Minggu, 04 Desember 2016

CINTA SATU TUHAN



Fenny menghela napas perlahan. Airmata tak berhenti mengalir di pipinya. Dia menatap Rio disampingnya, mengemudikan mobil dengan amat hati-hati. Mereka harus buru-buru, karena sebentar lagi mungkin acara pemakaman akan segera dimulai.

Fenny tak enak hati meninggalkan abangnya sendirian di rumah sakit, padahal dia sudah berjanji akan datang menemuinya. Namun rencana itu gagal, sebab ada keperluan yang lebih mendesak.
            
“Kamu gak apa-apa kan, yang?” Tanya Rio, cemas.
            
Fenny mengangguk patah-patah. Menunduk. Menatap perutnya yang sudah semakin membesar. Bulan ini sudah tepat sembilan bulan usia kandungannya, dan jika dokter tidak salah prediksi. Dia akan melahirkan sekitar satu atau dua minggu lagi.
            
“Tak apa. Anggit adalah orang baik. Dia pasti bisa memakluminya. Apalagi kamu mengirim Desy untuk menyampaikan pesan kepadanya.”
            
Fenny sekali lagi mengangguk.
            
Menatap takzim pada Rio. Sosok yang awalnya membawa keraguan dan bencana dalam dirinya. Tapi tetap saja, dia tidak bisa meninggalkannya. Padahal tepat dua tahun lalu. Dia sudah berani meninggalkannya. Menata hatinya untuk menjauhi cinta beda keyakinan yang mereka jalani.
~~~~~~~~
Setelah wahyu turun kepada Muhammad. Zainab menyatakan diri beriman kepada agama baru yang dibawa ayahnya itu. Abul Ash tidak berbantah. Ia juga sama sekali tidak menunjukkan permusuhan kepada Muhammad dan beserta para pengikutnya.
            
Meski Abul Ash tetap syirik dan tidak mau menerima Islam. Tetapi cintanya kepada Zainab sama sekali tidak berubah. Ia tetap berlaku baik kepada Zainab. Begitu pula dengan Zainab, ia tetap mencitai Abul Ash dan mengaguminya. Serta tak henti berdo’a kepada Allah agar hatinya diarahkan pada Islam.
            
Tatkala kaum Quraisy Mekkah keluar dalam expedisi Perang Badar, Abul Ash ikut di dalamnya. Bersama mereka ia pongah dan berbulat hati untuk membasmi Islam. Ditinggalkan Zainab di Mekkah dengan pikiran kalut dan hati terbagi. Di satu sisi, ia mencemaskan ayahnya dan para pengikutnya. Disisi lain ia takut suaminya celaka.
            
Perang usai. Takdir terjawab. Umat Islam yang dipimpin Nabi Muhammad SAW menang, sedangkan suaminya selamat, meski ditawan. Legalah hati Zainab sekarang, tau jika ayahnya yang mulia akan memperlakukan para tawanan dengan sangat baik.
            
Satu per satu orang-orang musyrik mengirim utusan untuk menebus keluarganya. Tapi Zainab tidak punya apa-apa selain seuntai kalung pribadi. Kalung hadiah dari ibunya saat dia diserahkan sebagai istri kepada Abul Ash. Zainab tau kalung itu berharga dan tak ternilai harganya. Namun kecintaannya terhadap suami telah memudarkan kenangan indah dibalik kalung itu.
            
Dan kini. Kalung itu ada dihadapan Nabi Muhammad SAW. Beberapa orang kerabat Abul Ash yang sengaja diutus Zainab untuk menebus suaminya datang membawanya. Dan Nabi Muhammad SAW tak pelak lagi segera mengenali kalung itu. Detak jantungnya menjadi lebih cepat, hatinya pedih bagai disayat sembilu, airmata perlahan menitik di pipi beliau.
            
Tiba-tiba, kalung itu memijarkan pelangi kenangan, membawa beliau menyusuri hari-hari penuh cinta yang indah bersama Khadijah. Ya, kalung itu dulu milik Khadijah yang lalu berpindah ke tangan putrinya Zainab.
            
Nabi Muhammad SAW tak ingin mencerabut kenangan indah itu dari hati Zainab. Tetapi beliau juga tak ingin mencabut hak prajurit atas harta ghanimah. Maka diungkapkanlah isi hati beliau kepada mereka dengan tutur kata yang lembut dan memukau. Beliau bersabda tanpa aksen memerintah ataupun mengharuskan.
            
“Kalau tidak keberatan, kalian serahkan kepada Zainab tawanannya berikut kalungnya.”
            
Fenny menatap dalam buku yang sedang dia baca. Belum ada separuh buku, namun rasa sakitnya sudah seperti menusuk ke dalam tulang. Kisah cinta beda keyakinan yang pertama kali terjadi di dunia, justru berawal dari keluarga Nabi Muhammad SAW.
            
Ayah, ibu serta abangnya sedang asik berbincang dan bercengkrama di ruang tengah. Sedangkan dia sedang tenggelam dalam keingintahuannya akan cinta. Bukan sembarang cinta, namun cinta beda agama.
            
Tak terbayang olehnya. Seorang manusia pilihan saja bisa bersedih olehnya apalagi dia yang manusia biasa. Bukan hanya janji kebahagiaan. Lika-liku kesedihan juga sudah terbayang dibenaknya. Bagi sebagian orang bahkan menyebut cinta beda agama seperti orang naik komidi putar. Berasa bergerak melangkah maju, naik dan ke atas, namun nyatanya tidak kemana-mana. Tetap diam di tempat.

Perbedaan memang indah jika sebatas menghormati. Jangan kau paksakan imanmu pada seseorang. Karena hanya ada satu hati untuk satu Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar