Senin, 08 Februari 2016

KAUM DUAFA CINTA

DO'A BAIM


Baim menunduk dan menggelengkan kepalanya, menahan amarah dan sedihnya. Andai dia Hulk atau Thor. Mendengar ucapan ini dia pasti akan langsung marah dan mengobark abrik restoran bahkan seisi kota ini dan dibutuhkan beberapa kompi pasukan gabungan antara TNI dan Polri serta beberapa pasukan berani mati dari Rusia dan Bosnia untuk menenangkannya kembali. Sayangnya, Baim hanya manusia biasa yang cuma bisa menerima nasib buruk ini menurut persepsinya. Baim menatap Nabila tajam seolah-olah ingin menumpahkan semua uneg-uneg yang ada dalam dirinya, begitu dia siap.....dan ternyata pesenan makanannya datang.

Pelayan itu dengan hati-hati dan ramah menaruh pesanan dan pesanan dari mereka. Setelah selesai lalu kemudian pamit. Tanpa tingkah polos dan seperti tidak terjadi apa-apa Nabila memulai salah satu kebiasaannya, yaitu mencicipi makanan Baim sebelum mencicipi makanannya dan mengakui kalo apa yang dipesan Baim itu enak. Sementara Baim, bener-bener gak ngerti apa yang ada dipikiran Nabila.

“Jadi selama ini kita cuma temen?” Ucap Baim pada akhirnya.

Nabila yang sedang asik menyantap makanan Baim terhenti, dan kemudian menatapnya dengan serius dan menganggukkan kepala. Baim yang meliat itu makin sedih dan bertanya-tanya.

“Lalu apa artinya hubungan kita selama ini?”

Nabila hanya bisa terdiam dan tertunduk tanpa suara, yang terdengar hanya tarikan napasnya saja.
           
“Kita sering keluar malam bareng, jalan bareng, nonton bareng, berpegangan tangan dan hampir berciuman di tempat karaoke. Semua itu cuma teman?” Lanjut Baim menambahkan.
            
Nabila perlahan mulai berani menatap Baim dan berkata rendah.
           
“Yaa...kita memang sering kayak gitu, tapi setiap bangun di pagi hari. Aku gak pernah merasa yakin sama kamu. Apakah kamu ini benar jodoh untuk sementara atau untuk selamanya.”
            
Mendegar itu Baim menundukkan kepala, menahan sedihnya. Nabila yang meliat reaksi Baim, langsung menyentuh tangan Baim dengan lembut.
            
“Menyakitkan yaa...” Baim berusaha bicara kembali. “Jika ternyata selama ini kamu hanya melakukan apa yang kamu inginin.” Lanjut Baim.
           
“Gak usah bersedih kayak gitu. Kamu cowok baik, lucu dan pintar. Suatu saat nanti kamu pasti bisa dapetin jodoh yang pantas untuk kamu.” Hibur Nabila pada Baim.
            
“Dan betapa menyakitkannya...” Lanjut Baim dengan mata yang semakin memerah. “Betapa menyakitkannya jika seseorang yang kamu yakini, justru tidak yakin pada dirimu dan malah justru memilih hidupya dengan oranglain.”
            
Nabila semakin menggenggam erat tangan Baim dan berkata, “udaahh gak perlu sedih kayak gitu. Kita tetap berteman kok, dan bahkan kamu bukan sekedar teman, melainkan sahabat terbaikku.”
            
Baim hanya bisa berdiri, mengambil uang dari dompetnya dan meletakkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah di atas meja, lalu meninggalkannya. Nabila hanya bisa berteriak memanggil namanya. Kini terungkap semua mengapa Nabila cepat sekali berubah dan alasan mengapa hati Baim terasa sakit di tiga hari terakhir ini, yaitu karena Baim mencintai Nabila pada saat pertama kali meliatnya, sedangkan Nabila tidak menaruh hati apapun pada Baim. Ketika keluar dari restoran itu, maka seluruh kisah cinta inipun berakhir.

Terlepas sudah genggaman tangan ini. Pupus sudah kisah ini. Saat seseorang memilikimu, aku kehilangan arti diriku. Saat kau marah saat kau sedih, aku memberikan semua kebahagiaan serta senyumanku untukmu. Karena dalam senyuman manismu. Aku menemukan ketenangan. Baim tidak tau mengapa hatinya berdebar, Baim juga tidak tau mengapa airmatanya tertumpah, yang Baim rasakan hanyalah Baim seperti kehilangan separuh dari dirinya.

Baim kembali pulang dengan menaiki taksi, tapi baru separuh perjalanan argo taksi sudah lebih dari limapuluh ribu. Uang Baim habis, dia lupa membawa kartu ATM untungnya dia masih ada tiket busway yang seingat dia masih ada sisa sekitar untuk dua kali perjalanan. Dia turun di daerah Galur, untuk lanjut naik busway. Namun sebelum itu dia meliat Masjid besar di sekitar shelter itu dan teringat jika dia belum shalat Isya. Baim menghampiri rumah Allah itu dengan menyebut nama kekasih-Nya, Muhammad. Tubuh lelahnya meronta meminta untuk dikuatkan. Baim merebahkan diri di teras Masjid, melepas sepatunya, lalu menaruhnya di rak tengah teras Masjid. Kemudian, dia beranjak ke tempat wudhu, sambil berwudhu entah sadar atau tidak dia mulai berkata dalam hati. Yaa Tuhanku, mengapa cinta sesulit ini? Sebelum memasuki Masjid, Baim meliat bulan purnama yang indah di malam ini, mengingatkan dia akan masa-masa bersama Nabila. Sekarang Baim hanya ditemani oleh bulan purnama itu yang sinarnya sampai ke halaman hatinya.

Usai berwudhu dia masuk ke dalam Masjid, ruanga Masjid yang sudah kosong, maklum karena sudah hampir jam sepuluh malam. Tubuh itu hanya bisa tertunduk tanpa berani memandang kaligrafi indah bertuliskan lafadz Allah dihadapannya. Sekali lagi dalam hati dia bertanya, Yaa Tuhanku, mengapa cinta sesulit ini? Tubuh lelah itu roboh sebelum dia tegak berdiri untuk shalat, dalam bayangannya dia meliat jika.

Pria itulah yang akan memegang tangannya, berjalan bersamanya, menari bersamanya, tertawa bersamanya dan menjalin cinta dengannya. Sedangkan Baim hanya masih bisa bahagia saat sms atau bbmnya cuma dibaca oleh Nabila. Baim merasa sadar jika dia adalah orang yang salah karena berada diantara mereka. Sebelum hatinya benar-benar hancur dia memilih untuk menyingkir. Namun sudah terlambat, Baim sudah terlampau dalam mencintainya, hingga merasa tidak bisa hidup tanpanya. Sementara dia, pada saat dia benar-benar mencintai pria itu, dia akan melupakan Baim, karena sebenarnya dia memang tidak pernah mencintai Baim.

Baim sungguh tidak tau apa yang diinginkan oleh seorang wanita.

Baim juga bingung harus mengadu pada siapa jika bukan pada Tuhannya. Baim beranjak bangkit, dia berdiri tepat di belakang tempat imam, menguatkan hati dan berniat shalat Isya. Dalam pikirannya sejenak teringat rencana-rencana besar yang sudah dia rancang bersama Nabila. Menikah, memiliki anak, membesarkannya dengan bimbingan agama dan cinta kasih. Baim membaca surat Al-Fatihah dengan sangat khidmat, dilanjutkan dengan surat An-Nur ayat 26 yang mengandung arti. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” Di rakaat kedua bibir gemetar Baim membaca surat Adh-Dhuha, yang kandungan artinya bisa menenangkan Baim, bahwa Allah tidak akan meninggalkannya dan tidak pula membencinya dan Allah mendapatinya sedang dalam keadaan bingung kemudian memberinya petunjuk. Selesai shalat Baim tidak mampu lagi menahan gemuruh yang ada di dadanya, dia tumpahkan semua pengaduan dan do’a.

Aku sangat bingung Yaa Allah, aku pasti melakukan kesalahan. Itu yang membuat-Mu tak mendengarkanku. Kumohon katakan dengan caramu...tunjukkan aku jalannya... Kumohon...

Aku sudah meminta dan memohon pada-Mu. Berharap Engkau memantaskan diriku untuknya.

Aku sudah bersujud...

Aku sudah bertahajud...

Aku sudah rutin melaksanakan shalat dhuha dilanjut dengan membaca surat Ar-Rahman dan Al-Waqiah...

Namun, hamba memang tidak mengerti apa itu cinta, hamba hanya kaum dhuafa cinta. Pemuka agama-Mu yang beragam, mengatakan hal yang berbeda satu sama lain...

Ada yang bilang kalo jodoh itu harus dikejar, ada yang bilang juga tidak perlu dikejar nanti datang sendiri.

Ada yang bilang cukup memperbaiki diri sendiri.

Ada yang bilang juga harus dicari.

Ada yang bilang yang penting diniatkan untuk ibadah.

Namun ada banyak yang hanya berniat untuk uang, hawa nafsu dan jabatan, tapi bisa memiliki cinta dan menikah.

Manakah yang salah dan manakah yang benar Yaa Allah... Aku tak mengerti... Tolong dengarkan Yaa Allah, aku butuh jawaban dan pertolongan-Mu... Bukankah Kau ini Tuhan alam semesta dan Tuhan orang-orang yang butuh pertolongan... Hamba sedang kalut dan putus asa Yaa Allah... Tolonglah hamba Yaa Allah... Kumohon.. Apapun yang Kau pinta akan aku lakukan...hanya saja kabulkan permohonanku... Kumohon... Katakanlah sesuatu... Tunjukkanlah sesuatu, bukan dengan semua keheningan dan kesepian ini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar