Senin, 08 Februari 2016

KAUM DUAFA CINTA

JILID 4

Dengan seiring berjalannya waktu. Malam ini pun sudah berakhir. Berganti fajar pagi. Dalam hati Baim selalu bertanya betapa cepatnya malam berganti. Semua yang dia impikan, menghilang saat dia terbangun. Bau harum itu, tingkah laku ceria itu semua yang dia lakukan disukai oleh Baim. Mengingatnya membuat Baim teringat akan sesuatu yang telah hilang darinya. Hari-hari terasa bahwa Baim hidup sendiri. Tidak ada apa-apa. Kecuali hujan di pagi itu. Entah sejak kapan Baim mulai membenci hujan, dia sendiripun tidak tau. Hanya satu hal yang dia tau jika hujan dan malam hari hanya mengingatkan dia pada kepingan kenangan yang ingin dia lupakan. Menangis di setiap detik dalam kegilaan dan kenangan manis itu. Baim merasa tanpa dia, siang dan malam terasa sama. Hanya sepi yang dia rasa. Banyak orang bijak berkata jika kau sedang rindu dengan orang yang kau sayangi. Kau tinggal memejamkan mata, dan orang yang kau sayangi itu akan hadir di sisimu. Baim pernah sesekali mempraktekkan hal itu, namun yang terliat malah gambaran siksa kubur.

Sudah tepat dua bulan semenjak kepergian Nabila.

Yaa...Nabila meninggalkan Baim karena dia mendapat tempat kerja yang lebih baik daripada sekedar di kantor itu, tempat kerja yang berani membayar Nabila dengan gaji yang lebih besar dan ada kepastian untuk pengangkatan karyawan tetapnya. Bukan itu saja yang membuat Baim merasa sedih dan hancur. Tidak lama, setelah bergabung dengan kantor baru. Nabila jadi susah dihubungi, balas bbm pun bukan cuma seadanya lagi rentangnya bukan menit apalagi jam melainkan hari. Awalnya Baim mengira jika Nabila butuh perhatian yang lebih darinya, maka dari itu Baim memberanikan diri untuk ke rumahnya.

Ketika tiba di rumah Nabila. Baim merasa seakan langit runtuh. Banyak mobil di sekitar rumahnya, orang-orang yang berpakaian rapih dan membawa aneka barang serta buah seperti seserahan. Baim bertanya pada orang yang menjaga parkiran.

“Kang permisi.”

“Iyaa ada apa?”

“Di rumah itu lagi ada acara apa yaa?” Tanya Baim sambil menunjuk ke arah rumah Nabila.

“Ouww...itu lagi ada acara lamaran Mas.”

Baim tersontak kaget. Ternyata ketika itu Nabila resmi dilamar oleh Managernya yang cuma terpaut empat tahun lebih tua darinya. Baim tidak percaya dengan apa yang dia saksikan, pikirannya semerawut bahkan dia sempat menempel tulisan di punggungnya dengan kata-kata ‘senggol bacok’.

Dia langsung berbalik ke rumahnya mengunci pintu di kamar dan mulai berbicara dengan tembok. Kenapaaa...kenapaaa...kenapaaa??? Saat mandi pun terdengar isak tangis dan sekali lagi kata-kata, kenapaaa...kenapaaa...kenapaaa??? Kedua orangtuanya hanya bisa saling tatap mendengar apa yang Baim katakan. Ibunya yang ketakutan bertanya kepada Ayahnya takut ada apa-apa sama anaknya, tapi dengan entang Ayahnya cuma berkata, “itu efek hormon masa muda.”
            
Begitu perasaan serta pikirannya sudah mulai kembali. Dia beranikan diri menelpon Nabila. Basa-basi menanyakan kabar, lalu langsung menanyakan apa maksud dari hubungan mereka selama ini dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa pada hari ini. Detik itu pun juga di tengah malam yang sudah mulai mencekam, Nabila mengajak Baim untuk bertemu di sebuah restoran di dekat rumahnya. Baim meliat dompetnya, ini adalah akhir bulan, persediaan uangnya sudah mulai menipis, karena untuk beli pulsa dan hadiah-hadiah kecil untuk Nabila.
            
Tapi tetap dia berangkat ke restoran itu demi mendapat kepastian dan kejelasan dari hubungan mereka dan apa benar acara lamaran yang dia liat tadi adalah untuk Nabila. Dia tidak memakai motor karena sedang dipinjam oleh saudaranya, naik angkot sama busway takut macet dan telat. Akhirnya dengan uang yang pas-pasan Baim naik taksi dari Grogol ke Pondok Gede.
            
Baim mengiyakan ajakan itu dan langsung bergegas ke restoran tersebut sampai di sana Nabila sudah menunggu di meja yang posisi berada agak pojok di dalam ruangan restoran ini. Baim segera duduk begitu menatap Nabila yang tersenyum manis di depannya. Tersenyum melihatku...merenung melihamu, lagu Peterpan yang berjudul di belakangku yang secara kebetulan sedang diputar sangat cocok menggambarkan perasaan Baim saat ini.

Baim sebenarnya langsung ingin ke pokok pembicaraan, namun Nabila memintanya dengan manja agar Baim ikut memesan makanan juga, karena dia juga baru saja memesan makanan. Bukan karena masalah uang yang menipis, Baim gak mau pesan makan karena jangankan untuk makan, di saat seperti ini, untuk bernapas aja Baim udah badmood. Tapi Baim paling gak bisa denger rengekan dari Nabila, akhirnya dia juga pesan makanan. Dia memesan iga penyet dan air jeruk. Sambil nunggu makanan tiba, Nabila bercerita dengan bangga tentang keadaan kantornya, Baim hanya bisa menyimak tanpa berani memotong pembicaraan.
           
Bagi Baim butuh keberanian untuk menanyakan hal itu. Akhirnya dengan keberanian yang sudah mulai terkumpul Baim mulai bertanya tentang arti dari hubungannya selama ini. Nabila dengan senyuman manisnya menjawab.

           
“Kita kan cuma temen.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar