Senin, 08 Februari 2016

KAUM DUAFA CINTA

JILID 1

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu. Bagi orang jatuh cinta semua perihal waktu sangat singkat jika bersama dengan orang yang dicintai dan terasa lama jika berada jauh dari orang yang dicinta. Bunga pasir terasa manis dan manisan terasa buah dari Surga Firdaus. Begitulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Baim, terkadang dia merasa bingung karena tidak menyangka betapa cepatnya dia bisa dekat dengan Nabila. Puncaknya adalah ketika Nabila dengan nada sukacita mau untuk diajak Baim hadir pada undangan pernikahan rekan kerjanya yang ada di bagian HRGA, padahal sepengetahuan Baim, melalui telik sandinya yang bernama Jong Kok. Banyak anak-anak dari Departement lain yang mengajak Nabila untuk menemaninya ke undangan tersebut, tapi semuanya ditolak mentah-mentah olehnya. Baim sangat bahagia akan hal itu, dalam pikirannya inilah saatnya untuk menyatakan cinta pada Nabila. Terlalu cepat? Mungkin iyaa, namun dari tanda-tanda yang sudah dia dapat, bagi Baim semakin cepat justru semakin baik. Tepatnya di hari Minggu itu, di penghujung bulan Februari.
            
Baim sudah bersiap-siap, dia mengenakan batik dengan warna dominan putih berhias burung merak pada coraknya, dan Nabila janjian ketemu di suatu tempat sebelum datang bersama ke gedung tempat resepsi pernikahan tersebut. Mereka bertemu di sebuah mall di bilangan Pondok Gede, di situ Baim terkejut dengan penampilan Nabila hingga ia menyebut dalam hati Subhanallah bagaimana mungkin purnama indah bisa muncul di siang hari. Nabila memakai setelan kebaya pink yang agak transparan dengan bagian penutup dada yang rendah. Baim merasa hidupnya indah sekali, dia seperti bisa melihat bidadari, dia sangat yakin bisa melihatnya. Mereka berangkat ke tempat pernikahan dengan menggunakan mobil taksi, karena takut dandanan Nabila rusak.
            
Di dalam mobil taksi Nabila sangat lincah dan lepas dalam berbicara serta tertawa, belum pernah Baim meliat dia selepas ini dalam berbicara dan tertawa, ditambah lagi hampir sepuluh menit sekali mereka photo selfie bareng, bahkan sesekali mereka minta supir taksi itu untuk berhenti sejenak dan memphoto mereka. Nabila dengan gaya lidah menjulur seperti ular, sedangkan Baim dengan gaya diam terpaku dan wajah yang polos, baru diketahui nama dari gaya itu adalah gaya kodok menahan nafsu.

KAUM DUAFA CINTA

JILID 2

Mereka sampai di tempat tujuan di gedung yang ada di kawasan Taman Mini, mereka turun di seberang gedungnya. Nabila merasa agak tersiksa karena harus memakai sepatu hak tinggi yang belum biasa dia pakai, untung saja pada saat menyebrang ada lengan dan bahu Baim yang nyaman, hingga dia pun bisa menyeberang dengan cukup leluasa. Hari minggu ini cuacanya sungguh sangat mendukung, tidak panas tidak juga hujan. Hanya mendung sendu, dengan suasana keliling yang sangat indah. Pepohonan hijau yang rindang serta bau rumput yang habis tersiram embun pagi, beberapa warna-warna bunga liar bermerkaran di pinggir jalan kawasan ini. Sungguh suasana yang sangat indah serta romantis jika kita sedang berdua dengan orang yang kita sayangi.
            
Di tempat resepsi, Baim dan Nabila yang kebetulan sudah sangat lapar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka berdua masing-masing amplopin limapuluh ribu rupiah dan mereka gak mau kelewat satupun stand makanan yang ada. Berhubung orang HRGA itu dapet suami yang tajir pemilik salah satu restoran besar di Jakarta, maka berbagai jenis makanan lezat ada di sini selain menu utama yang mewah ada juga sate kambing, sate ayam, ikan salmon, bakso malang, soto ayam, pasta, burger mini, aneka buah, kue-kue kecil dan minuman cola. Hampir semua antrian mereka ikuti bahkan tanpa sengaja mereka juga ikut antrian toilet, tapi pas sadar mereka saling tertawa, bahkan Nabila sampai ketawa ngakak di depan Baim. Baim sungguh benar-benar terpesona meilat tawa ngakak Nabila, hingga dunianya seperti teralihkan dan terlupakan.
            
