DO'A BAIM
Baim
menunduk dan menggelengkan kepalanya, menahan amarah dan sedihnya. Andai dia
Hulk atau Thor. Mendengar ucapan ini dia pasti akan langsung marah dan
mengobark abrik restoran bahkan seisi kota ini dan dibutuhkan beberapa kompi pasukan
gabungan antara TNI dan Polri serta beberapa pasukan berani mati dari Rusia dan
Bosnia untuk menenangkannya kembali. Sayangnya, Baim hanya manusia biasa yang
cuma bisa menerima nasib buruk ini menurut persepsinya. Baim menatap Nabila
tajam seolah-olah ingin menumpahkan semua uneg-uneg yang ada dalam dirinya,
begitu dia siap.....dan ternyata pesenan makanannya datang.
Pelayan itu dengan hati-hati dan
ramah menaruh pesanan dan pesanan dari mereka. Setelah selesai lalu kemudian
pamit. Tanpa tingkah polos dan seperti tidak terjadi apa-apa Nabila memulai
salah satu kebiasaannya, yaitu mencicipi makanan Baim sebelum mencicipi
makanannya dan mengakui kalo apa yang dipesan Baim itu enak. Sementara Baim,
bener-bener gak ngerti apa yang ada dipikiran Nabila.
“Jadi selama ini kita cuma temen?”
Ucap Baim pada akhirnya.
Nabila yang sedang asik menyantap
makanan Baim terhenti, dan kemudian menatapnya dengan serius dan menganggukkan
kepala. Baim yang meliat itu makin sedih dan bertanya-tanya.
“Lalu apa artinya hubungan kita
selama ini?”
Nabila hanya bisa terdiam dan
tertunduk tanpa suara, yang terdengar hanya tarikan napasnya saja.
“Kita sering keluar malam bareng,
jalan bareng, nonton bareng, berpegangan tangan dan hampir berciuman di tempat
karaoke. Semua itu cuma teman?” Lanjut Baim menambahkan.
Nabila perlahan mulai berani menatap
Baim dan berkata rendah.
“Yaa...kita memang sering kayak
gitu, tapi setiap bangun di pagi hari. Aku gak pernah merasa yakin sama kamu.
Apakah kamu ini benar jodoh untuk sementara atau untuk selamanya.”
Mendegar itu Baim menundukkan
kepala, menahan sedihnya. Nabila yang meliat reaksi Baim, langsung menyentuh tangan
Baim dengan lembut.
“Menyakitkan yaa...” Baim berusaha
bicara kembali. “Jika ternyata selama ini kamu hanya melakukan apa yang kamu
inginin.” Lanjut Baim.
“Gak usah bersedih kayak gitu. Kamu
cowok baik, lucu dan pintar. Suatu saat nanti kamu pasti bisa dapetin jodoh
yang pantas untuk kamu.” Hibur Nabila pada Baim.
“Dan betapa menyakitkannya...”
Lanjut Baim dengan mata yang semakin memerah. “Betapa menyakitkannya jika
seseorang yang kamu yakini, justru tidak yakin pada dirimu dan malah justru
memilih hidupya dengan oranglain.”
Nabila semakin menggenggam erat
tangan Baim dan berkata, “udaahh gak perlu sedih kayak gitu. Kita tetap
berteman kok, dan bahkan kamu bukan sekedar teman, melainkan sahabat
terbaikku.”
Baim
hanya bisa berdiri, mengambil uang dari dompetnya dan meletakkan uang sebesar
dua ratus ribu rupiah di atas meja, lalu meninggalkannya. Nabila hanya bisa
berteriak memanggil namanya. Kini terungkap semua mengapa Nabila cepat sekali
berubah dan alasan mengapa hati Baim terasa sakit di tiga hari terakhir ini,
yaitu karena Baim mencintai Nabila pada saat pertama kali meliatnya, sedangkan
Nabila tidak menaruh hati apapun pada Baim. Ketika keluar dari restoran itu,
maka seluruh kisah cinta inipun berakhir.
Terlepas sudah genggaman tangan ini.
Pupus sudah kisah ini. Saat seseorang memilikimu, aku kehilangan arti diriku.
Saat kau marah saat kau sedih, aku memberikan semua kebahagiaan serta
senyumanku untukmu. Karena dalam senyuman manismu. Aku menemukan ketenangan. Baim
tidak tau mengapa hatinya berdebar, Baim juga tidak tau mengapa airmatanya
tertumpah, yang Baim rasakan hanyalah Baim seperti kehilangan separuh dari
dirinya.
Baim kembali pulang dengan menaiki
taksi, tapi baru separuh perjalanan argo taksi sudah lebih dari limapuluh ribu.
Uang Baim habis, dia lupa membawa kartu ATM untungnya dia masih ada tiket
busway yang seingat dia masih ada sisa sekitar untuk dua kali perjalanan. Dia
turun di daerah Galur, untuk lanjut naik busway. Namun sebelum itu dia meliat
Masjid besar di sekitar shelter itu dan teringat jika dia belum shalat Isya.
Baim menghampiri rumah Allah itu dengan menyebut nama kekasih-Nya, Muhammad. Tubuh
lelahnya meronta meminta untuk dikuatkan. Baim merebahkan diri di teras Masjid,
melepas sepatunya, lalu menaruhnya di rak tengah teras Masjid. Kemudian, dia
beranjak ke tempat wudhu, sambil berwudhu entah sadar atau tidak dia mulai
berkata dalam hati. Yaa Tuhanku, mengapa cinta sesulit ini? Sebelum memasuki
Masjid, Baim meliat bulan purnama yang indah di malam ini, mengingatkan dia
akan masa-masa bersama Nabila. Sekarang Baim hanya ditemani oleh bulan purnama
itu yang sinarnya sampai ke halaman hatinya.
Usai berwudhu dia masuk
ke dalam Masjid, ruanga Masjid yang sudah kosong, maklum karena sudah hampir
jam sepuluh malam. Tubuh itu hanya bisa tertunduk tanpa berani memandang kaligrafi
indah bertuliskan lafadz Allah dihadapannya. Sekali lagi dalam hati dia
bertanya, Yaa Tuhanku, mengapa cinta sesulit ini? Tubuh lelah itu roboh sebelum
dia tegak berdiri untuk shalat, dalam bayangannya dia meliat jika.
Pria itulah yang akan
memegang tangannya, berjalan bersamanya, menari bersamanya, tertawa bersamanya
dan menjalin cinta dengannya. Sedangkan Baim hanya masih bisa bahagia saat sms
atau bbmnya cuma dibaca oleh Nabila. Baim merasa sadar jika dia adalah orang
yang salah karena berada diantara mereka. Sebelum hatinya benar-benar hancur
dia memilih untuk menyingkir. Namun sudah terlambat, Baim sudah terlampau dalam
mencintainya, hingga merasa tidak bisa hidup tanpanya. Sementara dia, pada saat
dia benar-benar mencintai pria itu, dia akan melupakan Baim, karena sebenarnya
dia memang tidak pernah mencintai Baim.
Baim sungguh tidak tau
apa yang diinginkan oleh seorang wanita.
Baim juga bingung harus
mengadu pada siapa jika bukan pada Tuhannya. Baim beranjak bangkit, dia berdiri
tepat di belakang tempat imam, menguatkan hati dan berniat shalat Isya. Dalam
pikirannya sejenak teringat rencana-rencana besar yang sudah dia rancang
bersama Nabila. Menikah, memiliki anak, membesarkannya dengan bimbingan agama
dan cinta kasih. Baim membaca surat Al-Fatihah dengan sangat khidmat,
dilanjutkan dengan surat An-Nur ayat 26 yang mengandung arti. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki
yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula),
dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” Di rakaat kedua bibir
gemetar Baim membaca surat Adh-Dhuha, yang kandungan artinya bisa menenangkan
Baim, bahwa Allah tidak akan meninggalkannya dan tidak pula membencinya dan
Allah mendapatinya sedang dalam keadaan bingung kemudian memberinya petunjuk.
Selesai shalat Baim tidak mampu lagi menahan gemuruh yang ada di dadanya, dia
tumpahkan semua pengaduan dan do’a.
Aku sangat bingung Yaa Allah, aku
pasti melakukan kesalahan. Itu yang membuat-Mu tak mendengarkanku. Kumohon
katakan dengan caramu...tunjukkan aku jalannya... Kumohon...
Aku
sudah meminta dan memohon pada-Mu. Berharap Engkau memantaskan diriku untuknya.
Aku
sudah bersujud...
Aku
sudah bertahajud...
Aku
sudah rutin melaksanakan shalat dhuha dilanjut dengan membaca surat Ar-Rahman
dan Al-Waqiah...
Namun,
hamba memang tidak mengerti apa itu cinta, hamba hanya kaum dhuafa cinta. Pemuka
agama-Mu yang beragam, mengatakan hal yang berbeda satu sama lain...
Ada
yang bilang kalo jodoh itu harus dikejar, ada yang bilang juga tidak perlu
dikejar nanti datang sendiri.
Ada
yang bilang cukup memperbaiki diri sendiri.
Ada
yang bilang juga harus dicari.
Ada
yang bilang yang penting diniatkan untuk ibadah.
Namun
ada banyak yang hanya berniat untuk uang, hawa nafsu dan jabatan, tapi bisa
memiliki cinta dan menikah.
Manakah yang salah dan manakah yang
benar Yaa Allah... Aku tak mengerti... Tolong dengarkan Yaa Allah, aku butuh
jawaban dan pertolongan-Mu... Bukankah Kau ini Tuhan alam semesta dan Tuhan
orang-orang yang butuh pertolongan... Hamba sedang kalut dan putus asa Yaa
Allah... Tolonglah hamba Yaa Allah... Kumohon.. Apapun yang Kau pinta akan aku
lakukan...hanya saja kabulkan permohonanku... Kumohon... Katakanlah sesuatu...
Tunjukkanlah sesuatu, bukan dengan semua keheningan dan kesepian ini...