Fenny menghela napas perlahan. Airmata tak
berhenti mengalir di pipinya. Dia menatap Rio disampingnya, mengemudikan mobil
dengan amat hati-hati. Mereka harus buru-buru, karena sebentar lagi mungkin
acara pemakaman akan segera dimulai.
Fenny
tak enak hati meninggalkan abangnya sendirian di rumah sakit, padahal dia sudah
berjanji akan datang menemuinya. Namun rencana itu gagal, sebab ada keperluan
yang lebih mendesak.
“Kamu
gak apa-apa kan, yang?” Tanya Rio,
cemas.
Fenny
mengangguk patah-patah. Menunduk. Menatap perutnya yang sudah semakin membesar.
Bulan ini sudah tepat sembilan bulan usia kandungannya, dan jika dokter tidak
salah prediksi. Dia akan melahirkan sekitar satu atau dua minggu lagi.
“Tak
apa. Anggit adalah orang baik. Dia pasti bisa memakluminya. Apalagi kamu
mengirim Desy untuk menyampaikan pesan kepadanya.”
Fenny
sekali lagi mengangguk.
Menatap
takzim pada Rio. Sosok yang awalnya membawa keraguan dan bencana dalam dirinya.
Tapi tetap saja, dia tidak bisa meninggalkannya. Padahal tepat dua tahun lalu. Dia
sudah berani meninggalkannya. Menata hatinya untuk menjauhi cinta beda
keyakinan yang mereka jalani.
~~~~~~~~
Setelah wahyu turun kepada Muhammad. Zainab menyatakan
diri beriman kepada agama baru yang dibawa ayahnya itu. Abul Ash tidak
berbantah. Ia juga sama sekali tidak menunjukkan permusuhan kepada Muhammad dan
beserta para pengikutnya.
Meski Abul Ash tetap syirik dan
tidak mau menerima Islam. Tetapi cintanya kepada Zainab sama sekali tidak
berubah. Ia tetap berlaku baik kepada Zainab. Begitu pula dengan Zainab, ia
tetap mencitai Abul Ash dan mengaguminya. Serta tak henti berdo’a kepada Allah
agar hatinya diarahkan pada Islam.
Tatkala kaum Quraisy Mekkah keluar
dalam expedisi Perang Badar, Abul Ash ikut di dalamnya. Bersama mereka ia
pongah dan berbulat hati untuk membasmi Islam. Ditinggalkan Zainab di Mekkah
dengan pikiran kalut dan hati terbagi. Di satu sisi, ia mencemaskan ayahnya dan
para pengikutnya. Disisi lain ia takut suaminya celaka.
Perang usai. Takdir terjawab. Umat Islam
yang dipimpin Nabi Muhammad SAW menang, sedangkan suaminya selamat, meski
ditawan. Legalah hati Zainab sekarang, tau jika ayahnya yang mulia akan
memperlakukan para tawanan dengan sangat baik.
Satu per satu orang-orang musyrik
mengirim utusan untuk menebus keluarganya. Tapi Zainab tidak punya apa-apa
selain seuntai kalung pribadi. Kalung hadiah dari ibunya saat dia diserahkan
sebagai istri kepada Abul Ash. Zainab tau kalung itu berharga dan tak ternilai
harganya. Namun kecintaannya terhadap suami telah memudarkan kenangan indah
dibalik kalung itu.
Dan kini. Kalung itu ada dihadapan
Nabi Muhammad SAW. Beberapa orang kerabat Abul Ash yang sengaja diutus Zainab
untuk menebus suaminya datang membawanya. Dan Nabi Muhammad SAW tak pelak lagi
segera mengenali kalung itu. Detak jantungnya menjadi lebih cepat, hatinya
pedih bagai disayat sembilu, airmata perlahan menitik di pipi beliau.
Tiba-tiba, kalung itu memijarkan
pelangi kenangan, membawa beliau menyusuri hari-hari penuh cinta yang indah
bersama Khadijah. Ya, kalung itu dulu milik Khadijah yang lalu berpindah ke
tangan putrinya Zainab.
Nabi Muhammad SAW tak ingin
mencerabut kenangan indah itu dari hati Zainab. Tetapi beliau juga tak ingin
mencabut hak prajurit atas harta ghanimah. Maka diungkapkanlah isi hati beliau
kepada mereka dengan tutur kata yang lembut dan memukau. Beliau bersabda tanpa
aksen memerintah ataupun mengharuskan.
“Kalau tidak keberatan, kalian
serahkan kepada Zainab tawanannya berikut kalungnya.”
Fenny
menatap dalam buku yang sedang dia baca. Belum ada separuh buku, namun rasa
sakitnya sudah seperti menusuk ke dalam tulang. Kisah cinta beda keyakinan yang
pertama kali terjadi di dunia, justru berawal dari keluarga Nabi Muhammad SAW.
Ayah,
ibu serta abangnya sedang asik berbincang dan bercengkrama di ruang tengah. Sedangkan
dia sedang tenggelam dalam keingintahuannya akan cinta. Bukan sembarang cinta,
namun cinta beda agama.
Tak
terbayang olehnya. Seorang manusia pilihan saja bisa bersedih olehnya apalagi
dia yang manusia biasa. Bukan hanya janji kebahagiaan. Lika-liku kesedihan juga
sudah terbayang dibenaknya. Bagi sebagian orang bahkan menyebut cinta beda
agama seperti orang naik komidi putar. Berasa bergerak melangkah maju, naik dan
ke atas, namun nyatanya tidak kemana-mana. Tetap diam di tempat.
Perbedaan
memang indah jika sebatas menghormati. Jangan kau paksakan imanmu pada
seseorang. Karena hanya ada satu hati untuk satu Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar