Senin, 12 Desember 2016

Tes Untuk Mengetahui Seorang Psikopat



Nah, pernah kan melihat cerita2 tentang para pembunuh berantai yang supersadis. Nah, mereka bisa digolongkan sebagai psikopat. Di Amerika, ternyata ada tes yang dikembangkan oleh para psikiater untuk menguji apakah seseorang adalah pembunuh berantai atau bukan. Tes ini konon sukses diujikan pada pembunuh berantai terkenal Ted Bundy (yang konon bahkan bisa lolos dari tes detektor kebohongan,,,hiiiy serem). Nah, ternyata tes2 ini nggak dibeberin untuk umum dan aku hanya berhasil mendapatkan 4 pertanyaan saja dari internet. Ada dua versi jawaban dari tiap pertanyaan, yaitu jawaban yang umumnya akan diberikan oleh orang normal pada umumnya dan ada pula jawaban versi psikopat yang sangat mengerikan.

Siap, 4 pertanyaan itu adalah ....

1. Ada seorang anak yang mendapat hadiah ulang tahun berupa sepeda dan sepatu bola (ada versi yang menyebutkan bola sepak). Namun ia membencinya. Kenapa?

2. Ada dua orang wanita bersaudara, Bertha dan Martha. Suatu hari ibu mereka meninggal dan pada hari pemakamannya, Bertha melihat sesosok pria yang sangat tampan. Ia langsung jatuh cinta pada pemuda itu. Namun ia tak berhasil menemukannya karena tak tahu siapa dia sebenarnya. Nah, pada suatu hari Bertha membunuh saudarinya, Martha. Kenapa?

3. Engkau menginap di lantai 10 sebuah hotel. Suatu malam kau melongok dari balkon dan melihat seorang pembunuh menghabisi korbannya. Sang pembunuh tak sengaja melihatmu. Dari atas kau bisa melihat ia mendekatkan jarinya ke wajahnya dan membuat gesture (gerakan tubuh). Apa yang ia lakukan?

4. Andaikan kau harus membunuh seseorang dan ia sedang bersembunyi di dalam lemari, apa yang akan kau lakukan?

Nah, pikir baik-baik jawaban dari tiap pertanyaan dan cocokkan dengan jawaban versi normal dan jawaban versi psikopat yang akan kuberikan di bawah. Coba kita tes, yang mana jawabanmu, apakah jawabanmu lebih condong ke versi normal atau versi psikopat?

Namun perlu aku peringatkan, jawaban versi psikopat sangatlah mengganggu dan mengerikan. Bahkan menurutku ada baiknya jika kalian tak mengetahuinya sama sekali.

Pikir baik-baik apakah kalian benar-benar ingin mengetahui jawabannya.

Jika kalian benar-benar berani mendengarnya, maka bersiap-siaplah, akan kuberikan jawabannya.

PERTANYAAN 1

Ada seorang anak yang mendapat hadiah ulang tahun berupa sepeda dan sepatu bola (ada versi yang menyebutkan bola sepak). Namun ia membencinya. Kenapa?

JAWABAN VERSI NORMAL

Mungkin ada yang menjawab kalo anak itu adalah perempuan atau lebih simpel lagi karena anak itu memang nggak suka sepeda dan sepak bola.

Namun jawaban versi psikopat itu sangatlah disturbing.

JAWABAN VERSI DIA:
Karena anak itu tak punya kaki (cacat).

PERTANYAAN 2

Ada dua orang wanita bersaudara, Bertha dan Martha. Suatu hari ibu mereka meninggal dan pada hari pemakamannya, Bertha melihat sesosok pria yang sangat tampan. Ia langsung jatuh cinta pada pemuda itu. Namun ia tak berhasil menemukannya karena tak tahu siapa dia sebenarnya. Nah, pada suatu hari Bertha membunuh saudarinya, Martha. Kenapa?

JAWABAN VERSI NORMAL

Mungkin kalian menjawab kalau dua wanita ini mencintai lelaki yang sama (terlibat cinta segitiga) atau Bertha cemburu pada Martha.

Jawaban versi psikopat sangatlah mengerikan.

JAWABAN VERSI DIA



Agar Bertha bisa bertemu lagi dengan pemuda itu di pemakaman saudarinya.

PERTANYAAN 3

Engkau menginap di lantai 10 sebuah hotel. Suatu malam kau melongok dari balkon dan melihat seorang pembunuh menghabisi korbannya. Sang pembunuh tak sengaja melihatmu. Dari atas kau bisa melihat ia mendekatkan jarinya ke wajahnya dan membuat gesture (gerakan tubuh). Apa yang ia lakukan?

JAWABAN VERSI NORMAL

Si pembunuh mendekatkan jarinya ke bibirnya, mengisyaratkan agar kamu tutup mulut dan tidak mengatakan apapun ke polisi.

Jawaban berisi psikopat sangat disturbing, lebih baik kamu tidak membacanya.

JAWABAN VERSI DIA
a sedang menghitung di lantai mana kamu tinggal supaya bisa membunuhmu juga.

PERTANYAAN 4

Andaikan kau harus membunuh seseorang dan ia sedang bersembunyi di dalam lemari, apa yang akan kau lakukan?

JAWABAN VERSI NORMAL
Mungkin kamu akan menolak menjawabnya karena kamu merasa takkan mampu membunuh siapapun (atau mungkin kamu berpikir jika kamu menjawab pertanyaan ini berarti kamu psikopat). Namun kebanyakan orang jika mendengar pertanyaan ini maka jawaban yang langsung tercetus adalah: membuka lemari lalu membunuh orang itu. Tak apa-apa, jika kalian menjawab seperti itu, kalian masih digolongkan normal kok, bukan psikopat.

Sebab jawaban versi psikopat jauh lebih menakutkan.

JAWABAN VERSI DIA
Menunggu hingga orang itu keluar dari lemari, baru membunuhnya.

Nah, para readers...itulah sekilas tes-tes yang digunakan untuk menguji apakah seseorang tergolong psikopat atau bukan. Bisa kan kalian mengetes sendiri (atau teman-teman kalian) kondisi kejiwaan kalian apakah mengkhawatirkan tidak. Jika semua jawaban kalian benar, berarti kalian ada bakat jadi pembunuh berantai.

sumber: http://asalasah.blogspot.com/


LAUT MATI



Malam dingin dan dipenuhi gemuruh angin utara yang disertai hujan lebat mengobrak-abrik ketenangan malam itu. Tiga orang anak hanya bisa bercerita di rumah salah satu anak tentang betapa hebatnya Kakek dari masing-masing mereka.
Ba’da                    : Apa kalian tau tentang Kakek-ku??
Jacky & Baim      : Hmm..tidak..
Ba’da                   : Kata Ayahku, Kakek-ku orang hebat..kalian tau Kaisar Mongol yang kejam bernama Genghis Khan??
Jacky & Baim     : Iyyyaa..tau..
Ba’da                   : Itu Kakek-ku yang membunuhnya..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..hebat kann..
Jacky                   : Cuma itu?? Berarti masih hebatan Kakek-ku, apa kalian tau Adolf Hitler??
Ba’da                   : Iyya aku tau..
Baim                    : Ane tidak tau, soalnya ane belum pernah main sama dia??
Ba’da & Jacky     : ???????
Ba’da                   : Dasar bego, emang dia anak gang..Adolf Hitler itu pemimpin Nazi Jerman, dan kalian harus tau bahwa yang membunuhnya adalah Kakek-ku..ha...ha..ha..
Baim                   : Ouww..gitu…ck ck ck..Kakek kalian semua kalah dengan Kakek-ku...apa kalian tau laut mati???
Ba’da & Jacky     : Hmmm iyya kami tau..
Baim                    : Itu Kakek-ku yang membunuhnya..ha..ha..ha..ha..ha..

Ba’da & Jacky      : ....................................................................................