Setelah puas makan dan saling mengobrol dengan temen-temen karyawan lainnya mereka pamit pulang. Namun pas meliat jam tangan, masih sekitar jam duabelas kurang, Nabila merasa masih banyak waktu di hari ini. Suatu kebetulan yang amat sangat luar biasa bagi Baim, karena di saat yang bersamaan pula, Baim memang ingin mengajak main Nabila sehabis kondangan dan di sela-sela bermain dan kebersamaan itu. Baim ingin menyatakan perasaannya terhadap Nabila. Selain menyiapkan perasaan dan kata-kata, Baim juga sudah sedia banyak uang untuk hari ini.
            
“Gimana kalo kita main-main dulu.” Ucap Baim.
            
Nabila menatap Baim dengan raut senyuman yang keheranan. Merasa jika Baim pandai membaca suasana hatinya.
           
“Yaa main-main kemana gitu. Ke mall atau tempat-tempat yang lain.”
            
“Mau ngapain di sana?” Tanya Nabila lebih lanjut.”
            
“Makan.” Jawab Baim singkat.
            
“Tadi kan udah makan kenyang.”
            
“Kalo gitu nonton, atau karokean, atau pijat refleksi atau yang lainnya.”
            
Nabila tersenyum dan mengiyakan ide Baim tersebut. Mereka naik taksi lagi untuk mencari mall terdekat. Setelah sampai mereka tidak lupa untuk shalat Dzuhur terlebih dahulu. Baim mengganti bajunya dengan baju kaos yang sudah dia pakai sebagai kaos dalam sebelumnya, sedangkan batiknya dia titip di tas Nabila. Sementara Nabila juga ganti memakai kaos tapi tetap dengan sepatu hak tinggi yang cukup menyiksanya. Setelah selesai shalat dan masing-masing berganti kostum, mereka menuju tempat bioskop. Sejak mendekati Nabila, Baim jadi up to date soal film, padahal sebelum kenal Nabila, Baim hampir gak pernah ke bioskop dan tidak peduli tentang film. Terakhir kali dia nonton di bioskop adalah film petualangan Sherina. 

KAUM DUAFA CINTA

JILID 3

Ketika sampai di tempat bioskop, Baim hampir gak percaya dengan apa yang dia liat. Hampir semua film di bioskop itu dikudeta oleh film bokep Indonesia (baca: film-film horror Indonesia), yang dari luarnya terliat sopan tapi tetep aja dalamnya ajaran setan. Putus asa dengan film-film itu Baim akhirnya mengajak Nabila ke toko buku. Sampai di toko buku belum ada setengah jam leher, mata dan otak Nabila keram karena bosan.
          
Dalam hati Baim ini gimana mau nembak, tempatnya dari tadi gak ada yang sesuai sama seleranya Nabila. Baim berpikir cukup keras, tempat apalagi yang kira-kira pas untuk menyatakan cintanya pada Nabila. Cintanya yang dia rasa murni dari lubuk hati yang paling dalam. Sempat terlintas parkiran adalah tempat yang cukup cocok, karena sepi dingin dan banyak tempat duduk. Tapi Baim urungkan karena parkiran mall ini ternyata ramai dan pernah ada tragedi pembunuhan. Baim berpikir lagi gimana kalo di tempat karaoke. Ahh itu dia, Baim rasa itu tempat yang cocok. Tempat karaoke kan cukup privasi. Dingin, tertutup, remang-remang, sepi, kalo ada yang mau masuk juga pasti ketok pintu dulu. Kalo lagi tanggung, tinggal teriak aja dari dalem ‘bentar dulu lagi tanggung’. Cocok untuk tempat mesum yang dilegalkan. Tapi Baim gak berpikir sampai sejauh itu, jangankan berbuat mesum sama Nabila, meliat matanya aja terkadang Baim takut karena saking terpesonanya.
            
Baim mengajak Nabila ke tempat karaoke. Di tengah perjalanan Nabila bertanya kepada Baim, mengapa kayaknya dia gak suka sama film horror. Asumsi Nabila adalah kalo Baim itu takut nonton film horror. Tapi nyatanya, Baim gak pernah takut dengan film horror, bahkan penampakan setan beneran pun Baim gak takut, karena manusia derajatnya memang lebih tinggi dari setan dan manusia juga dilindungin oleh Allah. Baim bukannya takut nonton film horror tapi dia merasa putus asa dengan film-film horror baik yang dari Holywood maupun Indonesia. Film yang dari Holywood contohnya Annabelle, apa yang ditakutin coba dari boneka bisu dan bermake-up tebal ini? Karena berpuluh-puluh tahun yang lalu kita punya boneka yang bukan cuma bisa bicara, tapi juga bisa nyanyi namanya boneka Susan, ditambah lagi jika sudah besar nanti dia kepengin jadi Dokter dan nyuntikin orang-orang. Gillaa...itukan lebih seram dari apapun. Lalu untuk film horror di Indonesia, dari judulnya aja udah enggak banget. Masa ada judul film suster keramas, salah apa itu suster? Masa cuma gara-gara dia keramas sampe dijadiin film horror? Siapa tau dia keramas untuk hal yang baik, contohnya agar dia bisa suci kembali sehabis haid. Dan ada lagi judul film kuntilanak kesurupan, aduhh Baim sempet merasa ragu, ini film komedi apa film horror. Karena dari judulnya aja sudah memberikan info bahwa sebagai setan dia itu adalah setan yang gagal.
            
Mendengar cerita Baim, Nabila merasa jika dia adalah pria yang beda. Dia sangat polos, lucu dan terkadang apa adanya. Nabila menatap Baim dengan tatapan penuh takjub. Menyentuh lengan Baim dan menggenggam jemarinya. Baim yang menyaksikan tingkah manja Nabila hanya bisa tersipu malu. Sampai di tempat karoke, menunggu antrian dan pada saat karaoke pun Nabila selalu gelendotin bahu lebar dan kokoh Baim, dan sempat berbisik lirih di kuping Baim.
            
“Bahu kamu nyaman.”
            
Baim terasa terbang melayang di angkasa. Dia merasa sudah cukup dengan ini. Dia gak perlu berkata apa-apa lagi karena harapan dan ketenangan jiwanya sudah dia dapatkan saat ini juga. Bahkan Baim sempat menolak dengan halus ketika Nabila hendak mencium bibirnya. Baim masih ingat batas-batasnya. Sebab Baim mencintai Nabila bukan hanya untuk berbuat hal yang seperti itu. dia serius ingin membina rumah tangga dengan Nabila.
            
Selepas itu. Mereka berdua semakin dekat. Dalam hati dan pikirannya Baim merasa sudah jadian dengan Nabila, tapi dalam lubuk hati dan pikiran Nabila siapa yang tau, karena pada saat ditanya tentang arah tujuan mereka, Nabila hanya diam dan terkadang tersenyum kecil. Hal itu tidak pernah dicemaskan olehnya, karena selagi bisa memandang dan bersama Nabila. Itu lebih dari apapun yang Baim inginkan di Dunia ini. Yaa...semuanya untuk Nabila. Bagi Baim, Nabila adalah segala-galanya. Bahkan di setiap do’a, dia selalu memperioritaskan Nabila di atas segalanya, terkadang dia berdo’a dengan nada dan kata-kata mengancam pada Allah. Menyebut jika Nabila adalah cocok dengannya, dia hanya menginginkan Nabila, dia tidak ingin lainnya dan tidak ingin memulai hubungan baru dengan wanita lain. Jika do’a-do’a Baim itu dijadikan suatu draft maka draft itu pastinya sudah sangat panjang sekali.
            
Nabila mempunyai hobi jalan-jalan malam dengan teman-temannya. Ini jugalah yang membuat Baim cemas, karena akhir-akhir ini sedang marak aksi pembegalan. Nabila masih tetap mempertahankan sikapnya yang tidak mau diantar dan jemput Baim, alhasil Baim hanya bisa memonitornya di kantor dengan perhatian seperti bbm, sms dan telpon. Respon dari Nabila juga masih sama seperti dulu, setiap perhatian Baim lewat beberapa media tersebut hanya ditanggapi dingin dan apa adanya. Baim bbm panjang, hanya dibalas singkat dan lama oleh Nabila, dia sudah senang. Baim telpon berkali-kali dan hanya diangkat sekali, dia juga sudah bahagia. Tanpa dia sadari jika memang benar itu cinta, mereka akan saling mengejar dan memberi perhatian. Bukan salah satu dari mereka saja.
            
Namun sekali lagi semua itu seperti tertutup sesuatu, hingga dia tidak begitu menyadarinya, dia terus menghujaninya dengan cinta berharap ada balasan terindah dari usahanya itu. Baim takut Nabila kenapa-kenapa di jalan pada malam hari, walaupun bisa bela diri karate. Para begal itu pasti beranggota lebih dari satu atau lebih dari dua orang dan tanpa pikir panjang untuk menghabisi korbannya. Sering sekali Nabila keluar malam, hingga pernah pada suatu waktu di jam satu dini hari dia bilang lagi diluar sama saudara-saudaranya. Lalu dia tidak masuk kantor selama tiga hari, membuat Baim panik bukan kepalang, pas diselidiki lebih jauh. Ternyata dia gak masuk karena adiknya disunat. Padahal awalnya Baim sudah takut terjadi apa-apa. Ketakutan Baim cukup beralasan, karena setiap keluar malam, Nabila jarang dengan temen sesama wanita. Lebih sering dengan para temen cowoknya yang Baim tidak kenal yang terkadang sering mengajak Nabila untuk balapan liar.

Kemudian...

KAUM DUAFA CINTA

JILID 4

Dengan seiring berjalannya waktu. Malam ini pun sudah berakhir. Berganti fajar pagi. Dalam hati Baim selalu bertanya betapa cepatnya malam berganti. Semua yang dia impikan, menghilang saat dia terbangun. Bau harum itu, tingkah laku ceria itu semua yang dia lakukan disukai oleh Baim. Mengingatnya membuat Baim teringat akan sesuatu yang telah hilang darinya. Hari-hari terasa bahwa Baim hidup sendiri. Tidak ada apa-apa. Kecuali hujan di pagi itu. Entah sejak kapan Baim mulai membenci hujan, dia sendiripun tidak tau. Hanya satu hal yang dia tau jika hujan dan malam hari hanya mengingatkan dia pada kepingan kenangan yang ingin dia lupakan. Menangis di setiap detik dalam kegilaan dan kenangan manis itu. Baim merasa tanpa dia, siang dan malam terasa sama. Hanya sepi yang dia rasa. Banyak orang bijak berkata jika kau sedang rindu dengan orang yang kau sayangi. Kau tinggal memejamkan mata, dan orang yang kau sayangi itu akan hadir di sisimu. Baim pernah sesekali mempraktekkan hal itu, namun yang terliat malah gambaran siksa kubur.

Sudah tepat dua bulan semenjak kepergian Nabila.

Yaa...Nabila meninggalkan Baim karena dia mendapat tempat kerja yang lebih baik daripada sekedar di kantor itu, tempat kerja yang berani membayar Nabila dengan gaji yang lebih besar dan ada kepastian untuk pengangkatan karyawan tetapnya. Bukan itu saja yang membuat Baim merasa sedih dan hancur. Tidak lama, setelah bergabung dengan kantor baru. Nabila jadi susah dihubungi, balas bbm pun bukan cuma seadanya lagi rentangnya bukan menit apalagi jam melainkan hari. Awalnya Baim mengira jika Nabila butuh perhatian yang lebih darinya, maka dari itu Baim memberanikan diri untuk ke rumahnya.

Ketika tiba di rumah Nabila. Baim merasa seakan langit runtuh. Banyak mobil di sekitar rumahnya, orang-orang yang berpakaian rapih dan membawa aneka barang serta buah seperti seserahan. Baim bertanya pada orang yang menjaga parkiran.

“Kang permisi.”

“Iyaa ada apa?”

“Di rumah itu lagi ada acara apa yaa?” Tanya Baim sambil menunjuk ke arah rumah Nabila.

“Ouww...itu lagi ada acara lamaran Mas.”

Baim tersontak kaget. Ternyata ketika itu Nabila resmi dilamar oleh Managernya yang cuma terpaut empat tahun lebih tua darinya. Baim tidak percaya dengan apa yang dia saksikan, pikirannya semerawut bahkan dia sempat menempel tulisan di punggungnya dengan kata-kata ‘senggol bacok’.

Dia langsung berbalik ke rumahnya mengunci pintu di kamar dan mulai berbicara dengan tembok. Kenapaaa...kenapaaa...kenapaaa??? Saat mandi pun terdengar isak tangis dan sekali lagi kata-kata, kenapaaa...kenapaaa...kenapaaa??? Kedua orangtuanya hanya bisa saling tatap mendengar apa yang Baim katakan. Ibunya yang ketakutan bertanya kepada Ayahnya takut ada apa-apa sama anaknya, tapi dengan entang Ayahnya cuma berkata, “itu efek hormon masa muda.”
            
Begitu perasaan serta pikirannya sudah mulai kembali. Dia beranikan diri menelpon Nabila. Basa-basi menanyakan kabar, lalu langsung menanyakan apa maksud dari hubungan mereka selama ini dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa pada hari ini. Detik itu pun juga di tengah malam yang sudah mulai mencekam, Nabila mengajak Baim untuk bertemu di sebuah restoran di dekat rumahnya. Baim meliat dompetnya, ini adalah akhir bulan, persediaan uangnya sudah mulai menipis, karena untuk beli pulsa dan hadiah-hadiah kecil untuk Nabila.
            
Tapi tetap dia berangkat ke restoran itu demi mendapat kepastian dan kejelasan dari hubungan mereka dan apa benar acara lamaran yang dia liat tadi adalah untuk Nabila. Dia tidak memakai motor karena sedang dipinjam oleh saudaranya, naik angkot sama busway takut macet dan telat. Akhirnya dengan uang yang pas-pasan Baim naik taksi dari Grogol ke Pondok Gede.
            
Baim mengiyakan ajakan itu dan langsung bergegas ke restoran tersebut sampai di sana Nabila sudah menunggu di meja yang posisi berada agak pojok di dalam ruangan restoran ini. Baim segera duduk begitu menatap Nabila yang tersenyum manis di depannya. Tersenyum melihatku...merenung melihamu, lagu Peterpan yang berjudul di belakangku yang secara kebetulan sedang diputar sangat cocok menggambarkan perasaan Baim saat ini.

Baim sebenarnya langsung ingin ke pokok pembicaraan, namun Nabila memintanya dengan manja agar Baim ikut memesan makanan juga, karena dia juga baru saja memesan makanan. Bukan karena masalah uang yang menipis, Baim gak mau pesan makan karena jangankan untuk makan, di saat seperti ini, untuk bernapas aja Baim udah badmood. Tapi Baim paling gak bisa denger rengekan dari Nabila, akhirnya dia juga pesan makanan. Dia memesan iga penyet dan air jeruk. Sambil nunggu makanan tiba, Nabila bercerita dengan bangga tentang keadaan kantornya, Baim hanya bisa menyimak tanpa berani memotong pembicaraan.
           
Bagi Baim butuh keberanian untuk menanyakan hal itu. Akhirnya dengan keberanian yang sudah mulai terkumpul Baim mulai bertanya tentang arti dari hubungannya selama ini. Nabila dengan senyuman manisnya menjawab.

           
“Kita kan cuma temen.”

KAUM DUAFA CINTA

DO'A BAIM


Baim menunduk dan menggelengkan kepalanya, menahan amarah dan sedihnya. Andai dia Hulk atau Thor. Mendengar ucapan ini dia pasti akan langsung marah dan mengobark abrik restoran bahkan seisi kota ini dan dibutuhkan beberapa kompi pasukan gabungan antara TNI dan Polri serta beberapa pasukan berani mati dari Rusia dan Bosnia untuk menenangkannya kembali. Sayangnya, Baim hanya manusia biasa yang cuma bisa menerima nasib buruk ini menurut persepsinya. Baim menatap Nabila tajam seolah-olah ingin menumpahkan semua uneg-uneg yang ada dalam dirinya, begitu dia siap.....dan ternyata pesenan makanannya datang.

Pelayan itu dengan hati-hati dan ramah menaruh pesanan dan pesanan dari mereka. Setelah selesai lalu kemudian pamit. Tanpa tingkah polos dan seperti tidak terjadi apa-apa Nabila memulai salah satu kebiasaannya, yaitu mencicipi makanan Baim sebelum mencicipi makanannya dan mengakui kalo apa yang dipesan Baim itu enak. Sementara Baim, bener-bener gak ngerti apa yang ada dipikiran Nabila.

“Jadi selama ini kita cuma temen?” Ucap Baim pada akhirnya.

Nabila yang sedang asik menyantap makanan Baim terhenti, dan kemudian menatapnya dengan serius dan menganggukkan kepala. Baim yang meliat itu makin sedih dan bertanya-tanya.

“Lalu apa artinya hubungan kita selama ini?”

Nabila hanya bisa terdiam dan tertunduk tanpa suara, yang terdengar hanya tarikan napasnya saja.
           
“Kita sering keluar malam bareng, jalan bareng, nonton bareng, berpegangan tangan dan hampir berciuman di tempat karaoke. Semua itu cuma teman?” Lanjut Baim menambahkan.
            
Nabila perlahan mulai berani menatap Baim dan berkata rendah.
           
“Yaa...kita memang sering kayak gitu, tapi setiap bangun di pagi hari. Aku gak pernah merasa yakin sama kamu. Apakah kamu ini benar jodoh untuk sementara atau untuk selamanya.”
            
Mendegar itu Baim menundukkan kepala, menahan sedihnya. Nabila yang meliat reaksi Baim, langsung menyentuh tangan Baim dengan lembut.
            
“Menyakitkan yaa...” Baim berusaha bicara kembali. “Jika ternyata selama ini kamu hanya melakukan apa yang kamu inginin.” Lanjut Baim.
           
“Gak usah bersedih kayak gitu. Kamu cowok baik, lucu dan pintar. Suatu saat nanti kamu pasti bisa dapetin jodoh yang pantas untuk kamu.” Hibur Nabila pada Baim.
            
“Dan betapa menyakitkannya...” Lanjut Baim dengan mata yang semakin memerah. “Betapa menyakitkannya jika seseorang yang kamu yakini, justru tidak yakin pada dirimu dan malah justru memilih hidupya dengan oranglain.”
            
Nabila semakin menggenggam erat tangan Baim dan berkata, “udaahh gak perlu sedih kayak gitu. Kita tetap berteman kok, dan bahkan kamu bukan sekedar teman, melainkan sahabat terbaikku.”
            
Baim hanya bisa berdiri, mengambil uang dari dompetnya dan meletakkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah di atas meja, lalu meninggalkannya. Nabila hanya bisa berteriak memanggil namanya. Kini terungkap semua mengapa Nabila cepat sekali berubah dan alasan mengapa hati Baim terasa sakit di tiga hari terakhir ini, yaitu karena Baim mencintai Nabila pada saat pertama kali meliatnya, sedangkan Nabila tidak menaruh hati apapun pada Baim. Ketika keluar dari restoran itu, maka seluruh kisah cinta inipun berakhir.

Terlepas sudah genggaman tangan ini. Pupus sudah kisah ini. Saat seseorang memilikimu, aku kehilangan arti diriku. Saat kau marah saat kau sedih, aku memberikan semua kebahagiaan serta senyumanku untukmu. Karena dalam senyuman manismu. Aku menemukan ketenangan. Baim tidak tau mengapa hatinya berdebar, Baim juga tidak tau mengapa airmatanya tertumpah, yang Baim rasakan hanyalah Baim seperti kehilangan separuh dari dirinya.

Baim kembali pulang dengan menaiki taksi, tapi baru separuh perjalanan argo taksi sudah lebih dari limapuluh ribu. Uang Baim habis, dia lupa membawa kartu ATM untungnya dia masih ada tiket busway yang seingat dia masih ada sisa sekitar untuk dua kali perjalanan. Dia turun di daerah Galur, untuk lanjut naik busway. Namun sebelum itu dia meliat Masjid besar di sekitar shelter itu dan teringat jika dia belum shalat Isya. Baim menghampiri rumah Allah itu dengan menyebut nama kekasih-Nya, Muhammad. Tubuh lelahnya meronta meminta untuk dikuatkan. Baim merebahkan diri di teras Masjid, melepas sepatunya, lalu menaruhnya di rak tengah teras Masjid. Kemudian, dia beranjak ke tempat wudhu, sambil berwudhu entah sadar atau tidak dia mulai berkata dalam hati. Yaa Tuhanku, mengapa cinta sesulit ini? Sebelum memasuki Masjid, Baim meliat bulan purnama yang indah di malam ini, mengingatkan dia akan masa-masa bersama Nabila. Sekarang Baim hanya ditemani oleh bulan purnama itu yang sinarnya sampai ke halaman hatinya.

Usai berwudhu dia masuk ke dalam Masjid, ruanga Masjid yang sudah kosong, maklum karena sudah hampir jam sepuluh malam. Tubuh itu hanya bisa tertunduk tanpa berani memandang kaligrafi indah bertuliskan lafadz Allah dihadapannya. Sekali lagi dalam hati dia bertanya, Yaa Tuhanku, mengapa cinta sesulit ini? Tubuh lelah itu roboh sebelum dia tegak berdiri untuk shalat, dalam bayangannya dia meliat jika.

Pria itulah yang akan memegang tangannya, berjalan bersamanya, menari bersamanya, tertawa bersamanya dan menjalin cinta dengannya. Sedangkan Baim hanya masih bisa bahagia saat sms atau bbmnya cuma dibaca oleh Nabila. Baim merasa sadar jika dia adalah orang yang salah karena berada diantara mereka. Sebelum hatinya benar-benar hancur dia memilih untuk menyingkir. Namun sudah terlambat, Baim sudah terlampau dalam mencintainya, hingga merasa tidak bisa hidup tanpanya. Sementara dia, pada saat dia benar-benar mencintai pria itu, dia akan melupakan Baim, karena sebenarnya dia memang tidak pernah mencintai Baim.

Baim sungguh tidak tau apa yang diinginkan oleh seorang wanita.

Baim juga bingung harus mengadu pada siapa jika bukan pada Tuhannya. Baim beranjak bangkit, dia berdiri tepat di belakang tempat imam, menguatkan hati dan berniat shalat Isya. Dalam pikirannya sejenak teringat rencana-rencana besar yang sudah dia rancang bersama Nabila. Menikah, memiliki anak, membesarkannya dengan bimbingan agama dan cinta kasih. Baim membaca surat Al-Fatihah dengan sangat khidmat, dilanjutkan dengan surat An-Nur ayat 26 yang mengandung arti. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” Di rakaat kedua bibir gemetar Baim membaca surat Adh-Dhuha, yang kandungan artinya bisa menenangkan Baim, bahwa Allah tidak akan meninggalkannya dan tidak pula membencinya dan Allah mendapatinya sedang dalam keadaan bingung kemudian memberinya petunjuk. Selesai shalat Baim tidak mampu lagi menahan gemuruh yang ada di dadanya, dia tumpahkan semua pengaduan dan do’a.

Aku sangat bingung Yaa Allah, aku pasti melakukan kesalahan. Itu yang membuat-Mu tak mendengarkanku. Kumohon katakan dengan caramu...tunjukkan aku jalannya... Kumohon...

Aku sudah meminta dan memohon pada-Mu. Berharap Engkau memantaskan diriku untuknya.

Aku sudah bersujud...

Aku sudah bertahajud...

Aku sudah rutin melaksanakan shalat dhuha dilanjut dengan membaca surat Ar-Rahman dan Al-Waqiah...

Namun, hamba memang tidak mengerti apa itu cinta, hamba hanya kaum dhuafa cinta. Pemuka agama-Mu yang beragam, mengatakan hal yang berbeda satu sama lain...

Ada yang bilang kalo jodoh itu harus dikejar, ada yang bilang juga tidak perlu dikejar nanti datang sendiri.

Ada yang bilang cukup memperbaiki diri sendiri.

Ada yang bilang juga harus dicari.

Ada yang bilang yang penting diniatkan untuk ibadah.

Namun ada banyak yang hanya berniat untuk uang, hawa nafsu dan jabatan, tapi bisa memiliki cinta dan menikah.

Manakah yang salah dan manakah yang benar Yaa Allah... Aku tak mengerti... Tolong dengarkan Yaa Allah, aku butuh jawaban dan pertolongan-Mu... Bukankah Kau ini Tuhan alam semesta dan Tuhan orang-orang yang butuh pertolongan... Hamba sedang kalut dan putus asa Yaa Allah... Tolonglah hamba Yaa Allah... Kumohon.. Apapun yang Kau pinta akan aku lakukan...hanya saja kabulkan permohonanku... Kumohon... Katakanlah sesuatu... Tunjukkanlah sesuatu, bukan dengan semua keheningan dan kesepian ini...