PART 1
Pagi hari yang terik
itu dirusak oleh suara bom, tembakan, teriakan kesakitan dan tangis kehilangan.
Sudah hampir limabelas tahun Negara ini perang saudara. Sepagi ini Kota Putih,
sudah riuh ramai oleh perang membebaskan kota itu dari tangan para pemberontak.
Diantara para tentara muda itu terselip seorang pemuda yatim yang gagah berani,
Donny Al-Madyan namanya. Dia salah satu tentara muda terbaik, posisi garda
terdepan dalam perang ini, bersama dengan kesembilan orang teman lainnya.
Malang nasibnya hari ini.
Ketika matahari sudah semakin tinggi, dan panasnya terasa semakin menyengat.
Dia terkena tembak di posisi dada kanan atas, tidak mematikan tapi cukup dalam.
Darah segar mengalir dari tubuhnya. Dia jatuh tersungkur meminta bantuan. Namun
apalah yang dia harapkan, karena
nyatanya semua temannya yang ada di garda terdepan telah tewas terlebih
dahulu. Dia merangkak lemah di tanah, diantara lalu lalang letusan peluru dan
meriam. Menahan laju darah pada luka menganga yang ada di dada atas kanannya,
sambil berteriak meminta tolong dan bantuan.
Masalah lain pun
muncul, sudah ada beberapa meter dia merangkak menjauh dari medan pertempuran,
rasa haus tiba-tiba menyerangnya. Kerongkongannya tercekik rasa kering yang
amat sangat menyiksa. Kesadarannya pun menurun, dalam pelupuk matanya. Dia
melihat kedua orangtuanya tersenyum kepadanya. Dia melihat kenangan ketika
ayahnya membunuh ibunya di depan matanya. Masa-masa kecil yang sulit tanpa
orangtua dan makanan, serta masa remaja yang penuh perjuangan untuk bisa menjadi
seorang pasukan elit. Serta pendamping hidup yang setia. Lalu, tidak lama
kemudian dalam hitungan detik dia pingsan. Kalah oleh rasa haus dan lelah,
namun tidak kalah oleh hidup.
Pagi harinya. Pasukan pemerintah
menang. Para tentara pemberontak lari terbirit-birit meninggalkan kota.
Kemudian bagaiamana dengan nasib Donny?
Dia temukan oleh
seorang gadis cantik berkerudung merah, Wulan namanya. Dia hanya seorang gadis
desa biasa. Wulan meminta para relawan membawanya ke rumahnya, karena
rumahnyalah yang masih utuh di sekitar kota itu. Di hari yang terik itu pula,
Wulan merawat luka Donny. Mengompresnya dengan air ketika demam akibat luka itu
menyerang tubuh kekarnya. Berkat ketelatenan Wulan merawatnya tidak lama
berselang Donny tersadar. Kata pertama yang diucapkannya adalah air. Dengan sigap dia lalu memberinya
air. Perlahan tapi pasti Donny setengah tersadar, dia menatap lamat-lamat wajah
cantik Wulan.
“Apakah aku sudah mati?
Lalu masuk surga hingga bisa melihat bidadari?” Tanya Donny setengah tersadar.
Wulan tersenyum
medengarnya. Dia lalu menjelaskan jika setelah perang usai, dan dimenangkan
oleh pihak pemerintah. Komandan pasukan memerintahkan untuk mengumpulkan
tentara yang gugur dan dimakamkan dengan cara layak. Sedangkan untuk tentara
yang masih hidup di bawa ke tenda-tenda darurat atau rumah penduduk yang masih
layak untuk disinggahi. Untuk mendapatkan perawatan.
“Ohh…begitu. Jadi aku
selamat.” Ucap Donny.
Hening sejenak diantara
mereka. Donny sebenarnya ingin sekali berkenalan, namun dia malu. Rasanya
lidahnya keluh dan kata-kata yang ingin diucapkan menguap pergi dari pikirnya.
“Namaku Wulan.” Ucap
gadis itu sambil menjulurkan tangan.
Yaa Tuhan. Donny
terkejut dalam hati. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tidak menyangka
gadis itu malah menyebutkan namanya terlebih dahulu. Donny membalas dengan
cepat uluran tangan Wulan. Mereka saling bersalaman. Dan saat itu juga kisah
cinta itu dimulai.
Waktu bergulir amat
cepat. Wulan dan Donny menjadi sepasang kekasih di tengah perang yang masih
berkecamuk. Setelah kondisinya pulih total. Komandan pasukan memanggilnya
kembali untuk bertugas. Donny menerima panggilan mulia tersebut, tapi sebelum
dia pergi ke Ibukota. Dia meminta izin tiga bulan untuk menyelesaikan urusannya
yang penting.
Yaa…urusan itu adalah
menikahi Wulan kekasihnya. Dia menikahinya dengan rasa penuh cinta kasih. Dia
membeli dan membangun rumah sederhana dengan kebun anggrek yang indah di
halaman depan rumahnya. Anggrek adalah bunga kesukaan Wulan. Donny sangat paham
itu. Di depan rumahnya juga tertanam kokoh pohon maple yang cukup besar.
Menambah asri dan keindahan rumah itu.
Tiga bulan berlalu.
Kini saatnya Wulan melepas kepergian Donny. Bersama para prajurit lainnya.
Wulan melepasnya di stasiun kereta yang akan membawa Donny ke Ibukota. Dalam
perjalanan menuju peron Wulan tidak henti-hentinya menangis, dan Donny tidak
henti-hentinya juga menghiburnya dengan lagu-lagu yang indah dan penyemangat
untuk Wulan. Jika dia akan baik-baik saja. Tapi, Wulan tidaklah selugu yang
Donny kira. Ayah dan Ibunya meninggal dunia saat dia masih kecil, oleh para
tentara pemberontak yang persenjataannya lebih lengkap serta pasukan yang bisa
dibilang lebih hebat. Di saat itu juga Wulan memberi tahu Donny jika dia sedang
hamil.
Alangkah terkejutnya
Donny. Rasa bahagia dan sedih muncul bersamaan. Lagu mendapatkan dan kehilangan
menggaung di sekitarnya. Entah darimana lagu itu dia juga tidaklah tau. Dia
hanya bisa berucap.
“Aku berjanji padamu
akan kembali secepatnya. Karena aku juga ingin membesarkan anak kita bersama.
Aku ingin dia merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya, hal yang sudah
tidak kita dapatkan sejak kecil.”
Wulan tidak bisa
berkata apa-apa. Dia hanya bisa tertunduk dan menangis. Donny yang melihat
airmata Wulan mulai menetes terasa sakit, rasanya bagai disayat sembilu. Inilah
untuk pertama kalinya Wulan menangis setelah pernikahannya yang bahagia bersama
Donny.
“Janganlah menangis
sayang. Aku mohon hapus airmatamu. Di tengah terik matahari siamg aku akan
selalu mengingatmu. Mengingat bagaimana saat kita pertama kali bertemu dulu”
Donny memeluk Wulan.
“Tunggulah aku dengan
setia. Aku pasti kembali. Namun jika tahun depan yang kembali hanya nama dan
seragamku. Aku mohon sayang, janganlah engkau menangis.”