Veryn mulai menceritakan kisahnya dengan gadis yang dia rekomendasikan untuk menjadi subjekku itu. Jari-jarinya yang lentik tiada hentinya mengetuk-ngetuk berdetak, sehingga menimbulkan suara di meja makan kami.
“Dia seorang gadis muda
berusia sekitar 21 tahun.”
“Seumuran kita donk?” tanyaku.
“Hmm betul dia anak
tunggal dari keluarga yang cukup terpandang di dekat komplek rumahku. Aku
pernah melihat dan berbicara dengannya beberapa saat yang lalu, ketika tanpa
sengaja bertemu waktu lari pagi di sekitar komplek dekat rumah. Jarak dari rumahku dan
dia cuma di sela oleh 4 rumah dan berada pada deretan yang sama.”
“Lalu?” lanjut tanyaku.
“Pada saat itu kami
sedang istirahat sejenak di taman bunga, dia duluan yang memulai percakapan,
orangnya sopan loo Dee, lemah lembut cuman memang agak aneh.” Kata Veryn dengan
tatapan agak keheranan dan bingung waktu berkata itu.
“Aneh di mananya Veer?”
“Iya aneh, masa di
tengah-tengah percakapan tentang masalah kampus dia bilang gini.”
“Indahnya
pagi, nahh hidupku ku serahkan diriku seutuhnya padamu, kesadaranku setengah
tenggelam di permainan hatimu.”
Aku heran mengapa di
tengah-tengah percakapan tiba-tiba penglihatannya terpaku ke arah sebatang
pohon besar, lalu berkata seperti itu, aku yang keheranan pun bertanya.
“Kamu kenapa?”
Dia pun menjawab.
“Ahh engga’ apa-apa ko.”
“Engga’ apa-apa tapi
ko’ tiba-tiba omonganmu jadi aneh?”
“Dijelaskan juga percuma, kamu ga’ akan mengerti apa yang ku jelasin,
karena kamu ga’ bisa ngeliat apa yang ku liat dan ngerasain apa yang ku rasa.”
Aku yang ngerasa sudah
ga’ nyaman dengan obrolannya akhirnya putusin untuk pulang duluan dengan alasan
mau ngerjain tugas Kode Etik Psikologi, tapi pada waktu berdiri ada hal yang lebih aneh yang dia
bilang.
“Apa tuuhh Ver??”
tanyaku.
“Dia bilang begini.”
“Kamu mau pulang duluan?? Tapi
hati-hati ada yang nempel di kaki mu.”
“Ahh apaan??” aku lihat
di kakiku ga’ ada apa-apa. “Mana, ga’ ada apa-apa”?
Dengan tatapan dan raut
wajah kesal aku pun buru-buru jalan pulang ke rumah ninggalin dia yang
tersenyum ngeliat ke arahku.
“Tapi, entah kenapa pas
aku pulang dari taman bunga dan ngobrol dengan gadis itu. Kaki kananku pegel
dan berat banget, rasanya kaya’ terikat dengan beban berat. Awalnya ku kira
cuma pegel-pegel biasa karena waktu lari pagi tadi engga’ pemanasan. Setelah mandi, sarapan,
santai-santai di ruang keluarga, tidur dan santai-santai lagi di halaman rumah.
Sampai malamnya kakiku masih aja pegel, dan rasa pegelnya itu konsisten, ga’
berkurang dan ga’ juga nambah, aku merasa mulai ga’ nyaman dengan ini . Sampai di malam harinya
di pukul 20:00 waktu lagi mijit-mijit kaki di ruang tamu yang posisinya
langsung berhadapan dengan halaman rumah, tiba-tiba ada suara mesin mobil dan
bunyi klakson di depan pintu gerbang rumah, aku mengintip melalui jendela dan ternyata
itu mobil Kakek yang baru datang dari Bandung. Walau dengan kaki yang masih
ngerasa pegel dan berat aku menghampiri beliau membuka pintu rumah menuju mobil
Kakek yang saat itu sudah masuk ke jalan setapak tempat mobil karena sebelumnya
pintu gerbangnya sudah di buka oleh supir Ayahku yang saat itu sedang melihat
kondisi mobil yang mau digunakan untuk kerja besok. Kakekku pun turun dari mobil, aku mencium
tangannya dan mengucap salam.
“Selamat datang Kakek lama ga’ ketemu Kakek, bagaimana
kabarnya, Kakek sehat, Kakek ga’ bareng sama Akang Rendy?”
“Waahh baru datang
sudah disuguhi banyak pertanyaan kaya’ begitu he..he..iyaa Kakek sehat dan
Kakek tidak mengajak Rendy, Kakek ke sini cuma sekalian mampir dan menginap
semalam aja karena habis reunian dengan teman-teman Kakek waktu di bangku
kuliah dulu, jadi Rendy ga’ perlu ikut.”
Hal aneh lagi-lagi aku
alamin, Kakekku menatapku dengan mata yang keheranan apalagi waktu menatap kaki
kananku. Saat pintu gerbang ditutup oleh supir Ayahku, aku melihat di belakang
Kakek ada Risa yang sedang berdiri di seberang jalan depan rumahku mengenakan
baju tidur putih dengan rambut yang di ikat rapih ke belakang dan senyuman
khasnya yang mencurigakan. Aku jadi bertanya-tanya
untuk apa dia ada di seberang jalan depan rumahku malam-malam begini mengenakan
pakaian tidur lagi. Apa dia mau nginap di
rumahku? Ahh tapi ga’ mungkin rumahnya aja lebih besar
dan mewah dari rumahku, lagian juga dalam rangka apa dia mau nginap di rumahku.
Kami bertiga dengan supir Kakekku berjalan menuju pintu rumah yang masih dalam
keadaan terbuka karena aku belum menutupnya waktu menghampiri Kakek tadi sambil
memikirkan untuk apa anak aneh itu ada di situ. Saat aku kembali
menengok ke belakang untuk melihat posisinya dari sela-sela gagang pintu
gerbang, ternyata dia sudah ga’ ada, itu membuatku semakin bertanya-tanya. Tapi,
sudahlah buat apa terlalu dipikirin ga’ penting menurutku. Setelah mengucap salam
dan di sambut dengan baik oleh Ayah, aku langsung mengantarkan supir Kakekku
menuju kamar tamu untuk menaruh barang-barang bawaan atau tepatnya oleh-oleh
Kakek buat Nenek yang pada saat itu tidak mendampinginya pergi reuni karena
kondisi kesehatannya yang kurang baik. Lalu, setelah itu aku langsung ke ruang keluarga
untuk menonton acara televisi di malam itu. Dari ruang keluarga aku mendengar
perbincangan Kakek dengan Ayah. Kakekku langsung mengajukan beberapa pertanyaan
ke Ayah.Kakekku bertanya, “tadi
si Veryn abis main ke mana”?
“Hari, pagi maksud
Ayah”? Ayahku balik bertanya.
Kakekku pun berkata
lagi, “iyya, sepertinya baru tadi pagi, kau tahu ke mana dia tadi pagi”?
“Kalau tadi pagi dia
abis lari pagi Yah di sekitar komplek sini, maksud Ayah sepertinya baru tadi
pagi itu apa Yah?”
“Apa di sekitar sini
ada pohon besar?”
“Hmm, iyaa ada Yah di
sekitar taman bunga komplek ini, pohon beringin besar yang sudah berumur
sekitar puluhan tahun. Pohon beringin yang menurut cerita orang-orang sini
digunakan untuk menggantung para warga pribumi oleh tentara Belanda, saya juga
ga’ tau alasan kenapa pohon itu tidak ditebang ”. Ayahku menjelaskan.
“Ooh, pantas.” Sahut
Kakekku.
“Pantas, maksud Ayah
apa, dari tadi saya ga’ ngerti pembicaraan Ayah?”
“Nanti juga kau akan
tahu, cepat panggil Veryn kemari”.
“Baik Ayah,
Veryn...Veryn...kemari sebentar sayang Kakek kamu ingin bicara dan melihat
keadaanmu.”
Dengan kaki yang masih
pegal dan berat aku menghampiri Ayah dan Kakek di ruang tamu.
“Ada apa Yah?” Tanya
ku.
“Oh ini Kakek ingin
melihat keadaanmu, tapi kaki kamu kenapa sayang, ko’ jalannya seperti itu,
sakit yaa?”
“Veryn juga ga’ tw nih
Yah, sehabis pulang lari pagi tadi tau-tau kaki jadi berat begini.”
“Kamu keseleo kali??”
Ayahku menambahkan.
“Bukan”, tegas Kakeku,
“Veryn bukan keseleo ataupun salah urat, Himawan”, kata Kakek.
“Lalu kenapa Yah?”.
“Rudy Himawan
Kurniansyah...ck, ck, untung saja Ayah datang untuk melihat keadaan kalian.
Kamu yang cuma melihat dengan mata fisik mana bisa tau apa yang sedang terjadi
dengan kaki kanan Veryn. Dari dulu kan sudah Ayah bilang jangan terlalu
menggunakan logika yang masuk akal dalam hidup ini, karena kita bukan hanya
makhluk yang tinggal di Bumi ini, kita tinggal dengan makhluk-makhluk lainnya. Termasuk makhluk gaib.”
Ayah ku pun semakin
bingung dengan pernyataan yang dilontarkan Kakek.
“Maksud Ayah ada apa
dengan kaki kanannya Veryn??”
Kakekku pun menjawab, “coba
kamu perhatikan dengan mata bathin kamu, ada anak kecil berlumuran darah dengan
kepala tanpa rambut dan mata yang menonjol keluar sedang menempel di kaki kanan
Veryn.”
Aku dan Ayah pun
terkejut mendengar kata-kata itu dari Kakek. Dengan nada suara yang agak panik,
Ayah ku bertanya. “Mengapa bisa seperti itu Yah?”
“Yaa seperti yang kau
bilang tadi, mungkin saat Veryn sedang lari pagi dan singgah di taman bunga
yang ada di komplek ini ada makhluk dari alam lain yang menyukai Veryn dan
ingin mengikutinya.”
“Aaaahh ngaahh, Ayah
gimana nihh, Veryn takut.” Teriakku dengan panik dan ketakutan setelah
mendengar penjelasan dari Kakek.
“Sudah jangan panik dan
nangis begitu, Kakek pasti bisa bantu kamu, kamu turuti saja apa yang dibilang
Kakek ke kamu, dan jangan sampai Ibu kamu tau dulu tentang hal ini, karena jika
dia tau, dia bisa panik dan tidak tenang memikirkan kamu.”
“Iyya.” Jawabku.
Akhirnya Kakekku pun memintaku untuk mengambil
air wudhu dan Shalat dua rakaat, setelah itu Kakek memintaku untuk mengikutinya
membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an di kamar Shalat. Kakekku menyiapkan
segelas air untuk dibacakan beberapa do’a dan membasuhkannya ke kaki kananku,
mulai dari lutut sampai ujung kaki. Setelah dibasuhkan tiba-tiba mataku langsung
ngantuk banget, Kakekku pun meminta Ayahku untuk mengantarkanku ke kamarku
untuk beristirahat. Kemudian...Entah mengapa rasanya
baru sejenak terlelap, aku langsung terbangun lagi karena rasanya haus banget
dan hawanya panas di malam itu, padahal di luar hujan cukup deras. Aku menuju
kamar makan untuk mencari minum, tapi rasanya baru sebentar tertidur ko’
keadaan rumah jadi sepi. Aku berpikir mungkin
yang lainnya sudah pada tidur, tapi ko’ kenapa semua lampu dan televisi engga’
dimatikan seolah-olah masih ada aktivitas yang dilakukan di dalam rumah. Tapi yaa sudahlah aku
ga’ mau ambil pusing, karena rasa haus yang mencekik tenggorokan, aku kemudian
mengambil gelas putih jernih yang ada di meja makan dan menuangkan air dari
wadahnya. Saat aku minum
samar-samar mataku tertuju pada ujung dalam gelas yang sedang ku gunakan untuk
minum itu, tiba-tiba di ujung dalam gelas yang aku gunakan untuk minum itu, aku
melihat ada wajah dengan satu mata yang sedang melihat ke arah ku dari dalam
gelas tersebut.
