga yang lain melanjutkan mencari segala sesuatu yang menjadi misteri di rumah itu. Ada 4 kamar besar di lantai 2 itu dengan keadaan  semua pintu tertutup. Akhirnya mereka sepakat untuk berpencar untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, tapi dengan memprioritaskan pintu kamar yang setengah terbuka itu. Sedangkan Ayahku langsung menelpon markasnya untuk meminta bantuan memberitahukan kalau ada kasus pembunuhan di dekat rumahnya.

“Hallo, hallo Thra, ini aku. Kata Ayahku menginformasikan atau lebih tepatnya menelpon teman dekatnya. Aku  mau memberitahukan kalau di komplek rumahku ada kasus pembunuhan dan aku juga sepertinya butuh bantuan medis nih, soalnya untuk jaga-jaga kalau ada yang membutuhkan penanganan medis, okeyy.. tolong cepat yaa.”

Ayahku memutuskan telpon, dan meneruskan pencariannya bersama warga. Sebenarnya Ayahku sudah ga’ mau nerusin ceritanya Dee, tentang hal apa yang terjadi di rumah itu soalnya beliau takut nanti aku jadi paranoid mendengar apa yang terjadi di rumah itu. Tapi aku bersikeras meminta Ayahku untuk menceritakan secara detail apa aja yang terjadi dan dilihat Ayahku pada malam dingin dan berkabut. Malam yang diam-diam tanpa bintang, untuk Risa dan keluarganya itu.

SAJAK TUKANG PARKIR

Teruss...teruuuss...
Awass...
Kiri dikit...
Yaa...
Hajar kiri dikit lagi...
Teruuss...
Pelaan...
Oopp...oopp...
Stop...

Huuuffftt...andai cinta seperti metode parkir. Bisa berenti sebelum mentok

SAJAK SATU WAJAH

Dulu aku selalu butuh waktu sendirian

Seperti Purnama indah yang menatap khusyuk dari kejauhan

Menatap tiap detail dari lekuk wajah dan sikap bijaknya

Hingga tak pernah terpikir aku akan membutuhkannya saat aku menangis

Dan hari-hari terasa seperti saat aku sendiri

Yaitu ketika kau berlalu pergi

Kuhitung tiap waktu dalam hari-hari yang panjang seolah kiamat tak kunjung datang, atau apakah ini kiamat itu?

Dekat, jauh, dimanapun kau berada

Aku percaya bahwa hatimu tidak akan pergi

Aku sedang menunggu dalam gelap

Aku mencari satu wajah

Satu wajah yang aku kenal dan selalu menghiasi ujung mata ini


Aku selalu berharap bahwa kau akan berada di sini sekarang