Di Atas Langit Masih Ada Langit




     Di suatu hari yang panas Pandi sedang berjalan pulang dari tempat organisasinya, ia menganggap organisasi yang ia bentukitu adalah organisasi yang cerdas dan modern di daerah itu. Organisasi kumpulan anak-anak cerdas dan berbakat itu ia namakan Eureka, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “akhirnya aku menemukannya” berawal dari Archimedes yang tanpa sengaja berhasil menemukan dalil berat jenis air.

    Di tengah jalan Pandi bertemu dengan Baim, seorang pemuda yang bisa dibilang cerdas namun pemalas, cenderung urakan dan terlalu santai. Baim pun memulai pembicaraan dengan Pandi yang sombong.

Baim    : Heelllloowww, lemari buku berjalan, abis pulang dari organisasi lelucon itu yaaa???
Pandi   : Bukan urusanmu pecundang..
Baim    : Ouww...ane terkejut..ternyata bisa ngomong juga????
Pandi   : Enyahlah, jangan mengangguku!!!
Baim  : Tidak ada niat buat menganggu, tapi ternyata benar apa yang dibilang orang selama ini yaa...kau ini orang pintar yang sombong, padahal di atas langit masih ada langit loooo...
Pandi   : Berisik, jangan mengkuliahi ku!!!
Baim   : Hmmm..oukey deeh, ngomong-ngomong ente itu katanya tidak bisa ditipu, berinstink tajam, dan pandai menganalisa yaa??? Kalau begitu ane punya peralatan pintar yang bisa untuk menipumu..
Pandi   : Coba saja..di mana peralatan pintarmu itu keluarkan semua???!!!
Baim   : Tunggu dulu, sabar sebentar..semua peralatannya ada di rumah, ane akan ambil dulu sebentar, sekitar 15 menit...
Pandi    : Ouukeyyy..cepat ambil sana pecundang...
Baim    : Baaiiikkk..tunggulah di sini bersama waktu dan aspal ini.

Pandi pun menunggu, 15 menit telah berlalu...30 menit telah berlalu..45 menit telah berlalu dan yang terakhir 60 menit berlalu.. Pandi pun sadar sambil berkata

Pandi   : Sial aku ditipu...


KEPRIBADIAN



Ke-Pri-Ba-Dian, dari sudut pandang psikologi adalah studi empiris yang sangat kompleks dan terus berkembang. Dalam bahasa Inggris, kepribadian disebut personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “persona”, yang berarti topeng. Istilah ini lalu diadopsi oleh orang-orang Roma dan mendapatkan konotasi baru yaitu: “sebagaimana seseorang Nampak dihadapan orang lain”. Konotasi ini seakan-akan menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah diri orang tersebut yang sebenarnya.

Yaa kepribadian seseorang memang sulit untuk dibaca dan diukur, karena salah satu sifat dari kepribadian itu sendiri yang dinamis. Apalagi kalau kita hanya sekilas mengenal dan dekat dengan seseorang, misalnya orang yang terlihat kuat dan tegar dari luar belum tentu dalam dirinya juga seperti itu, malah setelah dekat dan bisa memahaminya bisa jadi dia seorang yang sensitive dan sangat perasa. Dan ada pula yang kebalikannya, orang yang terlihat lemah, layu dan sensitive justru kuat, pantang menyerah dan terkadang licik.

Oleh karena itu sebenarnya yang dapat di ukur adalah bukan dari sisi kepribadian seseorang tapi atribut yang melekat pada seseorang yang berkaitan dengan sifatnya seperti perilaku (rajin, pemalas dll) dan bakat.

Kepribadian seseorang berkembang sebagai respon dari 4 tegangan pokok, yaitu:
1. Proses pertumbuhan fisiologis,
2. Frustasi
3. Konflik
4. Ancaman
     Dari ketegangan-ketegangan inilah sesorang terpaksa mempelajari cara-cara baru untuk mereduksi ketegangan tersebut, sehingga terbentuklah suatu perkembangan kepribadian.

   Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang teori kepribadian dari Pendekatan Tipologis dan “Trait”, siapa tau dari ciri-ciri yang nanti ada yang mewakili diri anda, teman, orang tua, saudara atau mungkin juga seseorang yang sedang anda dambakan.

    Pendekatan tipologis dan “trait” terhadap kepribadian berusaha memisahkan dan memberikan sifat dasar individu yang mengarahkan perilaku sehingga bisa dikelompokkan dalam klasifikasi tertentu. Pendekatan ini memusatkan diri pada kepribadian umum dan lebih banyak berkaitan dengan pendeskripsian kepribadian dan meramalkan perilaku, tetapi kurang memperhatikan segi proses serta perkembangannya.

  Pendekatan tipologis pernah dilakukan oleh Hipocrates (460-377 SM), seorang Bapak Ilmu Kedokteran pada abad IV SM. Ia mendasarkan tipologinya pada cairan-cairan tubuh yang mempengaruhi tempramen seseorang. Ia membagi kepribadian menjadi 4 tipe menurut nam cairan yang mempengaruhinya, yaitu:
a. melankolik dipengaruhi oleh empedu hitam (murung, depresif)
b. sanguinis dipengaruhi oleh darah (gembira, optimistik)
c. kholerik dipengaruhi oleh empedu kuning (mudah marah)
d. phlegmatik dipengaruhi oleh cairan lendir (tenang, lamban, tidak mudah dirangsang).

  Pada tahun 1935 seorang ahli bernama Kretchmer mengemukakan teori kepribadian yang didasarkan pada bentuk tubuh seseorang. Mereka yang berbentuk tubuh gemuk dan bulat digolongkan sebagai Endomorph yaitu orang-orang yang mudah bergaul, periang dan santai. Sedangkan orang-orang yang tinggi kurus digolongkan sebagai Ectomorph yaitu orang yang sangat serius, senang menyendiri, selalu menjaga jarak dengan orang lain dan amat perasa. Kemudian orang-orang yang berbadan tegap dan atletis digolongkan sebagai Mesomorph orang yang agak cerewet, agresif dan sangat aktif secara fisik.

    Pendekatan tipologis yang saat ini banyak digunakan adalah tipologi Introvert-Ekstrovert yang mula-mula dikembangkan oleh Carl Guztav Jung (1875-1961) lalu dilanjutkan oleh H.J. Eyesenck. Jung mengatakan bahwa kepribadian manusia dapat dibagi menjadi 2 kecenderungan extrim berdasarkan reaksi individu terhadap pengalamannya.

     Pada kutub extrim pertama adalah kecenderungan introversi atau introvert yaitu menarik diri dan tenggelam dalam pengalaman-pengalaman batinnya sendiri. Orang yang mempunyai kecenderungan ini biasanya tertutup, tidak terlalu memperhatikan orang lain dan agak pendiam. Orang introvert juga lebih rentan terkena penyakit jiwa, yang disebabkan orang introvert mempunyai daya tamping/daya tahan terhadap rasa/stress yang sangat besar. Namun jika terlalu lama dipendam bisa menumpuk dan menyebabkan gangguan jiwa.

    Kutub extrim yang lain adalah extraversi atau extrovert yaitu membuka diri dalam kontak dengan orang-orang, peristiwa-peristiwa dan benda-benda di sekitarnya. Orang extrovert lebih rentan bunuh diri, karena tipe orang extrovert mudah membaur dan menceritakan semua masalahnya pada orang sekitar, terlebih lagi kelompoknya. Tetapi, jika pada suatu saat orang disekitarnya tidak peduli lagi padanya atau merasa sibuk dengan urusannya masing-masing, maka orang dengan tipe extrovert akan merasa sepi, tidak berharga dan frustasi lalu cenderung lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya.

    Nahhh..anda tipe yang mana, diantara beberapa tipe kepribadian tersebut??...memang sepertinya semua tipe kepribadian tersebut ada dalam diri kita, tapi salah satunya pasti ada yang dominan dalam perilaku kita tergantung dari diri anda sendiri dalam memaknai hidup.

Ø  "Elemen terpenting pada diri kita bukan pada otak. Namun, pada apa yang menuntun otak kita, seperti : kepribadian, hati, kebaikan, dan ide-ide progresif." Fyodor Dostoyevsky (1821-1881)

Referensi

Dwi, R., & Prabowo, H. (1998). Psikologi umum 2, seri diktat kuliah. Jakarta : Universitas   Gunadarma

 




Minggu, 04 Desember 2016

CINTA SATU TUHAN



Fenny menghela napas perlahan. Airmata tak berhenti mengalir di pipinya. Dia menatap Rio disampingnya, mengemudikan mobil dengan amat hati-hati. Mereka harus buru-buru, karena sebentar lagi mungkin acara pemakaman akan segera dimulai.

Fenny tak enak hati meninggalkan abangnya sendirian di rumah sakit, padahal dia sudah berjanji akan datang menemuinya. Namun rencana itu gagal, sebab ada keperluan yang lebih mendesak.
            
“Kamu gak apa-apa kan, yang?” Tanya Rio, cemas.
            
Fenny mengangguk patah-patah. Menunduk. Menatap perutnya yang sudah semakin membesar. Bulan ini sudah tepat sembilan bulan usia kandungannya, dan jika dokter tidak salah prediksi. Dia akan melahirkan sekitar satu atau dua minggu lagi.
            
“Tak apa. Anggit adalah orang baik. Dia pasti bisa memakluminya. Apalagi kamu mengirim Desy untuk menyampaikan pesan kepadanya.”
            
Fenny sekali lagi mengangguk.
            
Menatap takzim pada Rio. Sosok yang awalnya membawa keraguan dan bencana dalam dirinya. Tapi tetap saja, dia tidak bisa meninggalkannya. Padahal tepat dua tahun lalu. Dia sudah berani meninggalkannya. Menata hatinya untuk menjauhi cinta beda keyakinan yang mereka jalani.
~~~~~~~~
Setelah wahyu turun kepada Muhammad. Zainab menyatakan diri beriman kepada agama baru yang dibawa ayahnya itu. Abul Ash tidak berbantah. Ia juga sama sekali tidak menunjukkan permusuhan kepada Muhammad dan beserta para pengikutnya.
            
Meski Abul Ash tetap syirik dan tidak mau menerima Islam. Tetapi cintanya kepada Zainab sama sekali tidak berubah. Ia tetap berlaku baik kepada Zainab. Begitu pula dengan Zainab, ia tetap mencitai Abul Ash dan mengaguminya. Serta tak henti berdo’a kepada Allah agar hatinya diarahkan pada Islam.
            
Tatkala kaum Quraisy Mekkah keluar dalam expedisi Perang Badar, Abul Ash ikut di dalamnya. Bersama mereka ia pongah dan berbulat hati untuk membasmi Islam. Ditinggalkan Zainab di Mekkah dengan pikiran kalut dan hati terbagi. Di satu sisi, ia mencemaskan ayahnya dan para pengikutnya. Disisi lain ia takut suaminya celaka.
            
Perang usai. Takdir terjawab. Umat Islam yang dipimpin Nabi Muhammad SAW menang, sedangkan suaminya selamat, meski ditawan. Legalah hati Zainab sekarang, tau jika ayahnya yang mulia akan memperlakukan para tawanan dengan sangat baik.
            
Satu per satu orang-orang musyrik mengirim utusan untuk menebus keluarganya. Tapi Zainab tidak punya apa-apa selain seuntai kalung pribadi. Kalung hadiah dari ibunya saat dia diserahkan sebagai istri kepada Abul Ash. Zainab tau kalung itu berharga dan tak ternilai harganya. Namun kecintaannya terhadap suami telah memudarkan kenangan indah dibalik kalung itu.
            
Dan kini. Kalung itu ada dihadapan Nabi Muhammad SAW. Beberapa orang kerabat Abul Ash yang sengaja diutus Zainab untuk menebus suaminya datang membawanya. Dan Nabi Muhammad SAW tak pelak lagi segera mengenali kalung itu. Detak jantungnya menjadi lebih cepat, hatinya pedih bagai disayat sembilu, airmata perlahan menitik di pipi beliau.
            
Tiba-tiba, kalung itu memijarkan pelangi kenangan, membawa beliau menyusuri hari-hari penuh cinta yang indah bersama Khadijah. Ya, kalung itu dulu milik Khadijah yang lalu berpindah ke tangan putrinya Zainab.
            
Nabi Muhammad SAW tak ingin mencerabut kenangan indah itu dari hati Zainab. Tetapi beliau juga tak ingin mencabut hak prajurit atas harta ghanimah. Maka diungkapkanlah isi hati beliau kepada mereka dengan tutur kata yang lembut dan memukau. Beliau bersabda tanpa aksen memerintah ataupun mengharuskan.
            
“Kalau tidak keberatan, kalian serahkan kepada Zainab tawanannya berikut kalungnya.”
            
Fenny menatap dalam buku yang sedang dia baca. Belum ada separuh buku, namun rasa sakitnya sudah seperti menusuk ke dalam tulang. Kisah cinta beda keyakinan yang pertama kali terjadi di dunia, justru berawal dari keluarga Nabi Muhammad SAW.
            
Ayah, ibu serta abangnya sedang asik berbincang dan bercengkrama di ruang tengah. Sedangkan dia sedang tenggelam dalam keingintahuannya akan cinta. Bukan sembarang cinta, namun cinta beda agama.
            
Tak terbayang olehnya. Seorang manusia pilihan saja bisa bersedih olehnya apalagi dia yang manusia biasa. Bukan hanya janji kebahagiaan. Lika-liku kesedihan juga sudah terbayang dibenaknya. Bagi sebagian orang bahkan menyebut cinta beda agama seperti orang naik komidi putar. Berasa bergerak melangkah maju, naik dan ke atas, namun nyatanya tidak kemana-mana. Tetap diam di tempat.

Perbedaan memang indah jika sebatas menghormati. Jangan kau paksakan imanmu pada seseorang. Karena hanya ada satu hati untuk satu Tuhan.

HUJAN

~ Tere Liye ~


Untuk kali ini ane mau berbagi tentang kutipan kata-kata indah dalam novel HUJAN, karangan salah satu novelis favorit ane. Tere Liye, yang artinya kalo dalam film Veer Zaara adalah ‘untuknya’.

Sebenarnya banyak kata-kata indah dalam novel-novel Tere Liye. Beliau sungguh sangat jenius merepresentasikan semua uneg-uneg, masalah, kesedihan, kebahagiaan dan emosi lainnya yang secara umum dialami oleh kebanyakan orang ke dalam fokus satu pikiran dan tentunya tulisan.
            
Ane memilih kutipan dari novel HUJAN karena ane ingin berbagi secara spesifik bagi orang yang ingin melepaskan semua kenangan, yang seharusnya justru dipeluk erat-erat. Karena setiap kenangan baik ataupun buruk, juga salah satu bagian dari hidup kita.
            
Berikut beberapa kutipannya, bagi orang yang sedang ingin melupakan kenangan. Namun terkadang juga tersenyum mengingat kenangan itu. Cerita tentang melupakan, cerita kenangan, cerita tentang HUJAN.

1.  Tiga malam lalu dia masih tidur di atas kasur empuk. Ibunya mengecup keningnya, mengingatkan besok sekolah, bilang selamat tidur. Malam ini, dia tidur dalam tenda darurat pengungsian. Cepat sekali semuanya berubah.
2.    Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa.
3.      Lail menatap Esok tanpa berkedip sepanjang cerita. Itu hebat sekali.
4.     Membalas kejamnya takdir dengan membantu oranglain. Mengobati kesedihan dengan berbuat baik.
5.  Mereka hanya duduk bersama selama satu jam, setelah setahun tidak bertemu. Sebentar sekali dibandingkan 365 hari. Tapi bagi Lail, itu lebih dari cukup. Dia sudah sangat senang. Rasa senang yang bisa membuatnya sabar menunggu setahun lagi.
6.   Jangan pernah jatuh cinta saat hujan. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?
7.  Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.
8.  Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.
9.    Tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak adanya kepastian.
10. Hidup ini juga memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari : kapan kita akan berhenti menunggu.
11. Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.
12. Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.
13. Hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah, tapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri.
14.  Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.
15.  Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami. Karena itu juga bagian dari hidupnya.
     
     Jika diantara para sahabat nanti, dikala hujan yang indah seperti bisa melihat kenangan yang indah dengan seseorang di ujung mata. Melihat tatapan matanya, rambutnya, wajahnya, senyumnya serta tingkahnya. Namun kemudian tersadar oleh suara hujan, bahwa itu hanya kenangan. Karena nyatanya tidak ada apa-apa saat itu, yang ada hanya. HUJAN.

    Tak perlu bersedih, walaupun rasanya hati ini bagai disayat sembilu. Apalagi menangis. Terimalah semua kenangan itu, maka dengan menerima kita bisa melupakan. Jangan lepas semua kenangan itu, walaupun menyakitkan. Peluklah erat. Karena kenangan itu juga adalah hidup kita.

MENDAHULUI KEHENDAK ALLAH



Sore itu di hari yang dingin, Baim pergi dengan mengenakan sweater dan menaiki motor. Sudah satu Minggu berada di London, Baim tidak henti-hentinya mencari kantor detektif, karena konon di kota London banyak terdapat detektif cerdas dan hebat, bahkan legenda detektif sehebat Sherlock Holmes juga berasal dari kota ini. Setelah satu Minggu lebih, akhirnya dia menemukan seorang detektif tua keturunan Turki di sebuah Masjid kecil di pinggiran kota. Dia mendapat kabar jika nama detektif itu adalah Khaleed. Dia salah satu detektif ternama internasional yang sudah sangat terkenal dan sudah banyak pula menyelesaikan kasus-kasus intenasional.

Tanpa banyak basa-basi Baim langsung diminta untuk dicarikan seorang gadis dengan ciri-ciri. Berkulit putih, cukup tinggi, langsing, alisnya terlukis asli indah, pokoknya cantik. Bukan hanya rupa dan tubuh tapi juga aqidah dan akhlaknya. Sang detektif muslim itu bingung dan bertanya apakah dia kerabat atau keluarganya yang hilang?

“Bukan.” Jawab Baim.

“Lalu untuk apa ?”

“Untuk aku jadikan istri, karena sudah banyak teman-temanku yang memiliki istri” Jawab Baim lagi dengan polos.

Si detektif tua itu hanya tersenyum dan bilang kepada Baim jika dia tidak bisa membantunya. Sebesar apapun harga yang ditawarkan Baim terhadapnya, detektif itu tetap tidak bisa menolong. Dia malah menasehati Baim jika yang Baim pinta itu adalah kehendak Allah, dan dia tidak bisa mendahuli-Nya. Dia meminta Baim untuk bersabar dan lebih memperbaiki diri agar bisa mendapat yang lebih baik pula serta mempersiapkan diri untuk itu. Karena jika menurut Allah, Baim sudah siap. Jodoh yang baik akan datang dari tempat dan kondisi suasana yang tak terduga dan Allah akan menyatukan mereka dalam hubungan yang Dia ridhoi.
Aamiiin...


Sabtu, 26 November 2016

DESAHAN LINTANG



Di sebuah kamar rumah sakit di sudut kota Solo. Terbaring lemah seorang gadis cantik bernama Lintang. Parasnya amatlah mengagumkan, usianya sekitar enambelas tahun. Dia tersadar, membuka matanya perlahan. Selang infus menusuk dan menggenggam erat punggung tangannya. Lalu di tangan yang satunya lagi, tepatnya di lingkaran pergelangan, diperban amatlah erat dan rapat. Sekilas orang pasti sangatlah miris melihat keadaan Lintang. Dua tangannya sama-sama merasakan rasa sakit. Satu karena jarum infus dan satunya lagi karena perbuatannya memotong urat nadi.
         
Namun baginya. Rasa sakit ini bukanlah seberapa dibanding rasa sakit hatinya dan lelah pikirannya. Satu minggu yang lalu sebelum kejadian ini, dia mendengar dan menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar. Orangtuanya memang sering bertengkar, namun kali ini adalah pertengkaran paling hebat menurutnya. Karena sebelumnya memang ada pertengkaran yang hebat terlebih dahulu.
            
Ayahnya yang bertubuh besar dengan nada kejam menyebut jika ketika menikah dengan ibunya, dia sudah tidak lagi dalam keadaan perawan, dan Lintang bukanlah anaknya. Sungguh sedih dan miris hati Lintang mendengar itu.
            
“Tidak Mas, tidak seperti itu. Kamu berpikir terlalu jauh. Ini hanya masalah sepele.” Ucap ibunya menjelaskan dengan air mata yang berderai.
            
Lintang mengingat kembali kejadian itu. Ketika itu, Lintang yang menatap dari kejauhan hanya bisa terdiam dan meneteskan airmata tanpa bisa berbuat banyak.
            
“Halaah…alasan. Munafik. Sok suci.” Bentak ayahnya.
           
Paaakk…
            
Pertengkaran itu berakhir dengan satu pukulan ke pipi istrinya dan kemudian dia membanting pintu, keluar entah kemana.
            
Seperti itulah. Selalu seperti itu, ayah dan ibunya. Keduanya. Mereka adalah orang yang sukses meniti karir dibidangnya masing-masing. Hingga membiarkan Lintang yang sedari kecil hanya ditemani oleh kemewahan tanpa kasih sayang. Lintang yang selalu kalah melawan kesendirian. Mereka selalu sibuk diluar rumah. Tapi sekalinya dirumah, mereka selalu bertengkar.

Tok..tok..tok..
            
Suara pintu diketuk dari luar. Kedua orangtuanya masuk bersamaan tanpa perlu menunggu aba-aba darinya. Mereka menyapanya. Saling tegur-menegur, bergantian mencium keningnya, menanyakan kabar, membawakan buah, makanan dan minuman kesukaannya dan segala hal yang disukai.
            
Lintang sangat menyukai pemandangan ini. Sangat menyukai jika ayah dan ibunya serta dia saling berkumpul bersama. Saling becanda, tertawa dan melakukan hal-hal yang indah bersama. Harmonis. Tidak ada yang dia inginkan lagi selain hal ini. Terkadang dia merasa heran melihat ada beberapa temannya yang justru menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, terlena oleh kebahagiaan semu diluar rumah.
            
Waktu jenguk pasien habis, ayah dan ibunya kembali pergi. Setelah sebelumnya mereka berpamitan. Saling bergantian memeluk dan mencium kening Lintang. Dia melihat punggung kedua orangtuanya saat keluar kamar. Sungguh amat serasi, Lintang tersenyum melihatnya.
            
Namun ketika pintu ditutup. Maka saat itu juga. Lintang sekali lagi kalah dan lemah melawan kesendirian. Dengan hati-hati meraba berkas jeratan tali yang ada di lehernya, yang tiba-tiba terasa gatal. Itu adalah bekas percobaan bunuh diri pertama saat orangtuanya bertengkar hebat. Airmata mulai mengalir membasahi pipinya, sebisa mungkin dia menahannya namun hatinya terasa makin sakit. Hingga rembesan rasa sakitnya itu keluar dalam bentuk bulir-bulir bening.
            
Lalu dia menatap tangan kirinya. Menatap balutan rapat jahitan yang masih basah. Ini percobaan bunuh diri kedua pada saat orangtuanya bertengkar paling hebat.
            
Semakin dia dalam mengingat semua itu semakin deras pula airmata yang tertumpah. Dia mendesah perlahan. Ahh..apakah harus seperti ini terus agar mereka tidak bertengkar dan memperhatikanku?
********
Huuffhh…Lintang menghela napas, menatap lamat-lamat awan yang menggumpal dari jendela pesawat. Kejadian barusan sudah lama sekali tertinggal di belakang. Sekarang dia adalah seorang Dokter lulusan akademi Jerman. Dia baru saja menyelesaikan pendidikannya dan berniat kembali ke tanah air untuk membantu memajukan negara lewat caranya sendiri.
            
Dia berubah. Penampilannya yang sekarang bukanlah Lintang yang lemah, tapi Lintang yang kuat. Bukan Lintang yang pucat, tapi Lintang yang cantik. Bukan Lintang yang pemurung tapi Lintang yang periang.
            
Sehari sebelum berangkat sekalian mengirim dokumen-dokumen yang dibutuhkan, dia sempat berkomunikasi lewat email. Mengabarkan kepada sahabatnya jika esok dia akan tiba di Jakarta.
            
Seorang sahabat yang sangat penting dan berharga bagi Lintang. Hingga dia rela menyerahkan hidupnya untuk sahabatnya tersebut.
            
Mungkin sahabatnya itu saat ini sedang membaca sepenggal kisahnya.

AINI KECIL MEMBENCI HUJAN



Malam itu. Langit gelap, tertutup awan mendung hampir di setiap penjurunya. Angin bertiup riuh kencang dengan dingin menusuk, diselingi sahut-sahutan petir yang menggelegar. Beberapa menit kemudian turunlah air berkah dari langit. Terkadang hal ini tidaklah disukai oleh sebagian orang, karena dianggap mengganggu aktivitas mereka. Namun tidak dengan kedua pasangan muda ini.

Lihatlah senyum indah mereka ditengah hujan ini. Mereka sedang menunggu kelahiran dari anak pertama mereka. Si pria dengan tabah menemani dalam proses kelahiran. Sedangkan si wanita, walaupun terlihat dalam kondisi yang tidak baik, namun tetap memasang wajah seolah semua akan baik-baik saja.

Proses kelahiran yang sangat sulit. Si wanita mengalami pendarahan yang sangat luar biasa hebat. Namun tim dokter berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan dengan baik proses kelahiran ini. Hingga tidak lama berselang lahirlah bayi perempuan yang sangat cantik, meskipun dengan tangisan yang terdengar sedikit berbeda.

Si pria sudah resmi menjadi sang ayah. Dia terlihat sangat bahagia. Dengan tingkah yang agak terburu-buru, dia langsung melantunkan suara adzan di telinga putri mereka, meskipun dengan agak terbata-bata. Lalu, bayi itu langsung diberikan kepada suster untuk diurus. Karena si pria harus bergegas menemui si wanita yang terbaling lemah.

Dilihatlah jika wanitanya sudah tidak tertolong lagi. Hingga beberapa menit kemudian, karena mengalami pendarahan yang parah, dia menghebuskan nafasnya menghadap Sang Pencipta.
            
“Tolong jaga anak kii..ta.” Pinta si wanita dengan lemah sebelum menutup mata untuk selamanya..
           
Malam itu. Gadis kecil tersebut resmi menjadi yatim.
~~~~~~~~
Empat tahun berselang. Di rumah yang terletak jauh dari keramaian hingar bingar kota. Di sebuah rumah sederhana nan indah, terletak di atas bukit kecil yang hijau. Suasananya sangat ramai, namun terkesan sepi. Dipenuhi oleh orang-orang berbaju hitam yang berlalu lalang. Sanak famili yang datang serta para sahabat dan beberapa orang yang dikenal ikut hadir guna melihat sosok baik itu untuk terakhir kalinya. Yaa…si pria kini telah meninggal dunia. Menyusul kematian si wanita empat tahun yang lalu.

Anaknya yang kini berusia empat tahun belum terlalu mengerti apa yang terjadi. Tidak mengerti jika di hari ini dia sudah resmi menjadi yatim piatu. Dengan memakai kerudung merah warisan ibunya, dia hanya duduk termenung di atas ayunan kayu yang dibuatkan oleh ayahnya, sambil memeluk boneka beruang pink. Boneka yang diberikan oleh ibunya, yang sengaja dibeli ibunya sebelum dia lahir. Berayun-ayun lembut dibawah pohon mangga di halaman depan rumahnya.
            
Dia hanya terdiam tanpa suara menatap redup dengan mata sendunya kepada setiap orang yang datang. Saling bersalaman, memasukan uang ke dalam wadah besar yang atasnya ditutup oleh sehelai selendang. Melihat orang-orang itu duduk takzim menatap ayahnya dan melantunkan beberapa ayat suci atau beberapa do’a serta shalawat.

Sungguh. Walaupun gadis kecil itu tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Namun perlahan airmata menetes membasahi pipinya, membentuk dua parit tipis yang jernih, tertahan sejenak di dagu, membulat. Lalu jatuh membuncah menghujam bumi, yang membuat langit cerah perlahan tertutup oleh awan mendung seketika.
~~~~~~~~
Dua tahun kemudian. Usia gadis kecil itu sudah enam tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang sangat cantik. Kulitnya putih, rambutnya lurus panjang dan agak pirang, matanya bundar, bibirnya tipis, pipinya kemerahan. Dan lihatlah jika dia tersenyum. Subhanallaaah, lesung pipinya sangatlah manis. Namun dibalik semua keindahan itu dia berbeda dengan teman-teman seusianya.
          
Di saat teman-teman seusianya saling bermain dan bercengkrama dengan sesama dan dengan orangtua mereka. Dia hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Duduk termenung ditengah ketidakmengertiannya terhadap hidup. Aini, nama gadis kecil itu. Justru dengan cerdas membenak dalam hati bertanya dimanakah orangtuanya? Mengapa dia ditinggalkan seorang diri?

Tanpa ayah dan ibu ketika dia membuka mata. Ingin rasanya dia berteriak untuk memanggil dan mencari kedua orangtuanya, namun apa daya sekecil apapun suara. Tidak akan ada yang keluar dari tenggorokannya. Karena sejak kecil dia sudah dinyatakan bisu oleh Dokter.

Semua teman seusianya menjauhinya, dan ketika ingin mendapatkan perhatian dari sosok orangtua, dia juga tidak menemukannya. Sungguh malang nasib Aini kecil. Hampir di setiap harinya dia hanya termenung duduk di atas ayunan kayu buatan ayahnya, memeluk boneka beruang pink pemberian ibunya. Tak jarang airmata jatuh menetes di pipinya yang tembem dan kemerahan itu. Ahh..mungkin sudah banyak juga airmatanya yang menetes.
            
Airmata yang membuat langitpun seolah menangis menyaksikannya. Menyaksikan Aini kecil menangis sambil berdo’a mencari wajah Tuhan agar dipertemukan dengan orangtuanya. Dalam balutan hujan ini, di mana pintu-pintu langit terbuka. Aini kecil ingin bertanya langsung pada-Mu, tanpa perantara. Dia mendongakkan kepalanya ke arah langit.
            
Berharap ada guratan atau lukisan kedua orangtuanya di langit sana. Sebentar saja, dia hanya ingin sebentar saja melihat kedua orangtuanya tersenyum kepadanya. Sambil bertanya polos, kapan aku akan berkumpul bersama kalian? Ingin aku terbang ke langit Tuhan untuk menemui kalian disana, namun sayapku masih terlalu kecil.
            
Begitulah yang Aini lakukan ketika dalam kesepian, begitu juga dalam hujan. Aini membenci hujan.

Rabu, 09 Maret 2016

MALAM YANG DIAM-DIAM TANPA BINTANG


Veryn mulai menceritakan kisahnya dengan gadis yang dia rekomendasikan untuk menjadi subjekku itu. Jari-jarinya yang lentik tiada hentinya mengetuk-ngetuk berdetak, sehingga menimbulkan suara di meja makan kami.

“Dia seorang gadis muda berusia sekitar 21 tahun.”

“Seumuran kita donk?” tanyaku.

“Hmm betul dia anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang di dekat komplek rumahku. Aku pernah melihat dan berbicara dengannya beberapa saat yang lalu, ketika tanpa sengaja bertemu waktu lari pagi di sekitar komplek dekat rumah. Jarak dari rumahku dan dia cuma di sela oleh 4 rumah dan berada pada deretan yang sama.”

“Lalu?” lanjut tanyaku.

“Pada saat itu kami sedang istirahat sejenak di taman bunga, dia duluan yang memulai percakapan, orangnya sopan loo Dee, lemah lembut cuman memang agak aneh.” Kata Veryn dengan tatapan agak keheranan dan bingung waktu berkata itu.

“Aneh di mananya Veer?”

“Iya aneh, masa di tengah-tengah percakapan tentang masalah kampus dia bilang gini.”

 “Indahnya pagi, nahh hidupku ku serahkan diriku seutuhnya padamu, kesadaranku setengah tenggelam di permainan hatimu.”

Aku heran mengapa di tengah-tengah percakapan tiba-tiba penglihatannya terpaku ke arah sebatang pohon besar, lalu berkata seperti itu, aku yang keheranan pun bertanya.

“Kamu kenapa?”

Dia pun menjawab.

“Ahh engga’ apa-apa ko.”

“Engga’ apa-apa tapi ko’ tiba-tiba omonganmu jadi aneh?”

“Dijelaskan juga percuma, kamu ga’ akan mengerti apa yang ku jelasin, karena kamu ga’ bisa ngeliat apa yang ku liat dan ngerasain apa yang ku rasa.”

Aku yang ngerasa sudah ga’ nyaman dengan obrolannya akhirnya putusin untuk pulang duluan dengan alasan mau ngerjain tugas Kode Etik Psikologi, tapi pada waktu  berdiri ada hal yang lebih aneh yang dia bilang.

“Apa tuuhh Ver??” tanyaku.

“Dia bilang begini.”

“Kamu mau pulang duluan?? Tapi hati-hati ada yang nempel di kaki mu.”

“Ahh apaan??” aku lihat di kakiku ga’ ada apa-apa. “Mana, ga’ ada apa-apa”?

Dengan tatapan dan raut wajah kesal aku pun buru-buru jalan pulang ke rumah ninggalin dia yang tersenyum ngeliat ke arahku.

“Tapi, entah kenapa pas aku pulang dari taman bunga dan ngobrol dengan gadis itu. Kaki kananku pegel dan berat banget, rasanya kaya’ terikat dengan beban berat. Awalnya ku kira cuma pegel-pegel biasa karena waktu lari pagi tadi engga’ pemanasan. Setelah mandi, sarapan, santai-santai di ruang keluarga, tidur dan santai-santai lagi di halaman rumah. Sampai malamnya kakiku masih aja pegel, dan rasa pegelnya itu konsisten, ga’ berkurang dan ga’ juga nambah, aku merasa mulai ga’ nyaman dengan ini . Sampai di malam harinya di pukul 20:00 waktu lagi mijit-mijit kaki di ruang tamu yang posisinya langsung berhadapan dengan halaman rumah, tiba-tiba ada suara mesin mobil dan bunyi klakson di depan pintu gerbang rumah, aku mengintip melalui jendela dan ternyata itu mobil Kakek yang baru datang dari Bandung. Walau dengan kaki yang masih ngerasa pegel dan berat aku menghampiri beliau membuka pintu rumah menuju mobil Kakek yang saat itu sudah masuk ke jalan setapak tempat mobil karena sebelumnya pintu gerbangnya sudah di buka oleh supir Ayahku yang saat itu sedang melihat kondisi mobil yang mau digunakan untuk kerja besok. Kakekku pun turun dari mobil, aku mencium tangannya dan mengucap salam.

 “Selamat datang Kakek lama ga’ ketemu Kakek, bagaimana kabarnya, Kakek sehat, Kakek ga’ bareng sama Akang Rendy?”

“Waahh baru datang sudah disuguhi banyak pertanyaan kaya’ begitu he..he..iyaa Kakek sehat dan Kakek tidak mengajak Rendy, Kakek ke sini cuma sekalian mampir dan menginap semalam aja karena habis reunian dengan teman-teman Kakek waktu di bangku kuliah dulu, jadi Rendy ga’ perlu ikut.”

Hal aneh lagi-lagi aku alamin, Kakekku menatapku dengan mata yang keheranan apalagi waktu menatap kaki kananku. Saat pintu gerbang ditutup oleh supir Ayahku, aku melihat di belakang Kakek ada Risa yang sedang berdiri di seberang jalan depan rumahku mengenakan baju tidur putih dengan rambut yang di ikat rapih ke belakang dan senyuman khasnya yang mencurigakan. Aku jadi bertanya-tanya untuk apa dia ada di seberang jalan depan rumahku malam-malam begini mengenakan pakaian tidur lagi. Apa dia mau nginap di rumahku? Ahh tapi ga’ mungkin rumahnya aja lebih besar dan mewah dari rumahku, lagian juga dalam rangka apa dia mau nginap di rumahku. Kami bertiga dengan supir Kakekku berjalan menuju pintu rumah yang masih dalam keadaan terbuka karena aku belum menutupnya waktu menghampiri Kakek tadi sambil memikirkan untuk apa anak aneh itu ada di situ. Saat aku kembali menengok ke belakang untuk melihat posisinya dari sela-sela gagang pintu gerbang, ternyata dia sudah ga’ ada, itu membuatku semakin bertanya-tanya. Tapi, sudahlah buat apa terlalu dipikirin ga’ penting menurutku. Setelah mengucap salam dan di sambut dengan baik oleh Ayah, aku langsung mengantarkan supir Kakekku menuju kamar tamu untuk menaruh barang-barang bawaan atau tepatnya oleh-oleh Kakek buat Nenek yang pada saat itu tidak mendampinginya pergi reuni karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Lalu, setelah itu aku langsung ke ruang keluarga untuk menonton acara televisi di malam itu. Dari ruang keluarga aku mendengar perbincangan Kakek dengan Ayah. Kakekku langsung mengajukan beberapa pertanyaan ke Ayah.Kakekku bertanya, “tadi si Veryn abis main ke mana”?

“Hari, pagi maksud Ayah”? Ayahku balik bertanya.

Kakekku pun berkata lagi, “iyya, sepertinya baru tadi pagi, kau tahu ke mana dia tadi pagi”?

“Kalau tadi pagi dia abis lari pagi Yah di sekitar komplek sini, maksud Ayah sepertinya baru tadi pagi itu apa Yah?”

“Apa di sekitar sini ada pohon besar?”

“Hmm, iyaa ada Yah di sekitar taman bunga komplek ini, pohon beringin besar yang sudah berumur sekitar puluhan tahun. Pohon beringin yang menurut cerita orang-orang sini digunakan untuk menggantung para warga pribumi oleh tentara Belanda, saya juga ga’ tau alasan kenapa pohon itu tidak ditebang ”. Ayahku menjelaskan.

“Ooh, pantas.” Sahut Kakekku.

“Pantas, maksud Ayah apa, dari tadi saya ga’ ngerti pembicaraan Ayah?”  

“Nanti juga kau akan tahu, cepat panggil Veryn kemari”.

“Baik Ayah, Veryn...Veryn...kemari sebentar sayang Kakek kamu ingin bicara dan melihat keadaanmu.”

Dengan kaki yang masih pegal dan berat aku menghampiri Ayah dan Kakek di ruang tamu.

“Ada apa Yah?” Tanya ku.

“Oh ini Kakek ingin melihat keadaanmu, tapi kaki kamu kenapa sayang, ko’ jalannya seperti itu, sakit yaa?”

“Veryn juga ga’ tw nih Yah, sehabis pulang lari pagi tadi tau-tau kaki jadi berat begini.”

“Kamu keseleo kali??” Ayahku menambahkan.

“Bukan”, tegas Kakeku, “Veryn bukan keseleo ataupun salah urat, Himawan”, kata Kakek.

“Lalu kenapa Yah?”.

“Rudy Himawan Kurniansyah...ck, ck, untung saja Ayah datang untuk melihat keadaan kalian. Kamu yang cuma melihat dengan mata fisik mana bisa tau apa yang sedang terjadi dengan kaki kanan Veryn. Dari dulu kan sudah Ayah bilang jangan terlalu menggunakan logika yang masuk akal dalam hidup ini, karena kita bukan hanya makhluk yang tinggal di Bumi ini, kita tinggal dengan makhluk-makhluk lainnya. Termasuk makhluk gaib.”

Ayah ku pun semakin bingung dengan pernyataan yang dilontarkan Kakek.

“Maksud Ayah ada apa dengan kaki kanannya Veryn??”

Kakekku pun menjawab, “coba kamu perhatikan dengan mata bathin kamu, ada anak kecil berlumuran darah dengan kepala tanpa rambut dan mata yang menonjol keluar sedang menempel di kaki kanan Veryn.”

Aku dan Ayah pun terkejut mendengar kata-kata itu dari Kakek. Dengan nada suara yang agak panik, Ayah ku bertanya. “Mengapa bisa seperti itu Yah?”

“Yaa seperti yang kau bilang tadi, mungkin saat Veryn sedang lari pagi dan singgah di taman bunga yang ada di komplek ini ada makhluk dari alam lain yang menyukai Veryn dan ingin mengikutinya.”

“Aaaahh ngaahh, Ayah gimana nihh, Veryn takut.” Teriakku dengan panik dan ketakutan setelah mendengar penjelasan dari Kakek.

“Sudah jangan panik dan nangis begitu, Kakek pasti bisa bantu kamu, kamu turuti saja apa yang dibilang Kakek ke kamu, dan jangan sampai Ibu kamu tau dulu tentang hal ini, karena jika dia tau, dia bisa panik dan tidak tenang memikirkan kamu.”

“Iyya.” Jawabku.

 Akhirnya Kakekku pun memintaku untuk mengambil air wudhu dan Shalat dua rakaat, setelah itu Kakek memintaku untuk mengikutinya membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an di kamar Shalat. Kakekku menyiapkan segelas air untuk dibacakan beberapa do’a dan membasuhkannya ke kaki kananku, mulai dari lutut sampai ujung kaki. Setelah dibasuhkan tiba-tiba mataku langsung ngantuk banget, Kakekku pun meminta Ayahku untuk mengantarkanku ke kamarku untuk beristirahat. Kemudian...Entah mengapa rasanya baru sejenak terlelap, aku langsung terbangun lagi karena rasanya haus banget dan hawanya panas di malam itu, padahal di luar hujan cukup deras. Aku menuju kamar makan untuk mencari minum, tapi rasanya baru sebentar tertidur ko’ keadaan rumah jadi sepi. Aku berpikir mungkin yang lainnya sudah pada tidur, tapi ko’ kenapa semua lampu dan televisi engga’ dimatikan seolah-olah masih ada aktivitas yang dilakukan di dalam rumah. Tapi yaa sudahlah aku ga’ mau ambil pusing, karena rasa haus yang mencekik tenggorokan, aku kemudian mengambil gelas putih jernih yang ada di meja makan dan menuangkan air dari wadahnya. Saat aku minum samar-samar mataku tertuju pada ujung dalam gelas yang sedang ku gunakan untuk minum itu, tiba-tiba di ujung dalam gelas yang aku gunakan untuk minum itu, aku melihat ada wajah dengan satu mata yang sedang melihat ke arah ku dari dalam gelas tersebut.

Aku terkejut dan langsung menjatuhkan gelas itu ke lantai, mataku menatap ke arah gelas yang baru ku jatuhkan tadi. Aku masih melihat wajah yang menyeramkan itu dipecahan gelas tadi, dan pada saat aku alihkan pandangan ke tempat lain. Aku melihat hiasan yang ada di dinding rumahku yang tadinya ada, tiba-tiba menghilang, sehingga dinding rumahku yang berwarna putih itu bersih tanpa hiasan apapun. Hal yang mengejutkan terjadi lagi, karena perlahan-lahan dinding rumahku yang terletak di depan mataku itu muncul tulisan besar dengan warna merah darah yang seperti merembes dari dinding rumahku. Bertuliskan, “berikan aku tempat yang lain.” Petirpun menyambar dengan hebat di malam itu, yang sedang diguyur hujan deras namun hawa yang cukup panas mendampinginya. Aku langsung menghela nafas yang sangat dalam melihat tulisan itu, dan terbangun. Syukurlah ternyata semua yang aku lihat tadi cuma mimpi. Tubuhku dibanjiri keringat dingin saat itu. Aku melihat sekeliling kamarku yang cukup besar dengan jendela yang langsung menghadap ke luar rumah, meja, rak buku dan kaca rias serta lemari baju yang cukup besar di samping meja riasku, dengan tatapan mata yang tajam, ternyata syukurlah itu tadi cuma mimpi. Tapi, saat aku memperhatikan kaca di meja rias, aku melihat bayanganku di kaca rias itu aneh. Aku pun berdiri dan menghampiri meja riasku, aku melihat pantulan bayanganku di kaca rias itu engga’ menghadap ke arahku tapi malah membelakangiku. Aku mulai agak takut dan panik, dan pada saat aku menengok ke sebelah kiriku, tepatnya di atas lemari pakaianku ada sosok anak kecil dengan posisi tertidur dengan kepala tanpa rambut dan berlumuran darah menatapku dan berkata kepadaku “aku hanya mencari ketenangan di dekatmu, tapi mengapa engkau tidak menenangkan ku.” Aku pun teriak saat mendengar itu, tapi ternyata sekali lagi itu cuma mimpi. Aku mulai melihat sekelilingku lagi dengan ketakutan dan panik, lalu tiba-tiba ada suara pintu di ketuk, aku sedikit kaget mendengar bunyi ketukan pintu itu. Dari luar pintu terdengar suara Ayah dan Kakek menanyakan keadaanku di dalam. “Veryn..Veryn, kamu ga’ apa-apa sayang.” Tanya Ayahku.

 Mendengar suara Ayah, perasaanku sedikit lebih tenang. Aku pun turun dari tempat tidur dan berlari menyambar gagang pintu lalu membukanya. Di depan pintu sudah ada Ayah dan Kakek yang sedang berdiri dengan wajah cemas menunggu apa yang terjadi denganku. Kakekku mendekat, menyentuh kepalaku dan bertanya.

“Kamu ga’ apa-apa?” Tanya Kakek.

“Iyya apa yang terjadi Veryn”? Tanya Ayah.

Aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Kakek dan Ayah.

“Veryn mimpi buruk, mimpi tentang anak kecil yang menempel di kaki kanan Veryn.”

Kakek dan Ayahku saling menatap sejenak, lalu Kakekku  mempunyai usul kalau untuk malam ini dan beberapa malam berikutnya untuk sementara aku tidur dengan di temenin Ibuku dulu. Tidak berapa lama setelah Kakek dan Ayahku berdiskusi tentang itu, Ibuku pun datang dengan Adikku. Ibuku dengan nada panik bertanya “Ada apa sayang”??

Ayahku meghampiri dan merangkul bahu Ibuku serta berjalan menjauh untuk menemukan tempat yang tepat untuk berbicara. Mereka menuju bangku yang ada di ruang tamu untuk menceritakan apa yang sedang terjadi denganku, sedangkan Adikku di jaga oleh Kakek. Ada sekitar 10 menit Ayahku bercerita tentang keadaanku pada Ibuku. Aku melihat wajah Ibuku yang terkejut dan sedih mendengar apa yang diceritain Ayahku tentang apa yang terjadi pada diriku. Setelah itu mereka berdua berdiri dan berjalan bersama menujuku.

“Veryn untuk malam ini kamu tidur dengan Ibumu yaa?” kata Ayahku.

“Ii..iyya Ayah”. Jawabku.

“Cherr jaga Veryn yaa, buat dia tenang seperti kamu menenangkanku.” Ibuku pun tersenyum dan berkata.

“Iyya aku akan menjaganya, kamu tolong jaga Erick yaa takut dia juga cemas nanti, kasihan dia kalau tidurnya kurang nyenyak malam ini. Dia kan harus sekolah besok pagi.”

 Ayahku pun menjawab. “Iyya tenang Cherry buah manisku, aku bakal buat Erick tidur dengan nyenyak malam ini, he..he..he.”

Sambil tersenyum Ayahku mencium kening Ibu, dan Kakekku sedikit protes melihat haru biru itu.

“Oi..oi..oi..kalian tidak menganggap Ayah ada di sini yaa, Himawan...Cherry?”

Ayah dan Ibu sedikit kaget dan tertawa kecil mendengar protes dari Kakekku itu, dan akhirnya mereka bertiga dan Adikku yang termenung tidak tau apa-apa ikut tertawa, aku juga sedikit tersenyum melihat candaan mereka di depan aku yang sedang diliputi rasa takut dan kalut ini. Pagi harinya sebelum Kakekku bertolak kembali ke Bandung Kakek bercerita kepadaku dan Ayah, bahwa hal yang aku alami tadi malam ituitu cuma efek dari pindahnya makhluk tersebut ke tempat lain, jadi untuk ke depannya aku ga’ akan merasa pegal dan dihantui lagi. Memang benar sii pas bangun pagi itu kaki ku sudah ga’ pegal dan berat lagi, tapi untuk tidur di malam harinya aku harus ditemani Ibuku lagi, karena masih trauma dengan mimpi buruk itu. Malah aku sampai ga’ masuk beberapa hari dan ga’ ikut praktikum waktu itu. Ada sekitar tiga hari aku tidur dengan Ibuku Dee, karena rasa takut tersebut, di hari ke empat aku sudah mulai agak tenang dan berani tidur sendiri lagi di kamarku. Namun di hari ke lima disaatku ingin tertidur nyenyak di kamarku karena sehabis mengukur hari di kampus, aku dikejutkan lagi dengan suara jeritan yang menakutkan dan mengiris hati.

Hari itu Kamis malam pukul 23.00; Di malam yang berkabut dan dingin, tiba-tiba pecah oleh suara teriakan yang sangat keras disertai tangisan yang menyayat hati, semua orang yang ada di rumahku pada terbangun dan berkumpul di ruang makan. Saling menatap dan bertanya-tanya apa yang terjadi di dekat rumah kami, Ayahku berjalan menuju pintu dan keluar untuk mencari tau apa yang terjadi. Ternyata di luar pun sudah ada banyak orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi di malam itu serta dari mana suara jeritan menyedihkan itu berasal. Pada saat para warga berkumpul dan berdiskusi dengan Ayahku sebagai salah satu aparat penting dan berwenang di daerah itu, tiba-tiba ada suara terikan lagi. Ternyata itu suara Bang Adit tukang nasi goreng yang berjualan di sekeliling komplek rumahku. Dia berteriak ketakutan sampai terjatuh di aspal dingin dan basah malam itu sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah salah satu jendela rumah warga komplek. Warga sekitar situ langsung menuju dan mendekati Bang Adit dan bertanya.

“Ada apa Bang?” Tanya salah satu warga bernama Reza.

Dengan nada ketakutan dan terkejut sambil menunjukkan jari telunjuk tangannya ke arah salah satu jendela Bang Adit berkata.

“I..i..itu.”

Para warga termasuk Ayahku melihat ke arah jendela rumah itu, yang ternyata rumah itu adalah rumah Risa Fathia Apriyanti. Melalui jendela lantai 2 yang tertutup oleh tirai putih para warga melihat ada sosok siluet gadis berambut panjang yang berdiri terpaku menatap apa yang diihat di depannya. Lalu kemudian dia pingsan dan terjatuh. Namun ada hal aneh setelah para warga melihat sosok siluet itu jatuh pingsan, sesaat kemudian para warga melihat sosok siluet gadis berambut panjang itu sudah ada di jendela lantai 3 terlihat sedang mencari sesuatu dan kemudian menghilang. Para warga yang merasa heran dan saling menatap melihat hal ganjil itu, tapi di tengah rasa heran para warga itu. Pak Harry salah seorang warga yang mempunyai sifat tidak kenal basa-basi dan banyak berpikir itu langsung menendang dan mendobrak pintu pagar rumah mewah tersebut.

Duagg..duagg,

“Sampai kapan kalian mau berdiam dan berdiri seperti itu saja, orang di dalam rumah ini butuh pertolongan.” Katanya.

Ayahku pun langsung meminta warga membantu Pak Harry untuk mendobrak pagar mewah dengan tinggi sekitar 2 meter disertai ukiran daun maple itu, beberapa orang lagi berusaha untuk mencari bantuan dan memberi tahu aparat pemerintah di daerah itu. Aku dengar cerita dari Ayahku, setelah berusaha mendobrak pintu gerbang rumah itu, para warga berhasil masuk dan menuju ke pintu utama rumah itu. Pintu utama rumah itu masih tertutup rapat jadi kami terpaksa mendobraknya bersama-sama lagi, setelah di dobrak para warga masuk ke dalam rumah itu. Ayahku merasa bingung karena kenapa pintu dan jendela-jendela masih tertutup dengan rapat seperti biasa seakan-akan tidak terjadi apa-apa, yang rusak hanya bagian engsel dan kunci grendel bekas di dobrak tadi. Sebelum menuju kamar atas di lantai 2 dan 3 tempat asal suara dan bayangan siluet aneh itu para warga terlebih dahulu melewati ruang tamu yang tertata rapih ala Eropa Barat. Perabotan-perabotan mewah berwarna emas dan perak, sofa besar mewah berwarna merah hati, lukisan pemandangan alam pegunungan dan danau dengan bingkai ukiran naga di sekelilingya. Setelah melewati ruang tamu yang penuh dengan barang-barang mewah, para warga mulai memasuki ruang makan dengan meja makan dan kursinya yang masih tertata rapih. Hal itulah yang membuat para warga bingung mengapa keadaan ruang tamu dan ruang makan masih tertata rapih seperti tidak terjadi apa-apa di dalam rumah itu. Mereka pun menuju ke kamar yang ada di lantai 2, saat mereka berada di lantai 2 barulah banyak hal mengerikan yang mereka lihat. Dinding-dinding serta lantai yang berlumuran darah dan ada sesosok mayat pria berusia sekitar 45 tahun, pria itu ternyata adalah Tuan pemilik rumah tersebut bernama Sony Bernardus.

Di tubuhnya penuh dengan luka tusuk benda tajam, dan sebagian tangan kanannya putus seperti kena tebas benda tajam saat ia ingin menepis tebasan benda tersebut, matanya melotot ketakutan dan mulutnya terbuka. Salah satu warga yang bernama Prasojo muntah lalu menjauh dan keluar karena tidak tahan melihat hal itu. Kata Ayahku warga yang bernama Gunawan adalah orang yang pertama kali melihat mayat pemilik rumah itu, tapi ada yang aneh. Kata Ayah ko’ orang ini rasanya cepat sekali, bukannya tadi masih ada di bawah. Di sekitar ruangan dapur dan kamar mandi. Tapi, Ayahku ga’ terlalu fokus pada hal itu, karena rasanya masih ada yang harus diliat lagi di rumah itu. Lalu bersama para warga mulai mencari tahu apa yang terjadi di rumah ini. Para warga yang lain melanjutkan mencari segala sesuatu yang menjadi misteri di rumah itu. Ada 4 kamar besar di lantai 2 itu dengan keadaan  semua pintu tertutup. Akhirnya mereka sepakat untuk berpencar untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, tapi dengan memprioritaskan pintu kamar yang setengah terbuka itu. Sedangkan Ayahku langsung menelpon markasnya untuk meminta bantuan memberitahukan kalau ada kasus pembunuhan di dekat rumahnya.

“Hallo, hallo Thra, ini aku. Kata Ayahku menginformasikan atau lebih tepatnya menelpon teman dekatnya. Aku  mau memberitahukan kalau di komplek rumahku ada kasus pembunuhan dan aku juga sepertinya butuh bantuan medis nih, soalnya untuk jaga-jaga kalau ada yang membutuhkan penanganan medis, okeyy.. tolong cepat yaa.”

Ayahku memutuskan telpon, dan meneruskan pencariannya bersama warga. Sebenarnya Ayahku sudah ga’ mau nerusin ceritanya Dee, tentang hal apa yang terjadi di rumah itu soalnya beliau takut nanti aku jadi paranoid mendengar apa yang terjadi di rumah itu. Tapi aku bersikeras meminta Ayahku untuk menceritakan secara detail apa aja yang terjadi dan dilihat Ayahku pada malam dingin dan berkabut. Malam yang diam-diam tanpa bintang, untuk Risa dan keluarganya itu.