Sabtu, 26 November 2016

AINI KECIL MEMBENCI HUJAN



Malam itu. Langit gelap, tertutup awan mendung hampir di setiap penjurunya. Angin bertiup riuh kencang dengan dingin menusuk, diselingi sahut-sahutan petir yang menggelegar. Beberapa menit kemudian turunlah air berkah dari langit. Terkadang hal ini tidaklah disukai oleh sebagian orang, karena dianggap mengganggu aktivitas mereka. Namun tidak dengan kedua pasangan muda ini.

Lihatlah senyum indah mereka ditengah hujan ini. Mereka sedang menunggu kelahiran dari anak pertama mereka. Si pria dengan tabah menemani dalam proses kelahiran. Sedangkan si wanita, walaupun terlihat dalam kondisi yang tidak baik, namun tetap memasang wajah seolah semua akan baik-baik saja.

Proses kelahiran yang sangat sulit. Si wanita mengalami pendarahan yang sangat luar biasa hebat. Namun tim dokter berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan dengan baik proses kelahiran ini. Hingga tidak lama berselang lahirlah bayi perempuan yang sangat cantik, meskipun dengan tangisan yang terdengar sedikit berbeda.

Si pria sudah resmi menjadi sang ayah. Dia terlihat sangat bahagia. Dengan tingkah yang agak terburu-buru, dia langsung melantunkan suara adzan di telinga putri mereka, meskipun dengan agak terbata-bata. Lalu, bayi itu langsung diberikan kepada suster untuk diurus. Karena si pria harus bergegas menemui si wanita yang terbaling lemah.

Dilihatlah jika wanitanya sudah tidak tertolong lagi. Hingga beberapa menit kemudian, karena mengalami pendarahan yang parah, dia menghebuskan nafasnya menghadap Sang Pencipta.
            
“Tolong jaga anak kii..ta.” Pinta si wanita dengan lemah sebelum menutup mata untuk selamanya..
           
Malam itu. Gadis kecil tersebut resmi menjadi yatim.
~~~~~~~~
Empat tahun berselang. Di rumah yang terletak jauh dari keramaian hingar bingar kota. Di sebuah rumah sederhana nan indah, terletak di atas bukit kecil yang hijau. Suasananya sangat ramai, namun terkesan sepi. Dipenuhi oleh orang-orang berbaju hitam yang berlalu lalang. Sanak famili yang datang serta para sahabat dan beberapa orang yang dikenal ikut hadir guna melihat sosok baik itu untuk terakhir kalinya. Yaa…si pria kini telah meninggal dunia. Menyusul kematian si wanita empat tahun yang lalu.

Anaknya yang kini berusia empat tahun belum terlalu mengerti apa yang terjadi. Tidak mengerti jika di hari ini dia sudah resmi menjadi yatim piatu. Dengan memakai kerudung merah warisan ibunya, dia hanya duduk termenung di atas ayunan kayu yang dibuatkan oleh ayahnya, sambil memeluk boneka beruang pink. Boneka yang diberikan oleh ibunya, yang sengaja dibeli ibunya sebelum dia lahir. Berayun-ayun lembut dibawah pohon mangga di halaman depan rumahnya.
            
Dia hanya terdiam tanpa suara menatap redup dengan mata sendunya kepada setiap orang yang datang. Saling bersalaman, memasukan uang ke dalam wadah besar yang atasnya ditutup oleh sehelai selendang. Melihat orang-orang itu duduk takzim menatap ayahnya dan melantunkan beberapa ayat suci atau beberapa do’a serta shalawat.

Sungguh. Walaupun gadis kecil itu tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Namun perlahan airmata menetes membasahi pipinya, membentuk dua parit tipis yang jernih, tertahan sejenak di dagu, membulat. Lalu jatuh membuncah menghujam bumi, yang membuat langit cerah perlahan tertutup oleh awan mendung seketika.
~~~~~~~~
Dua tahun kemudian. Usia gadis kecil itu sudah enam tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang sangat cantik. Kulitnya putih, rambutnya lurus panjang dan agak pirang, matanya bundar, bibirnya tipis, pipinya kemerahan. Dan lihatlah jika dia tersenyum. Subhanallaaah, lesung pipinya sangatlah manis. Namun dibalik semua keindahan itu dia berbeda dengan teman-teman seusianya.
          
Di saat teman-teman seusianya saling bermain dan bercengkrama dengan sesama dan dengan orangtua mereka. Dia hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Duduk termenung ditengah ketidakmengertiannya terhadap hidup. Aini, nama gadis kecil itu. Justru dengan cerdas membenak dalam hati bertanya dimanakah orangtuanya? Mengapa dia ditinggalkan seorang diri?

Tanpa ayah dan ibu ketika dia membuka mata. Ingin rasanya dia berteriak untuk memanggil dan mencari kedua orangtuanya, namun apa daya sekecil apapun suara. Tidak akan ada yang keluar dari tenggorokannya. Karena sejak kecil dia sudah dinyatakan bisu oleh Dokter.

Semua teman seusianya menjauhinya, dan ketika ingin mendapatkan perhatian dari sosok orangtua, dia juga tidak menemukannya. Sungguh malang nasib Aini kecil. Hampir di setiap harinya dia hanya termenung duduk di atas ayunan kayu buatan ayahnya, memeluk boneka beruang pink pemberian ibunya. Tak jarang airmata jatuh menetes di pipinya yang tembem dan kemerahan itu. Ahh..mungkin sudah banyak juga airmatanya yang menetes.
            
Airmata yang membuat langitpun seolah menangis menyaksikannya. Menyaksikan Aini kecil menangis sambil berdo’a mencari wajah Tuhan agar dipertemukan dengan orangtuanya. Dalam balutan hujan ini, di mana pintu-pintu langit terbuka. Aini kecil ingin bertanya langsung pada-Mu, tanpa perantara. Dia mendongakkan kepalanya ke arah langit.
            
Berharap ada guratan atau lukisan kedua orangtuanya di langit sana. Sebentar saja, dia hanya ingin sebentar saja melihat kedua orangtuanya tersenyum kepadanya. Sambil bertanya polos, kapan aku akan berkumpul bersama kalian? Ingin aku terbang ke langit Tuhan untuk menemui kalian disana, namun sayapku masih terlalu kecil.
            
Begitulah yang Aini lakukan ketika dalam kesepian, begitu juga dalam hujan. Aini membenci hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar