Mereka
sampai di tempat tujuan di gedung yang ada di kawasan Taman Mini, mereka turun
di seberang gedungnya. Nabila merasa agak tersiksa karena harus memakai sepatu
hak tinggi yang belum biasa dia pakai, untung saja pada saat menyebrang ada
lengan dan bahu Baim yang nyaman, hingga dia pun bisa menyeberang dengan cukup
leluasa. Hari minggu ini cuacanya sungguh sangat mendukung, tidak panas tidak
juga hujan. Hanya mendung sendu, dengan suasana keliling yang sangat indah.
Pepohonan hijau yang rindang serta bau rumput yang habis tersiram embun pagi,
beberapa warna-warna bunga liar bermerkaran di pinggir jalan kawasan ini.
Sungguh suasana yang sangat indah serta romantis jika kita sedang berdua dengan
orang yang kita sayangi.
Di tempat resepsi, Baim dan Nabila
yang kebetulan sudah sangat lapar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka
berdua masing-masing amplopin limapuluh ribu rupiah dan mereka gak mau kelewat
satupun stand makanan yang ada.
Berhubung orang HRGA itu dapet suami yang tajir pemilik salah satu restoran
besar di Jakarta, maka berbagai jenis makanan lezat ada di sini selain menu
utama yang mewah ada juga sate kambing, sate ayam, ikan salmon, bakso malang,
soto ayam, pasta, burger mini, aneka buah, kue-kue kecil dan minuman cola.
Hampir semua antrian mereka ikuti bahkan tanpa sengaja mereka juga ikut antrian
toilet, tapi pas sadar mereka saling tertawa, bahkan Nabila sampai ketawa
ngakak di depan Baim. Baim sungguh benar-benar terpesona meilat tawa ngakak
Nabila, hingga dunianya seperti teralihkan dan terlupakan.
Setelah puas makan dan saling
mengobrol dengan temen-temen karyawan lainnya mereka pamit pulang. Namun pas
meliat jam tangan, masih sekitar jam duabelas kurang, Nabila merasa masih
banyak waktu di hari ini. Suatu kebetulan yang amat sangat luar biasa bagi
Baim, karena di saat yang bersamaan pula, Baim memang ingin mengajak main
Nabila sehabis kondangan dan di sela-sela bermain dan kebersamaan itu. Baim
ingin menyatakan perasaannya terhadap Nabila. Selain menyiapkan perasaan dan
kata-kata, Baim juga sudah sedia banyak uang untuk hari ini.
“Gimana kalo kita main-main dulu.”
Ucap Baim.
Nabila menatap Baim dengan raut
senyuman yang keheranan. Merasa jika Baim pandai membaca suasana hatinya.
“Yaa main-main kemana gitu. Ke mall
atau tempat-tempat yang lain.”
“Mau ngapain di sana?” Tanya Nabila
lebih lanjut.”
“Makan.” Jawab Baim singkat.
“Tadi kan udah makan kenyang.”
“Kalo gitu nonton, atau karokean,
atau pijat refleksi atau yang lainnya.”
Nabila tersenyum dan mengiyakan ide
Baim tersebut. Mereka naik taksi lagi untuk mencari mall terdekat. Setelah
sampai mereka tidak lupa untuk shalat Dzuhur terlebih dahulu. Baim mengganti
bajunya dengan baju kaos yang sudah dia pakai sebagai kaos dalam sebelumnya,
sedangkan batiknya dia titip di tas Nabila. Sementara Nabila juga ganti memakai
kaos tapi tetap dengan sepatu hak tinggi yang cukup menyiksanya. Setelah
selesai shalat dan masing-masing berganti kostum, mereka menuju tempat bioskop.
Sejak mendekati Nabila, Baim jadi up to
date soal film, padahal sebelum kenal Nabila, Baim hampir gak pernah ke
bioskop dan tidak peduli tentang film. Terakhir kali dia nonton di bioskop
adalah film petualangan Sherina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar