Di sebuah kamar rumah sakit di sudut
kota Solo. Terbaring lemah seorang gadis cantik bernama Lintang. Parasnya
amatlah mengagumkan, usianya sekitar enambelas tahun. Dia tersadar, membuka
matanya perlahan. Selang infus menusuk dan menggenggam erat punggung tangannya.
Lalu di tangan yang satunya lagi, tepatnya di lingkaran pergelangan, diperban
amatlah erat dan rapat. Sekilas orang pasti sangatlah miris melihat keadaan
Lintang. Dua tangannya sama-sama merasakan rasa sakit. Satu karena jarum infus
dan satunya lagi karena perbuatannya memotong urat nadi.
Namun
baginya. Rasa sakit ini bukanlah seberapa dibanding rasa sakit hatinya dan
lelah pikirannya. Satu minggu yang lalu sebelum kejadian ini, dia mendengar dan
menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar. Orangtuanya memang sering bertengkar,
namun kali ini adalah pertengkaran paling hebat menurutnya. Karena sebelumnya
memang ada pertengkaran yang hebat terlebih dahulu.
Ayahnya
yang bertubuh besar dengan nada kejam menyebut jika ketika menikah dengan
ibunya, dia sudah tidak lagi dalam keadaan perawan, dan Lintang bukanlah
anaknya. Sungguh sedih dan miris hati Lintang mendengar itu.
“Tidak
Mas, tidak seperti itu. Kamu berpikir terlalu jauh. Ini hanya masalah sepele.”
Ucap ibunya menjelaskan dengan air mata yang berderai.
Lintang
mengingat kembali kejadian itu. Ketika itu, Lintang yang menatap dari kejauhan
hanya bisa terdiam dan meneteskan airmata tanpa bisa berbuat banyak.
“Halaah…alasan.
Munafik. Sok suci.” Bentak ayahnya.
Paaakk…
Pertengkaran
itu berakhir dengan satu pukulan ke pipi istrinya dan kemudian dia membanting
pintu, keluar entah kemana.
Seperti
itulah. Selalu seperti itu, ayah dan ibunya. Keduanya. Mereka adalah orang yang
sukses meniti karir dibidangnya masing-masing. Hingga membiarkan Lintang yang
sedari kecil hanya ditemani oleh kemewahan tanpa kasih sayang. Lintang yang
selalu kalah melawan kesendirian. Mereka selalu sibuk diluar rumah. Tapi
sekalinya dirumah, mereka selalu bertengkar.
Tok..tok..tok..
Suara
pintu diketuk dari luar. Kedua orangtuanya masuk bersamaan tanpa perlu menunggu
aba-aba darinya. Mereka menyapanya. Saling tegur-menegur, bergantian mencium
keningnya, menanyakan kabar, membawakan buah, makanan dan minuman kesukaannya
dan segala hal yang disukai.
Lintang
sangat menyukai pemandangan ini. Sangat menyukai jika ayah dan ibunya serta dia
saling berkumpul bersama. Saling becanda, tertawa dan melakukan hal-hal yang
indah bersama. Harmonis. Tidak ada yang dia inginkan lagi selain hal ini.
Terkadang dia merasa heran melihat ada beberapa temannya yang justru
menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, terlena oleh kebahagiaan semu diluar
rumah.
Waktu
jenguk pasien habis, ayah dan ibunya kembali pergi. Setelah sebelumnya mereka
berpamitan. Saling bergantian memeluk dan mencium kening Lintang. Dia melihat
punggung kedua orangtuanya saat keluar kamar. Sungguh amat serasi, Lintang
tersenyum melihatnya.
Namun
ketika pintu ditutup. Maka saat itu juga. Lintang sekali lagi kalah dan lemah
melawan kesendirian. Dengan hati-hati meraba berkas jeratan tali yang ada di
lehernya, yang tiba-tiba terasa gatal. Itu adalah bekas percobaan bunuh diri pertama
saat orangtuanya bertengkar hebat. Airmata mulai mengalir membasahi pipinya,
sebisa mungkin dia menahannya namun hatinya terasa makin sakit. Hingga rembesan
rasa sakitnya itu keluar dalam bentuk bulir-bulir bening.
Lalu
dia menatap tangan kirinya. Menatap balutan rapat jahitan yang masih basah. Ini
percobaan bunuh diri kedua pada saat orangtuanya bertengkar paling hebat.
Semakin
dia dalam mengingat semua itu semakin deras pula airmata yang tertumpah. Dia
mendesah perlahan. Ahh..apakah harus
seperti ini terus agar mereka tidak bertengkar dan memperhatikanku?
********
Huuffhh…Lintang menghela napas, menatap
lamat-lamat awan yang menggumpal dari jendela pesawat. Kejadian barusan sudah
lama sekali tertinggal di belakang. Sekarang dia adalah seorang Dokter lulusan
akademi Jerman. Dia baru saja menyelesaikan pendidikannya dan berniat kembali
ke tanah air untuk membantu memajukan negara lewat caranya sendiri.
Dia
berubah. Penampilannya yang sekarang bukanlah Lintang yang lemah, tapi Lintang
yang kuat. Bukan Lintang yang pucat, tapi Lintang yang cantik. Bukan Lintang
yang pemurung tapi Lintang yang periang.
Sehari
sebelum berangkat sekalian mengirim dokumen-dokumen yang dibutuhkan, dia sempat
berkomunikasi lewat email. Mengabarkan kepada sahabatnya jika esok dia akan
tiba di Jakarta.
Seorang
sahabat yang sangat penting dan berharga bagi Lintang. Hingga dia rela
menyerahkan hidupnya untuk sahabatnya tersebut.
Mungkin
sahabatnya itu saat ini sedang membaca sepenggal kisahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar