Senin, 08 Februari 2016

KAUM DUAFA CINTA

JILID 2

Mereka sampai di tempat tujuan di gedung yang ada di kawasan Taman Mini, mereka turun di seberang gedungnya. Nabila merasa agak tersiksa karena harus memakai sepatu hak tinggi yang belum biasa dia pakai, untung saja pada saat menyebrang ada lengan dan bahu Baim yang nyaman, hingga dia pun bisa menyeberang dengan cukup leluasa. Hari minggu ini cuacanya sungguh sangat mendukung, tidak panas tidak juga hujan. Hanya mendung sendu, dengan suasana keliling yang sangat indah. Pepohonan hijau yang rindang serta bau rumput yang habis tersiram embun pagi, beberapa warna-warna bunga liar bermerkaran di pinggir jalan kawasan ini. Sungguh suasana yang sangat indah serta romantis jika kita sedang berdua dengan orang yang kita sayangi.
            
Di tempat resepsi, Baim dan Nabila yang kebetulan sudah sangat lapar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka berdua masing-masing amplopin limapuluh ribu rupiah dan mereka gak mau kelewat satupun stand makanan yang ada. Berhubung orang HRGA itu dapet suami yang tajir pemilik salah satu restoran besar di Jakarta, maka berbagai jenis makanan lezat ada di sini selain menu utama yang mewah ada juga sate kambing, sate ayam, ikan salmon, bakso malang, soto ayam, pasta, burger mini, aneka buah, kue-kue kecil dan minuman cola. Hampir semua antrian mereka ikuti bahkan tanpa sengaja mereka juga ikut antrian toilet, tapi pas sadar mereka saling tertawa, bahkan Nabila sampai ketawa ngakak di depan Baim. Baim sungguh benar-benar terpesona meilat tawa ngakak Nabila, hingga dunianya seperti teralihkan dan terlupakan.
            
Setelah puas makan dan saling mengobrol dengan temen-temen karyawan lainnya mereka pamit pulang. Namun pas meliat jam tangan, masih sekitar jam duabelas kurang, Nabila merasa masih banyak waktu di hari ini. Suatu kebetulan yang amat sangat luar biasa bagi Baim, karena di saat yang bersamaan pula, Baim memang ingin mengajak main Nabila sehabis kondangan dan di sela-sela bermain dan kebersamaan itu. Baim ingin menyatakan perasaannya terhadap Nabila. Selain menyiapkan perasaan dan kata-kata, Baim juga sudah sedia banyak uang untuk hari ini.
            
“Gimana kalo kita main-main dulu.” Ucap Baim.
            
Nabila menatap Baim dengan raut senyuman yang keheranan. Merasa jika Baim pandai membaca suasana hatinya.
           
“Yaa main-main kemana gitu. Ke mall atau tempat-tempat yang lain.”
            
“Mau ngapain di sana?” Tanya Nabila lebih lanjut.”
            
“Makan.” Jawab Baim singkat.
            
“Tadi kan udah makan kenyang.”
            
“Kalo gitu nonton, atau karokean, atau pijat refleksi atau yang lainnya.”
            
Nabila tersenyum dan mengiyakan ide Baim tersebut. Mereka naik taksi lagi untuk mencari mall terdekat. Setelah sampai mereka tidak lupa untuk shalat Dzuhur terlebih dahulu. Baim mengganti bajunya dengan baju kaos yang sudah dia pakai sebagai kaos dalam sebelumnya, sedangkan batiknya dia titip di tas Nabila. Sementara Nabila juga ganti memakai kaos tapi tetap dengan sepatu hak tinggi yang cukup menyiksanya. Setelah selesai shalat dan masing-masing berganti kostum, mereka menuju tempat bioskop. Sejak mendekati Nabila, Baim jadi up to date soal film, padahal sebelum kenal Nabila, Baim hampir gak pernah ke bioskop dan tidak peduli tentang film. Terakhir kali dia nonton di bioskop adalah film petualangan Sherina. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar