Rabu, 09 Desember 2015

HUMOR RELIGI : KENDARAAN MASA LALU


Sudah hampir seharian Baim menunggu mobil di sebuah halte bus. Cuaca yang awalnya mendung berubah menjadi terang, lalu berubah lagi menjadi mendung. Orang-orang yang menunggu dengannya sudah berubah-ubah, baik profesi maupun usia, tapi Baim belum juga menaiki sebuah kendaraan yang bisa mengantarkannya ke tujuan. Perut Baim yang lapar sudah kembali kenyang, karena sebelum menunggu mobil di halte ini. Baim secara cetar membahana sudah membawa bekal makan siang, lengkap dengan minuman dan cemilannya. Namun mobil yang Baim tunggu tak juga kunjung datang. Sesekali dia berdiri dan menoleh ke arah kanan untuk meliat mobil yang akan dia tumpanginya, namun berakhir dengan kekecewaan. Karena mobil yang dia tumpangi TIDAK KUNJUNG DATANG.

Siang sudah berganti malam, Matahari mulai berganti Bulan. Namun Baim dengan wajah polos dan pucatnya tetap masih menunggu di halte tersebut. Ada dua orang pedagang di sekitar situ yang dari siang tadi ternyata memperhatikan gerak-gerik Baim, yang satu adalah pedagang otak-otak dan satunya lagi pedagang minuman ringan yang memang kesehariannya mangkal di dekat halte itu. 

Pedagang otak-otak dan pedagang minuman yang merasa iba dan bertanya-tanya melihat Baim mendekatinya dan berkata.

“De’...lagi nunggu apa? Tanya si pedagang otak-otak.

“Lagi nunggu mobil Pak?”

“Mobil jurusan apa?” Lanjut si pedagang minuman bertanya.

“Saya telah melakukan kesalahan yang cukup besar terhadap seorang gadis Pak. Saya melukai perasaannya. Saya sedang menunggu kendaraan yang bisa mengantar saya kembali ke masa lalu, untuk memperbaiki kesalahan saya.”

*Sehebat apapun manusia, mereka tidak akan pernah bisa membuat kendaraan yang bisa mengantar mereka kembali ke masa lalu. Oleh karena itu bersikap bijak dan berhati-hatilah, dan ikhlaslah terhadap masa lalu. Karena salah satu alasan mengapa Allah menciptakan mata kita di depan adalah karena Allah menginginkan kita untuk selalu bisa menatap ke masa depan dengan segala harapannya*

*Yaa Allah lapangkanlah ummat Islam dari himpitan kesedihan dan kesusahan*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar