Sabtu, 26 November 2016

DESAHAN LINTANG



Di sebuah kamar rumah sakit di sudut kota Solo. Terbaring lemah seorang gadis cantik bernama Lintang. Parasnya amatlah mengagumkan, usianya sekitar enambelas tahun. Dia tersadar, membuka matanya perlahan. Selang infus menusuk dan menggenggam erat punggung tangannya. Lalu di tangan yang satunya lagi, tepatnya di lingkaran pergelangan, diperban amatlah erat dan rapat. Sekilas orang pasti sangatlah miris melihat keadaan Lintang. Dua tangannya sama-sama merasakan rasa sakit. Satu karena jarum infus dan satunya lagi karena perbuatannya memotong urat nadi.
         
Namun baginya. Rasa sakit ini bukanlah seberapa dibanding rasa sakit hatinya dan lelah pikirannya. Satu minggu yang lalu sebelum kejadian ini, dia mendengar dan menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar. Orangtuanya memang sering bertengkar, namun kali ini adalah pertengkaran paling hebat menurutnya. Karena sebelumnya memang ada pertengkaran yang hebat terlebih dahulu.
            
Ayahnya yang bertubuh besar dengan nada kejam menyebut jika ketika menikah dengan ibunya, dia sudah tidak lagi dalam keadaan perawan, dan Lintang bukanlah anaknya. Sungguh sedih dan miris hati Lintang mendengar itu.
            
“Tidak Mas, tidak seperti itu. Kamu berpikir terlalu jauh. Ini hanya masalah sepele.” Ucap ibunya menjelaskan dengan air mata yang berderai.
            
Lintang mengingat kembali kejadian itu. Ketika itu, Lintang yang menatap dari kejauhan hanya bisa terdiam dan meneteskan airmata tanpa bisa berbuat banyak.
            
“Halaah…alasan. Munafik. Sok suci.” Bentak ayahnya.
           
Paaakk…
            
Pertengkaran itu berakhir dengan satu pukulan ke pipi istrinya dan kemudian dia membanting pintu, keluar entah kemana.
            
Seperti itulah. Selalu seperti itu, ayah dan ibunya. Keduanya. Mereka adalah orang yang sukses meniti karir dibidangnya masing-masing. Hingga membiarkan Lintang yang sedari kecil hanya ditemani oleh kemewahan tanpa kasih sayang. Lintang yang selalu kalah melawan kesendirian. Mereka selalu sibuk diluar rumah. Tapi sekalinya dirumah, mereka selalu bertengkar.

Tok..tok..tok..
            
Suara pintu diketuk dari luar. Kedua orangtuanya masuk bersamaan tanpa perlu menunggu aba-aba darinya. Mereka menyapanya. Saling tegur-menegur, bergantian mencium keningnya, menanyakan kabar, membawakan buah, makanan dan minuman kesukaannya dan segala hal yang disukai.
            
Lintang sangat menyukai pemandangan ini. Sangat menyukai jika ayah dan ibunya serta dia saling berkumpul bersama. Saling becanda, tertawa dan melakukan hal-hal yang indah bersama. Harmonis. Tidak ada yang dia inginkan lagi selain hal ini. Terkadang dia merasa heran melihat ada beberapa temannya yang justru menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, terlena oleh kebahagiaan semu diluar rumah.
            
Waktu jenguk pasien habis, ayah dan ibunya kembali pergi. Setelah sebelumnya mereka berpamitan. Saling bergantian memeluk dan mencium kening Lintang. Dia melihat punggung kedua orangtuanya saat keluar kamar. Sungguh amat serasi, Lintang tersenyum melihatnya.
            
Namun ketika pintu ditutup. Maka saat itu juga. Lintang sekali lagi kalah dan lemah melawan kesendirian. Dengan hati-hati meraba berkas jeratan tali yang ada di lehernya, yang tiba-tiba terasa gatal. Itu adalah bekas percobaan bunuh diri pertama saat orangtuanya bertengkar hebat. Airmata mulai mengalir membasahi pipinya, sebisa mungkin dia menahannya namun hatinya terasa makin sakit. Hingga rembesan rasa sakitnya itu keluar dalam bentuk bulir-bulir bening.
            
Lalu dia menatap tangan kirinya. Menatap balutan rapat jahitan yang masih basah. Ini percobaan bunuh diri kedua pada saat orangtuanya bertengkar paling hebat.
            
Semakin dia dalam mengingat semua itu semakin deras pula airmata yang tertumpah. Dia mendesah perlahan. Ahh..apakah harus seperti ini terus agar mereka tidak bertengkar dan memperhatikanku?
********
Huuffhh…Lintang menghela napas, menatap lamat-lamat awan yang menggumpal dari jendela pesawat. Kejadian barusan sudah lama sekali tertinggal di belakang. Sekarang dia adalah seorang Dokter lulusan akademi Jerman. Dia baru saja menyelesaikan pendidikannya dan berniat kembali ke tanah air untuk membantu memajukan negara lewat caranya sendiri.
            
Dia berubah. Penampilannya yang sekarang bukanlah Lintang yang lemah, tapi Lintang yang kuat. Bukan Lintang yang pucat, tapi Lintang yang cantik. Bukan Lintang yang pemurung tapi Lintang yang periang.
            
Sehari sebelum berangkat sekalian mengirim dokumen-dokumen yang dibutuhkan, dia sempat berkomunikasi lewat email. Mengabarkan kepada sahabatnya jika esok dia akan tiba di Jakarta.
            
Seorang sahabat yang sangat penting dan berharga bagi Lintang. Hingga dia rela menyerahkan hidupnya untuk sahabatnya tersebut.
            
Mungkin sahabatnya itu saat ini sedang membaca sepenggal kisahnya.

AINI KECIL MEMBENCI HUJAN



Malam itu. Langit gelap, tertutup awan mendung hampir di setiap penjurunya. Angin bertiup riuh kencang dengan dingin menusuk, diselingi sahut-sahutan petir yang menggelegar. Beberapa menit kemudian turunlah air berkah dari langit. Terkadang hal ini tidaklah disukai oleh sebagian orang, karena dianggap mengganggu aktivitas mereka. Namun tidak dengan kedua pasangan muda ini.

Lihatlah senyum indah mereka ditengah hujan ini. Mereka sedang menunggu kelahiran dari anak pertama mereka. Si pria dengan tabah menemani dalam proses kelahiran. Sedangkan si wanita, walaupun terlihat dalam kondisi yang tidak baik, namun tetap memasang wajah seolah semua akan baik-baik saja.

Proses kelahiran yang sangat sulit. Si wanita mengalami pendarahan yang sangat luar biasa hebat. Namun tim dokter berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan dengan baik proses kelahiran ini. Hingga tidak lama berselang lahirlah bayi perempuan yang sangat cantik, meskipun dengan tangisan yang terdengar sedikit berbeda.

Si pria sudah resmi menjadi sang ayah. Dia terlihat sangat bahagia. Dengan tingkah yang agak terburu-buru, dia langsung melantunkan suara adzan di telinga putri mereka, meskipun dengan agak terbata-bata. Lalu, bayi itu langsung diberikan kepada suster untuk diurus. Karena si pria harus bergegas menemui si wanita yang terbaling lemah.

Dilihatlah jika wanitanya sudah tidak tertolong lagi. Hingga beberapa menit kemudian, karena mengalami pendarahan yang parah, dia menghebuskan nafasnya menghadap Sang Pencipta.
            
“Tolong jaga anak kii..ta.” Pinta si wanita dengan lemah sebelum menutup mata untuk selamanya..
           
Malam itu. Gadis kecil tersebut resmi menjadi yatim.
~~~~~~~~
Empat tahun berselang. Di rumah yang terletak jauh dari keramaian hingar bingar kota. Di sebuah rumah sederhana nan indah, terletak di atas bukit kecil yang hijau. Suasananya sangat ramai, namun terkesan sepi. Dipenuhi oleh orang-orang berbaju hitam yang berlalu lalang. Sanak famili yang datang serta para sahabat dan beberapa orang yang dikenal ikut hadir guna melihat sosok baik itu untuk terakhir kalinya. Yaa…si pria kini telah meninggal dunia. Menyusul kematian si wanita empat tahun yang lalu.

Anaknya yang kini berusia empat tahun belum terlalu mengerti apa yang terjadi. Tidak mengerti jika di hari ini dia sudah resmi menjadi yatim piatu. Dengan memakai kerudung merah warisan ibunya, dia hanya duduk termenung di atas ayunan kayu yang dibuatkan oleh ayahnya, sambil memeluk boneka beruang pink. Boneka yang diberikan oleh ibunya, yang sengaja dibeli ibunya sebelum dia lahir. Berayun-ayun lembut dibawah pohon mangga di halaman depan rumahnya.
            
Dia hanya terdiam tanpa suara menatap redup dengan mata sendunya kepada setiap orang yang datang. Saling bersalaman, memasukan uang ke dalam wadah besar yang atasnya ditutup oleh sehelai selendang. Melihat orang-orang itu duduk takzim menatap ayahnya dan melantunkan beberapa ayat suci atau beberapa do’a serta shalawat.

Sungguh. Walaupun gadis kecil itu tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Namun perlahan airmata menetes membasahi pipinya, membentuk dua parit tipis yang jernih, tertahan sejenak di dagu, membulat. Lalu jatuh membuncah menghujam bumi, yang membuat langit cerah perlahan tertutup oleh awan mendung seketika.
~~~~~~~~
Dua tahun kemudian. Usia gadis kecil itu sudah enam tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang sangat cantik. Kulitnya putih, rambutnya lurus panjang dan agak pirang, matanya bundar, bibirnya tipis, pipinya kemerahan. Dan lihatlah jika dia tersenyum. Subhanallaaah, lesung pipinya sangatlah manis. Namun dibalik semua keindahan itu dia berbeda dengan teman-teman seusianya.
          
Di saat teman-teman seusianya saling bermain dan bercengkrama dengan sesama dan dengan orangtua mereka. Dia hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Duduk termenung ditengah ketidakmengertiannya terhadap hidup. Aini, nama gadis kecil itu. Justru dengan cerdas membenak dalam hati bertanya dimanakah orangtuanya? Mengapa dia ditinggalkan seorang diri?

Tanpa ayah dan ibu ketika dia membuka mata. Ingin rasanya dia berteriak untuk memanggil dan mencari kedua orangtuanya, namun apa daya sekecil apapun suara. Tidak akan ada yang keluar dari tenggorokannya. Karena sejak kecil dia sudah dinyatakan bisu oleh Dokter.

Semua teman seusianya menjauhinya, dan ketika ingin mendapatkan perhatian dari sosok orangtua, dia juga tidak menemukannya. Sungguh malang nasib Aini kecil. Hampir di setiap harinya dia hanya termenung duduk di atas ayunan kayu buatan ayahnya, memeluk boneka beruang pink pemberian ibunya. Tak jarang airmata jatuh menetes di pipinya yang tembem dan kemerahan itu. Ahh..mungkin sudah banyak juga airmatanya yang menetes.
            
Airmata yang membuat langitpun seolah menangis menyaksikannya. Menyaksikan Aini kecil menangis sambil berdo’a mencari wajah Tuhan agar dipertemukan dengan orangtuanya. Dalam balutan hujan ini, di mana pintu-pintu langit terbuka. Aini kecil ingin bertanya langsung pada-Mu, tanpa perantara. Dia mendongakkan kepalanya ke arah langit.
            
Berharap ada guratan atau lukisan kedua orangtuanya di langit sana. Sebentar saja, dia hanya ingin sebentar saja melihat kedua orangtuanya tersenyum kepadanya. Sambil bertanya polos, kapan aku akan berkumpul bersama kalian? Ingin aku terbang ke langit Tuhan untuk menemui kalian disana, namun sayapku masih terlalu kecil.
            
Begitulah yang Aini lakukan ketika dalam kesepian, begitu juga dalam hujan. Aini membenci hujan.