Aku terkejut dan langsung
menjatuhkan gelas itu ke lantai, mataku menatap ke arah gelas yang baru ku
jatuhkan tadi. Aku masih melihat wajah yang menyeramkan itu dipecahan gelas
tadi, dan pada saat aku alihkan pandangan ke tempat lain. Aku melihat hiasan yang
ada di dinding rumahku yang tadinya ada, tiba-tiba menghilang, sehingga dinding
rumahku yang berwarna putih itu bersih tanpa hiasan apapun. Hal yang mengejutkan
terjadi lagi, karena perlahan-lahan dinding rumahku yang terletak di depan
mataku itu muncul tulisan besar dengan warna merah darah yang seperti merembes
dari dinding rumahku. Bertuliskan, “berikan aku
tempat yang lain.” Petirpun menyambar dengan hebat di
malam itu, yang sedang diguyur hujan deras namun hawa yang cukup panas
mendampinginya. Aku langsung menghela
nafas yang sangat dalam melihat tulisan itu, dan terbangun. Syukurlah ternyata
semua yang aku lihat tadi cuma mimpi. Tubuhku dibanjiri keringat dingin saat
itu. Aku melihat sekeliling
kamarku yang cukup besar dengan jendela yang langsung menghadap ke luar rumah, meja,
rak buku dan kaca rias serta lemari baju yang cukup besar di samping meja
riasku, dengan tatapan mata yang tajam, ternyata syukurlah itu tadi cuma mimpi. Tapi, saat aku memperhatikan
kaca di meja rias, aku melihat bayanganku di kaca rias itu aneh. Aku pun berdiri dan
menghampiri meja riasku, aku melihat pantulan bayanganku di kaca rias itu engga’
menghadap ke arahku tapi malah membelakangiku. Aku mulai agak takut
dan panik, dan pada saat aku menengok ke sebelah kiriku, tepatnya di atas
lemari pakaianku ada sosok anak kecil dengan posisi tertidur dengan kepala
tanpa rambut dan berlumuran darah menatapku dan berkata kepadaku “aku hanya
mencari ketenangan di dekatmu, tapi mengapa engkau tidak menenangkan ku.” Aku pun teriak saat
mendengar itu, tapi ternyata sekali lagi itu cuma mimpi. Aku mulai melihat
sekelilingku lagi dengan ketakutan dan panik, lalu tiba-tiba ada suara pintu di
ketuk, aku sedikit kaget mendengar bunyi ketukan pintu itu. Dari luar pintu terdengar
suara Ayah dan Kakek menanyakan keadaanku di dalam. “Veryn..Veryn, kamu ga’
apa-apa sayang.” Tanya Ayahku.
Mendengar suara Ayah, perasaanku sedikit lebih
tenang. Aku pun turun dari tempat tidur dan berlari menyambar gagang pintu lalu
membukanya. Di depan pintu sudah
ada Ayah dan Kakek yang sedang berdiri dengan wajah cemas menunggu apa yang
terjadi denganku. Kakekku mendekat, menyentuh kepalaku dan bertanya.
“Kamu ga’ apa-apa?”
Tanya Kakek.
“Iyya apa yang terjadi
Veryn”? Tanya Ayah.
Aku menjawab pertanyaan
yang diajukan oleh Kakek dan Ayah.
“Veryn mimpi buruk,
mimpi tentang anak kecil yang menempel di kaki kanan Veryn.”
Kakek dan Ayahku saling
menatap sejenak, lalu Kakekku mempunyai
usul kalau untuk malam ini dan beberapa malam berikutnya untuk sementara aku
tidur dengan di temenin Ibuku dulu. Tidak berapa lama
setelah Kakek dan Ayahku berdiskusi tentang itu, Ibuku pun datang dengan Adikku. Ibuku dengan nada panik
bertanya “Ada apa sayang”??
Ayahku meghampiri dan
merangkul bahu Ibuku serta berjalan menjauh untuk menemukan tempat yang tepat
untuk berbicara. Mereka menuju bangku yang ada di ruang tamu untuk menceritakan
apa yang sedang terjadi denganku, sedangkan Adikku di jaga oleh Kakek. Ada sekitar 10 menit
Ayahku bercerita tentang keadaanku pada Ibuku. Aku melihat wajah Ibuku yang
terkejut dan sedih mendengar apa yang diceritain Ayahku tentang apa yang
terjadi pada diriku. Setelah itu mereka
berdua berdiri dan berjalan bersama menujuku.
“Veryn untuk malam ini
kamu tidur dengan Ibumu yaa?” kata Ayahku.
“Ii..iyya Ayah”. Jawabku.
“Cherr jaga Veryn yaa,
buat dia tenang seperti kamu menenangkanku.” Ibuku pun tersenyum dan
berkata.
“Iyya aku akan
menjaganya, kamu tolong jaga Erick yaa takut dia juga cemas nanti, kasihan dia
kalau tidurnya kurang nyenyak malam ini. Dia kan harus sekolah besok pagi.”
Ayahku pun menjawab. “Iyya tenang Cherry
buah manisku, aku bakal buat Erick tidur dengan nyenyak malam ini, he..he..he.”
Sambil tersenyum Ayahku
mencium kening Ibu, dan Kakekku sedikit protes melihat haru biru itu.
“Oi..oi..oi..kalian
tidak menganggap Ayah ada di sini yaa, Himawan...Cherry?”
Ayah dan Ibu sedikit
kaget dan tertawa kecil mendengar protes dari Kakekku itu, dan akhirnya mereka
bertiga dan Adikku yang termenung tidak tau apa-apa ikut tertawa, aku juga
sedikit tersenyum melihat candaan mereka di depan aku yang sedang diliputi rasa
takut dan kalut ini. Pagi harinya sebelum Kakekku
bertolak kembali ke Bandung Kakek bercerita kepadaku dan Ayah, bahwa hal yang
aku alami tadi malam ituitu cuma efek dari pindahnya makhluk tersebut ke tempat
lain, jadi untuk ke depannya aku ga’ akan merasa pegal dan dihantui lagi. Memang benar sii pas
bangun pagi itu kaki ku sudah ga’ pegal dan berat lagi, tapi untuk tidur di
malam harinya aku harus ditemani Ibuku lagi, karena masih trauma dengan mimpi buruk
itu. Malah aku sampai ga’ masuk beberapa hari dan ga’ ikut praktikum waktu itu. Ada sekitar tiga hari
aku tidur dengan Ibuku Dee, karena rasa takut tersebut, di hari ke empat aku
sudah mulai agak tenang dan berani tidur sendiri lagi di kamarku. Namun di hari
ke lima disaatku ingin tertidur nyenyak di kamarku karena sehabis mengukur hari
di kampus, aku dikejutkan lagi dengan suara jeritan yang menakutkan dan
mengiris hati.
Hari itu Kamis malam pukul 23.00; Di malam yang berkabut
dan dingin, tiba-tiba pecah oleh suara teriakan yang sangat keras disertai
tangisan yang menyayat hati, semua orang yang ada di rumahku pada terbangun dan
berkumpul di ruang makan. Saling menatap dan
bertanya-tanya apa yang terjadi di dekat rumah kami, Ayahku berjalan menuju
pintu dan keluar untuk mencari tau apa yang terjadi. Ternyata di luar pun sudah
ada banyak orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi di malam itu serta dari
mana suara jeritan menyedihkan itu berasal. Pada saat para warga
berkumpul dan berdiskusi dengan Ayahku sebagai salah satu aparat penting dan
berwenang di daerah itu, tiba-tiba ada suara terikan lagi. Ternyata itu suara
Bang Adit tukang nasi goreng yang berjualan di sekeliling komplek rumahku. Dia berteriak ketakutan
sampai terjatuh di aspal dingin dan basah malam itu sambil menunjukkan jari
telunjuknya ke arah salah satu jendela rumah warga komplek. Warga sekitar situ
langsung menuju dan mendekati Bang Adit dan bertanya.
“Ada apa Bang?” Tanya
salah satu warga bernama Reza.
Dengan nada ketakutan
dan terkejut sambil menunjukkan jari telunjuk tangannya ke arah salah satu
jendela Bang Adit berkata.
“I..i..itu.”
Para warga termasuk
Ayahku melihat ke arah jendela rumah itu, yang ternyata rumah itu adalah rumah
Risa Fathia Apriyanti. Melalui jendela lantai
2 yang tertutup oleh tirai putih para warga melihat ada sosok siluet gadis
berambut panjang yang berdiri terpaku menatap apa yang diihat di depannya. Lalu
kemudian dia pingsan dan terjatuh. Namun ada hal aneh
setelah para warga melihat sosok siluet itu jatuh pingsan, sesaat kemudian para
warga melihat sosok siluet gadis berambut panjang itu sudah ada di jendela
lantai 3 terlihat sedang mencari sesuatu dan kemudian menghilang. Para warga yang merasa
heran dan saling menatap melihat hal ganjil itu, tapi di tengah rasa heran para
warga itu. Pak Harry salah seorang warga yang mempunyai sifat tidak kenal
basa-basi dan banyak berpikir itu langsung menendang dan mendobrak pintu pagar
rumah mewah tersebut.
Duagg..duagg,
“Sampai kapan kalian
mau berdiam dan berdiri seperti itu saja, orang di dalam rumah ini butuh
pertolongan.” Katanya.
Ayahku pun langsung
meminta warga membantu Pak Harry untuk mendobrak pagar mewah dengan tinggi
sekitar 2 meter disertai ukiran daun maple
itu, beberapa orang lagi berusaha untuk mencari bantuan dan memberi tahu aparat
pemerintah di daerah itu. Aku
dengar cerita dari Ayahku, setelah berusaha mendobrak pintu gerbang rumah itu,
para warga berhasil masuk dan menuju ke pintu utama rumah itu. Pintu utama
rumah itu masih tertutup rapat jadi kami terpaksa mendobraknya bersama-sama
lagi, setelah di dobrak para warga masuk ke dalam rumah itu. Ayahku merasa bingung
karena kenapa pintu dan jendela-jendela masih tertutup dengan rapat seperti
biasa seakan-akan tidak terjadi apa-apa, yang rusak hanya bagian engsel dan
kunci grendel bekas di dobrak tadi. Sebelum menuju kamar
atas di lantai 2 dan 3 tempat asal suara dan bayangan siluet aneh itu para
warga terlebih dahulu melewati ruang tamu yang tertata rapih ala Eropa Barat.
Perabotan-perabotan mewah berwarna emas dan perak, sofa besar mewah berwarna
merah hati, lukisan pemandangan alam pegunungan dan danau dengan bingkai ukiran
naga di sekelilingya. Setelah melewati ruang
tamu yang penuh dengan barang-barang mewah, para warga mulai memasuki ruang
makan dengan meja makan dan kursinya yang masih tertata rapih. Hal itulah yang
membuat para warga bingung mengapa keadaan ruang tamu dan ruang makan masih
tertata rapih seperti tidak terjadi apa-apa di dalam rumah itu. Mereka
pun menuju ke kamar yang ada di lantai 2, saat mereka berada di lantai 2
barulah banyak hal mengerikan yang mereka lihat. Dinding-dinding serta lantai
yang berlumuran darah dan ada sesosok mayat pria berusia sekitar 45 tahun, pria
itu ternyata adalah Tuan pemilik rumah tersebut bernama Sony Bernardus.
Di tubuhnya penuh
dengan luka tusuk benda tajam, dan sebagian tangan kanannya putus seperti kena
tebas benda tajam saat ia ingin menepis tebasan benda tersebut, matanya melotot
ketakutan dan mulutnya terbuka. Salah satu warga yang
bernama Prasojo muntah lalu menjauh dan keluar karena tidak tahan melihat hal
itu. Kata Ayahku warga yang bernama Gunawan adalah orang yang pertama kali
melihat mayat pemilik rumah itu, tapi ada yang aneh. Kata Ayah ko’ orang ini
rasanya cepat sekali, bukannya tadi masih ada di bawah. Di sekitar ruangan dapur
dan kamar mandi. Tapi, Ayahku ga’ terlalu fokus pada hal itu, karena rasanya
masih ada yang harus diliat lagi di rumah itu. Lalu bersama para warga mulai
mencari tahu apa yang terjadi di rumah ini. Para
warga yang lain melanjutkan mencari segala sesuatu yang menjadi misteri di
rumah itu. Ada 4 kamar besar di lantai 2 itu dengan keadaan semua pintu tertutup. Akhirnya mereka sepakat
untuk berpencar untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini,
tapi dengan memprioritaskan pintu kamar yang setengah terbuka itu. Sedangkan
Ayahku langsung menelpon markasnya untuk meminta bantuan memberitahukan kalau
ada kasus pembunuhan di dekat rumahnya.
“Hallo, hallo Thra, ini
aku. Kata Ayahku menginformasikan atau
lebih tepatnya menelpon teman dekatnya. Aku mau memberitahukan kalau di komplek rumahku
ada kasus pembunuhan dan aku juga sepertinya butuh bantuan medis nih, soalnya
untuk jaga-jaga kalau ada yang membutuhkan penanganan medis, okeyy.. tolong cepat
yaa.”
Ayahku memutuskan
telpon, dan meneruskan pencariannya bersama warga. Sebenarnya
Ayahku sudah ga’ mau nerusin ceritanya Dee, tentang hal apa yang terjadi di
rumah itu soalnya beliau takut nanti aku jadi paranoid mendengar apa yang terjadi di rumah itu. Tapi aku bersikeras
meminta Ayahku untuk menceritakan secara detail apa aja yang terjadi dan dilihat
Ayahku pada malam dingin dan berkabut. Malam yang diam-diam tanpa bintang,
untuk Risa dan keluarganya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar