Akhir-akhir
ini di daerah Baim sedang musim burung, di gangnya. Hampir setiap rumah pasti
ada satu atau dua kandang burung bertengger dengan di dalamnya ada seekor
burung berwarna indah dan bersuara merdu yang menyanyikan lagu-lagu surga. Berbagai
macam burung ada di sana, mulai dari burung madi hitam, burung poksay,
kakaktua, remetuk bidadari sampai burung kacang ijo. Arman ada salah seorang
teman Baim yang sedang memandikan burungnya saat itu, dengan cara disemprot
dengan alat yang sudah dirancang khusus oleh Ayahnya. Baim mendekatinya dan
bertanya apa nama burung ini? Temannya menjawab ini burung madi hitam. Kemudian
Baim bertanya lagi. Apa suaranya bagus? Dengan nada tinggi temannya menjawab
jika suara yang dihasilkan burungnya tiada duanya di kampung ini.
Kemudian
temannya balik bertanya pada Baim, “kalo lu punya burung apa?”
Baim
hanya diam
“Terus
bisa suara apa?” lanjut Arman bertanya.
Baim
hanya menjawab seadanya dengan penuh kerendahan hati, “yang gue punya hanya
burung gereja yang bisa mengucap, Assalammu’alaikum.”
Arman
terkejut mendengar perkataan Baim, dengan heran dia bertanya kembali. “Mana ada
Im, burung gereja bisa ngucap Assalammu’alaikum?”
“Adak
ok, burung gereja gue kan muallaf.”
Arman,
“#$*(^@...%+)#”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar